The Night We Met

161 29 10
                                        

01.45 WIB

Leo meringis sendiri ketika mengobati luka-lukanya dengan alkohol supaya steril. Ia keliatan ragu-ragu dan takut dengan berbagai obat dan kapas untuk disentuhkan ke luka-lukanya.

Adiknya sudah tidur setelah sebelumnya tadi menangis rewel minta Keyrina kembali, tapi Leo berhasil mengalihkan dengan cara membacakan dongeng tentang putri putri kerajaan, dan membuatnya mengantuk.

Setidaknya kini ia punya waktu untuk dirinya sendiri, mengobati luka-lukanya atau memasak makanan yang sudah ia tau jelas, pasti tidak enak.

Tok... Tok... Tok...

Leo diam sejenak, memastikan bahwa memang pintu rumahnya yang diketuk dari luar.

Tok... Tok... Tok...

Sepertinya memang tidak salah, ada tamu di luar sana. Tapi, siapa yang nekat datang dini hari seperti ini?

Tok... Tok... Tok...

Leo berjalan menuju pintu utama dan membuka knop tersebut. Sejenak, senyumnya mengembang ketika melihat wajah cantik yang seketika nampak ketika pintu dibuka.

"Kenapa nggak bilang mau ke sini? Kan tadi bisa dijemput," kata Leo padanya.

Tau kan siapa?

Key hanya diam, memandang sejenak wajah tampan penuh luka itu.

"Masuk Key, istirahat sana, Carla minta tidur sama lo," kata Leo lagi. "Oh iya, udah makan?" lanjutnya

Key hanya diam pada posisinya di ambang pintu. Menatap datar lelaki yang barusan memberinya perhatian kecil.

"Key, udah makan belom?" tanya Leo lagi memastikan.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"Kita putus aja, Le."

Sejenak, kalimat pendek itu membuat senyum Leo memudar.

"Kenapa?" tanya Leo parau.

Key hela napas. "Lo udah liat kan tadi," kata Key, mengarah soal Arga yang Leo liat bersama gadisnya tadi.

"Karena itu?"

Key tidak menjawab, hanya menundukkan kepala dan membuang muka, berusaha keras untuk tidak menatap mata Leo secara langsung.

Tatapan Leo nanar, memandang ke arah gadis yang dicintainya. Seseorang yang ia harap datang untuk menyembuhkan luka-lukanya, tapi justru menambah luka yang baru.

Key pun hanya diam, hanya berbicara sedikit kalimat menyakitkan tadi pada Leo, lalu bungkam setelah itu. Ia bahkan enggan untuk masuk ke dalam, berpijak di atas lantai di mana dirinya biasa berkeluh kesah dan melepas penat dari kegiatan hari-harinya yang kacau.

"Gue mau ambil barang-barang, boleh masuk?" kata Key, dibalas anggukan canggung oleh Leo.

Dengan sedikit perasaan ragu, Key akhirnya masuk dan segera menuju kamar Leo, mengambil tas ranselnya dan memasukkan semua barang-barang yang ia bawa untuk menginap sekian lama di rumah Leo.

Key terburu-buru mengemas, bahkan sama sekali tak melirik sekitaran kamar tempat dimana dirinya biasa terlelap. Kamar yang selalu menghadirkan aroma yang khas, harum yang sama seperti tubuh Leo.

Sesudahnya mengemas, ia langsung menggemblok tas itu, dan keluar dari kamar tersebut.

"Makasih ya, Le."

Kalimat itu yang Key katakan, rentetan kata yang ia ucapkan dengan sama sekali tidak memandang wajah Leo.

"Key."

Key yang sudah berjalan beberapa langkah langsung berhenti dan kembali balik badan ke arah Leo.

"Maaf," kata Leo.

Key mengernyit. "Maaf buat apa?"

"Semuanya."

Key diam. Tidak mengerti dengan hal apa yang Leo bicarakan.

"Maaf udah ngajak lo susah," lanjut Leo.

Key diam, bungkam menatapnya.

"Maaf ya gara-gara gue lo jadi ikutan repot, harusnya dari awal emang kita nggak usah bareng, lo nggak pantes hidup susah."

Key masih saja diam.

"Nanti kalo gue udah ada uang, gaji lo yang kemarin-marin gue ganti."

"Nggak usah."

"Ya kan itu gara-gara gue lo jadi kerja. Kalo bukan karena gue juga lo nyantai-nyantai aja kuliah," katanya. "Sekali lagi maaf ya Key."

"Nggak pa-pa, Le."

Hening. Pembicaraan mereka seketika terhenti. Hanya ada sorot mata yang menatap satu sama lain. Yang satu mata indah dengan bulu mata lentik yang menawan, yang satunya lagi mata lebam yang memiliki memar keunguan di sekitaran kantung matanya.

Leo kembali melempar senyum, yang entah mengapa tidak dibalas oleh Key.

"Makasih ya," kata Leo, dibalas anggukan pelan oleh gadis cantik di depannya.

Kembali, Key melangkah menjauh menuju pintu untuk segera keluar, namun ketika tangannya hendak memegang knop untuk ia tutup, Leo lebih dulu meraihnya.

"Tadi belum dijawab," kata Leo.

Key mengernyit.

"Lo udah makan?" lanjutnya.

Key mengangguk lagi. Lantas, karena tak ada lagi obrolan dan suasana yang semakin beku, Key buru-buru pergi.

Key berlari kecil dan menghilang ketika kakinya keluar dari area gerbang.

Sementara Leo, masih saja berdiri di ambang pintu, memastikan Keyrina baik-baik saja, setidaknya sampai ia melihat gadisnya itu masuk ke dalam mobil hitam yang sedari tadi menunggunya di sana.

Leo mencoba menahan perih di dadanya, melihat gadis yang rasanya baru kemarin tertawa bersamanya kini justru menghilang, meminta mengusai hubungan yang telah mereka jalani sekian lama belakangan ini.

Leo lantas menutup pintu ketika mobil hitam itu melaju menjauh. Sudahlah, biarkan dia pergi, dia akan baik-baik saja dengan orang itu, ya setidaknya tidak sesulit ketika hidup bersama Leo.

Leo balik badan setelah melepas tangannya dari knop pintu yang barusan ia tutup. Ia memandang sejenak kearah segala perabotan di dalam rumah. Kenapa rasanya begitu sepi? Padahal malam malam yang lalu tidak terasa seperti ini?

Apa mungkin karena perasaan kacau yang baru saja menerpanya? Rasanya Leo mau menangis, tapi enggan melakukannya. Untuk apa menangisi seseorang yang sudah hempas? Tidak ada gunanya kan?

Sementara itu.

Di sisi lain, Keyrina bersandar pada jok mobil yang Arga kendarai. Malam ini, mereka akan menginap di rumah Adrian tadi, mungkin sejenak akan melanjutkan party mereka, lalu jika sudah amat lelah, tepar di masing-masing kamar yang kosong.

Seiring mobil melaju, Key sempat menoleh sejenak ke belakang, melihat kembali rumah yang baru saja ia tinggalkan bersama pemiliknya di dalam. Tatapannya nanar, semacam ada rasa bersalah, tapi di sisi lain hatinya menggema, untuk apa bertahan dengannya jika yang sempurna ada tepat di sebelahmu?

Ah sudahlah.

Key pun kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Ke arah jalanan yang kian gelap dan hanya disinari cahaya kekuningan khas lampu jalanan.

Key sudah memikirkannya matang-matang, putus hubungan dengan Leo sepertinya bukan hal yang buruk. Lagipula, sepertinya lama kelamaan hubungan mereka makin monoton, Leo sibuk, tidak ada waktu untuk Key, tidak pernah ada untuk dirinya ketika Key butuh, selalu seperti itu belakangan ini.

Sepertinya Leo juga perlu fokus pada pekerjaannya, pada semua masalahnya. Jika Key pergi, setidaknya bebannya berkurang satu. Leo tak lagi harus memikirkan dengan apa Key harus makan nanti, dimana Key harus tidur, bagaimana Key harus membayar kuliah, dan lain-lain. Ya setidaknya seperti itu. Cukup saja dirinya fokus dengan urusan keluarganya sekarang.

Yang jelas menurut Key, keputusan berpisah dengan Leo adalah hal yang tepat.

***

Homesick HeartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang