Dug!
Entah sudah berapa kali aku mendengar suara pukulan semacam itu. Entah juga sudah berapa kali aku refleks memejamkan mata tepat ketika pukulan keras lagi-lagi melayang kepada Leo.
Ini yang aku benci dari kegiatannya. Bukan, bukan perkara aku yang akan risih dengan semua kekerasan itu. Namun dirinya, yang jelas pasti tidak mudah bergelut dengan lawan di atas sana.
Hampir setiap malam ia seperti ini, menelan luka-luka menyakitkan itu dengan paksa, menahan semua memar diatas memar yang bahkan belum lekas. Alasan mengapa aku tak perlu lagi bertanya akan lelahnya.
"Hai."
Aku yang memandang cemas Leo di ring itu seketika langsung mendongak, dan mendapati seorang pria dewasa yang tersenyum sangat jahil.
"Sendirian aja?" tanyanya, lalu tanpa izin ambil alih duduk disebelahku.
Aku hanya mengangguk.
"Mau minum?" tanyanya lagi, sontak membuatku menggeleng.
"Cantik-cantik gini sendirian tuh nggak baik tau, apalagi di tempat kayak gini," lanjutnya kemudian.
"Iya saya tau, udah Mas bisa pergi."
"Saya mau di sini aja. Sama kamu."
"Enggak, saya mau sendirian."
"Saya mau temenin kamu, masa nggak boleh sih."
"Nggak."
"Cantik-cantik judes ya."
"Udah Mas bisa pergi, masih banyak tempat duduk yang lain."
"Saya mau sama kamu."
"Saya nggak mau."
Perdebatan terhenti sampai situ. Tidak, lelaki itu tidak pergi. Ia justru menarik dan mencengkeram tanganku. Memaksaku untuk diam di sebelahnya. Aku mencoba menarik paksa kembali pergelanganku, meronta padanya. Namun seharusnya aku tau, di dalam dunia malam seperti ini, sebuah pertolongan bukan lagi hal yang pantas dilakukan.
"Leo!"
***
Author's POV
Entah sudah berapa kali Leo kembali menerima pukulan dari kerasnya sarung tinju itu. Dari wajah hingga tubuh, semuanya habis kena pukul. Memarnya bertambah lagi, setetes demi setetes darah pun kembali mengalir dari luka yang lama, bahkan menimbulkan luka yang baru.
Namun Leo masih terus bangkit. Melawan lelaki dihadapannya untuk selanjutnya ia pukul demi sorakan penonton dan uang bayaran. Hidup memang terkadang amat sangat kejam, saking kejamnya, kehidupan bahkan tak pernah sedikitpun berpikir bahwa kita siap atau tidak menerima beban itu.
Leo fokus dengan lawannya, namun entah bagaimana caranya, ia juga terus melirik dan memperhatikan gadisnya yang duduk di barisan belakang. Ia melihat Keyrina nampak cemas, dengan wajah cantik yang dihiasi kedua alis mengerut tanda khawatir, Leo tau itu, bahkan disela penerangan minim khas tempat tempat ilegal lainnya, Leo masih tetap dapat melihat Key secara jelas.
Bahkan saat ini, detik dimana ia melihat gadisnya digoda oleh lelaki yang nampak bahaya. Seorang lelaki dengan pakaian rapi dan nampak mapan, namun lelaki semacam itu dalam dunia malam seperti ini, adalah sosok lelaki yang justru harus dijauhkan dari wanita manapun.
Leo hampir kehilangan fokusnya, hingga kemudian lawannya meninjunya lagi tepat di wajah, membuat aliran darah segar keluar perlahan dari salah satu lubang hidung mancungnya.
