Sure! You're A Fool

135 21 8
                                        

   "TOLOL!!!"

   Melly membentak Key sekeras yang ia mampu. Sementara Key yang masih setia dalam posisi duduk bersandar di dinding kini beralih memeluk lutut. Ia menunduk membiarkan Melly memaki dirinya, seakan bocah kecil yang tengah dimarahi ibunya.

   "Goblok banget lo jadi cewe! Emangnya lo nggak bilangin si Leo buat pake kondom apa?!" bentak Melly lagi.

   Key terhentak, ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap Melly yang masih saja berdiri, ingin menjelaskan lebih jauh perihal dirinya yang hamil di luar nikah karena kecerobohan. Key ingin mengatakan bahwa ini semua bukan salah Leo, tapi caci maki Melly membuatnya terus terdiam, sementara di satu sisi hatinya yang lain, Key malu untuk berterus terang bahwa ini semua perihal Arga. Key takut Melly akan menghakiminya.

   "Gue pikir lo bisa jaga diri, gue biarin lo tinggal serumah sama tuh cowok, tapi dia malah berani-beraninya mainin lo!" bentaknya lagi. "Goblok lo berdua!"

   Key meneteskan air matanya, sementara Melly terus mengatur napasnya yang makin tidak stabil akibat marah.

   "Terus sekarang tuh bayi mau lo apain?!" tanya Melly ketus.

Key menggeleng. "Gue juga nggak tau, Mel."

   "Ya lo suruh dia tanggung jawab lah!"

   "Udah."

   "Terus?"

   "Dia nggak mau."

   Melly membulatkan matanya. "Udah berani-beraninya ngehamilin lo tapi nggak mau tanggung jawab?!"

Key mengangguk.

   "Bangsat."

   Entah ini kekeliruan macam apa. Selama Key bercerita hingga detik ini, hanya Melly yang terus-terusan mengumpat dan mencurahkan rasa kesal dengan kata-kata yang kasar. Melly yang nampak jauh lebih marah dibanding Key yang menjadi korban. Ia sebagai sahabat tidak terima jika Key diperlakukan seperti ini, tapi satu sisi lain, Melly berpikir ini semua juga sebagian salah Key.

   "Makanya lo tuh kalo pacaran jaga-jaga! Goblok! Jangan mentang-mentang udah gede, jauh dari orang tua dan keluarga, lo jadi bisa seenaknya. Sekarang kalo udah gini lo bingung sendiri kan?!!" makinya lagi.

Key menangis. "Dia minta gue gugurin bayi ini."

Wajah marah Melly makin nampak tajam. "Nggak ada! Suruh dia tanggung jawab! Pengecut!"

   "Dia nggak mau, Mel. Padahal dia yang salah tapi malah dia yang lebih galak."

Melly mendengus. "Lagian salah lo juga! Lo makanya kalo mau gitu-gituan tuh mikir dua kali dampaknya apa!"

   "Gue khilaf."

   "Khilaf khilaf. Lo pikir tuh bayi bisa nguap kalo lo ngaku lo khilaf?!"

   Key mengusap wajahnya, menenggelamkan wajah itu dalam tangannya dan kembali menangis. Ia sesekali menjambak rambutnya, bahkan membenturkan kepalanya ke belakang, di mana itu terdapat dinding yang keras.

Clak!

   Melly yang baru saja tarik napas untuk kembali membentak Key langsung terdiam dan menoleh ke arah pintu kamar kos yang dibuka secara tiba-tiba dari luar.

   "Eh mami," sapa Melly. Itu bukan mamanya, hanya ibu kos yang memang biasa dipanggil 'mami' oleh seisi kos yang semuanya perempuan.

   "Ada apa sih kok kayak ribut-ribut mami denger dari tadi," kata mami, masih dengan tangan yang menyentuh knop pintu.

   "Engga ada apa-apa, mi. Tadi itu di kampus ada dosen ngeselin banget, lagi gibah berdua nih, terus kebawa kesel, hehe."

   Ibu kos dengan setelan baju daster dan roll rambut di kepalanya itu melongo sedikit ke dalam kamar dan mendapati Key yang masih saja menunduk, memastikan bahwa Melly benar-benar membawa teman, dan bukan laki-laki. Karena tempat kos milik mami ini adalah khusus perempuan dan melarang anak-anak kosnya membawa laki-laki tidak jelas. Boleh saja mengundang teman lelaki untuk bermain-main, tapi hanya sewajarnya.

   "Oh yaudah kalo gitu," kata mami. "Mami masak kangkung, mel. Kali aja kamu mau makan," tawar mami.

   "Wih mantep tuh, mi. Nanti Melly makan ya."

   Key mendongak sedikit dan menatap Melly, melihat respon sahabatnya itu tentang bagaimana dirinya bisa menjaga rahasia aib Key dari orang lain. Key yang sudah pusing dan bersedih awalnya berpikir bahwa Melly akan membencinya dan membiarkan dirinya kesusahan dengan masalah ini. Tetapi, tepat ketika Melly menyembunyikan rahasia dirinya dengan berkata bahwa ia marah-marah hanya karena perihal dosen, itu membuat Key luluh dan merasa bahwa Melly benar-benar menyayanginya sampai-sampai tak mau aibnya terbongkar.

   Key tau Melly bisa dipercaya.

   "Ke bawah aja, mami masak banyak. Itu temen kamu ajak makan sekalian."

   Begitu kata mami, lalu wanita paruh baya itu segera pergi setelah sebelumnya Melly mengiyakan ucapannya. Mami memang baik, anak-anak kos di sini tidak satupun yang tidak betah berlama-lama, semuanya nyaman, satu sama lain seperti saudara perempuan sendiri, dan mami seperti ibu mereka. Melly mengenal baik semua penghuni kos di sini, mereka semua pun sama-sama ramah dan dimanja oleh mami, sebagian dari mereka teman satu kampus Melly, sebagian lagi kampus lain, dan beberapa orang adalah pekerja yang jauh dari rumah.

   Melly kembali menutup pintu, dan menguncinya, memastikan bahwa tidak akan ada lagi orang yang masuk ke kamarnya sebelum mengetuk terlebih dahulu. Karena bagaimanapun juga, ini adalah sebuah masalah yang cukup perlu ditutupi. Melly pun beranjak duduk di hadapan Key, mulai bicara perlahan dan tanpa bentakan keras, khawatir jika ada orang yang bisa saja mendengar ini semua.

   "Pokoknya si Leo harus tanggung jawab! Lo jangan mau cuma jadi perek-nya dia!"

   "Mel, Leo nggak...

   "Apa?! Leo nggak salah?! Masih mau belain itu cowok brengsek?!!" Melly memotong pembicaraan Key.

   Key yang sudah kepayang pun akhirnya diam lagi. Sepertinya percuma membeberkan hal yang sebenarnya. Melly sudah lebih dulu hilang kendali.

   "Gue pokoknya nggak mau denger lo belain tuh cowo lagi! Orang brengsek kayak gitu perlu pelajaran, jangan cuma karena lo sayang terus lo belain mati-matian!" kata Melly lagi. Melly lantas menghela napas panjang. "Haduh, punya temen kok tolol banget!" sindirnya.

   Melly yang sudah lelah marah-marah pun menegak sedikit air dari botol minum, ia meletakkan botol itu sembarangan, lalu berbaring di ranjang, rebah menyamping membelakangi Key dan lebih memilih sibuk dengan handphonenya.

   Key tau Melly kecewa padanya. Key juga tau Melly marah padanya. Ia sebenarnya agak canggung mendapat perlakuan seperti ini, seperti diasingkan oleh sahabat baiknya sendiri, tapi satu sisi ia merasa ini pantas ia dapatkan sebagai tamparan keras bagi dirinya yang kelewatan ceroboh dengan masa muda.

   Meski Melly kelewat emosi sampai-sampai umpatan kasar berkali-kali keluar dari mulutnya, sejauh ini Key masih sadar, bahwa sekasar apapun Melly mencaci maki dirinya, ia tetap sahabatnya. Dan Melly melindungi dirinya.

***

Homesick HeartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang