22.31 WIB
Acara barbequan yang sudah direncanakan beberapa jam tadi akhirnya terjadi tanpa ada masalah. Setelah selesai mencari sepasang sepatu yang Arga mau, mereka dikabarkan oleh Gilang -salah satu teman Arga di cafe tadi- untuk segera datang ke rumah Adrian, yang juga teman Arga.
Ya memang, sebagian besar, ah salah, lebih tepatnya semua orang-orang di sini adalah teman Arga, entah itu teman satu fakultas, teman satu tongkrongan, atau bahkan teman semasa SMA, Keyrina bisa mengenal mereka karena Arga kerap kali mengajak Key ikut hangout bersamanya, dan yang teman-teman Arga tau, bahwa Keyrina adalah kekasih Arga.
Rumah Adrian besar, tidak jauh beda dengan rumah Key yang sudah ia tinggalkan berbulan-bulan lalu karena memilih ikut Leo. Orang tua Adrian sedang ada urusan kantor di luar negeri, jadi mereka bisa bebas berada di sana sampai kapanpun.
Bisa dibilang, semua teman-teman Arga adalah orang-orang berada. Tidak satupun dari mereka yang memiliki rumah hanya dua lantai, paling minim tiga lantai, mereka semua pun masing-masing punya mobil, punya kartu debit yang jumlahnya bisa membeli ratusan barang branded, punya tempat hangout langganan yang satu porsi menu minumamnya bisa melebihi uang jajan mahasiswa jalur tidak mampu.
"Ga, nih," Gilang yang tiba-tiba datang memberikan segelas minuman kepada Arga, dan satu gelas lagi untuk Key.
"Berdua mulu lo, berasa dunia punya lo doang," ledek Gilang.
"Kita-kita mah ngontrak," timpal Farah, salah satu teman wanita Arga yang juga ada di sini.
Arga hanya tertawa kecil. "Yaelah, paham lah."
Sejenak, mereka semua terkekeh. "Paham kok sob, lanjut aja," kata Adrian yang kini sibuk dengan sosis bakarnya.
Gilang lantas pergi dan kembali membiarkan Key dan Arga berdua. Lanjut, mereka kembali mengobrol sembari menyeruput minuman yang tadi diberikan Gilang.
Tidak, jangan menebak minuman itu adalah jus buah atau sirup manis dengan warna mencolok. Anak-anak jaman sekarang jika tidak mabuk tidak seru, jadi bisa menebak kan minuman apa yang Gilang berikan tadi?
"Besok kuliah?" tanya Arga basa-basi.
"Enggak tau," jawab Key sembari menyeruput minumannya. "Lo?"
"Nggak tau juga, kalo pusing banget ya enggak kayanya."
Key mengangguk paham, lalu meletakkan gelasnya di atas meja yang ada di sana, memilih lebih fokus mendengarkan Arga ketimbang semakin mabuk karena cairan itu.
"Kapan-kapan kalo anak-anak punya acara kayak gini lagi ikut aja," ajak Arga.
Key mengangguk.
"Gampang nanti gue anter jemput," timpalnya lagi.
Lagi, mengangguk.
Arga kembali menyeruput seteguk mimuman di gelasnya lagi, hingga kemudian memilih untuk meletakannya juga diatas meja.
"Lo cantik Key," katanya.
Key tersenyum. "Makasih."
Arga ikut tersenyum, terus menatap wajah Key yang entah bagaimana masih terlihat cantik disela mabuknya.
Key pun sama, terus menatap wajah tampan Arga yang kini tersenyum ke arahnya. Sejenak, dunia hening untuk keduanya, hingga kemudian , pejaman mata mereka sama-sama membuat kenikmatan semakin menjadi-jadi, dan detik berikutnya, bibir mereka bertemu.
Ciumannya halus dan lembut, bau bau alkohol masih tercium kuat, tapi itu tidak menjadi penghalang bagi mereka.
Hingga akhirnya mereka lepas, kembali menatap satu sama lain dan terkekeh sejenak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Homesick Heart
Roman pour Adolescentsit isn't easy, being so far away from home.
