"Jadi lo udah nggak mau kuliah lagi?"
Key mengangguk sembari menyedot jus buah di gelasnya. Leo dan Key di kantin sekarang, mereka berdua meninggalkan kamar inap karena mama dan Carla pun sudah ada yang menemani dan menjaga. Mereka duduk di sebuah kursi meja kantin yang tersedia, berhadapan satu sama lain, dan pemandangannya dekat dengan jendela.
"Ini maksudnya apa?" tanya Leo sembari menunjuk jepit rambut di sisi kiri kepala Key. Itu jepit rambut yang kemarin hari Leo berikan, titipan Carla.
Key langsung menyudahkan minumnya dan tertegun sejenak. "Aneh ya?" katanya, lalu tangannya perlahan ingin melepas benda itu tanpa permisi.
Leo menahan. "Enggak. Bagus kok."
Key langsung diam, lalu mengurungkan niatnya untuk melepas benda imut tersebut. "Biar Carla seneng aja," katanya memberi alasan.
Leo terkekeh pelan. "Bagus. Lo mau gimana juga bagus."
Key diam sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Lo kenapa tiba-tiba ke sini?" tanya Leo.
Key diam sejenak, menatap sorot mata itu. "Melly yang bilang," kata Key.
Leo mengernyit. "Melly?"
Key tersenyum, lalu mengangguk. Matanya tak ia lepas dari pandangan Leo yang nampak bingung.
"Gue tadi pagi ke rumah sakit," kata Melly yang baru pulang dan melempar tas ransel kecilnya ke atas kasur.
"Ngapain?" tanya Key.
"Jenguk nyokapnya Leo."
Lantas Key terdiam, merasa hal itu tidak begitu penting.
"Lo tau nggak?" kata Melly yang beranjak duduk di atas kasur.
Key tak menjawab, hanya menoleh.
"Nyokapnya Leo nanyain lo," balas Melly. "Dia bilang, 'Key mana, kok nggak ikut kesini?' gitu."
Key hanya mengangguk-angguk mengiyakan, malas merespon apapun yang berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.
"Serius anjing," kata Melly kemudian, kesal. "Gue awalnya pikir cuma nanya basa-basi aja," lanjutnya.
"Lah emang?"
"Dia nanya tentang lo berkali-kali. Nanya lo di mana, kuliahnya gimana, blablabla," kata Melly. "Gue cuma ditanyain sedikit doang, padahal gue yang jenguk."
"Bo'ong lo."
"Seriusan. Dia lebih banyak nanya tentang lo. Dia juga bilang kalo lo belakangan ini udah jarang jenguk dia lagi."
Key diam.
"Dia ngarepin lo ada."
"Gitu, Le," kata Key kemudian, lalu hela napas. "Gue mutusin lo, gue pikir itu bakal jadi problem buat kita berdua doang. Tapi gue salah," lanjutnya.
Leo menunduk, diam.
"Maaf ya," kata Key lagi.
Leo mendongak, lalu tersenyum. "Nggak usah dipikirin."
Hening sejenak.
"Gue nggak bakal lanjut kuliah lagi," kata Key kemudian.
"Kenapa gitu?"
"Gue mau pergi jauh aja. Ke luar kota atau luar negeri. Kalo masih mungkin ya bakal gue gugurin nih bayi, kalo nggak ya yaudah, biarin aja lahir."
