Kecoak peliharaan Natto

111 63 7
                                        


___

Setelah borong es krim, gue akhirnya kembali ke dalam mobil. Sedangkan Arga? Jangan tanya dia ngapain, udah pasti bawain belanjaan dan es krim gue, lah.

Tapi saat gue masuk mobil, hal yang gue gak inginkan terjadi. Gue melihat kecoak peliharaan gue yang ngejengkang tak bergerak.

Langsung aja gue bawa keluar kecoak itu. Disaat Arga lagi ribet-ribetnya bawa tuh belanjaan yang banyaknya naujubileh, tiba-tiba gue keluar dari mobil sambil lari tergesa-gesa.

"hoss hoss..."

"Kenapa sih Nat? Jangan lari-larian gitu napa," ucapnya memperingati. Tanpa peduli hal itu, gue langsung nangis kejer.

"HUAHHH!!"

Gue berhambur ke pelukannya. Arga naro belanjaan yang banyak itu ke jalanan. Setelah itu dia ngebalas pelukan gue. Tangannya sesekali mengelus pelan rambut pirang gue.

"Cup cup cup, Natto kenapa? Cerita sama Abang Arga ya,"

"Huah!! Arga!"

"Iya kenapa, Nat?"

"Arga mati, Ga!!!"

"Ah lu mah Nat, kalo gua mati terus yang lu peluk siapa?"

Gue meregangkan pelukan kemudian membuka tangan gue yang sejak tadi terkepal kaya es kepal Milo.

"Arga, anak kecoak gue mati," ucap gue lirih.

"Inalillahi ... kasian amat tuh anak. Ibunya cuma jaga toko, ayahnya udah kawin lagi sama kecoak betina lain, dan sekarang nih anak mati, hiks jadi sedih aku."

"Jangan bercanda!"

"Iya-iya sorry, tapi lu juga sih, bodoh! Gimana tuh bocah kecoak gak mau mati coba, orang tadi aja dia dikunciin di dalem mobil."

"Hiks ... hiks ... iya sih, terus sekarang gimana, Ga?" Gue melepas pelukan setelah itu mengelap ingus kemudian di peper ke kaos yang Arga pake.

"Minta ditabok lu anjir!" teriaknya gak terima.

Gua memberi saran. "Apa kita kubur aja, ya?"

"Dih alah najis! Gue aja kalo ada kecoak mati dikamar mandi gak gua kubur tuh, malah gua siram ke saluran air. Ini mah malah mau dikubur, sekalian aja lu kafanin Nat!"

"Ide bagus," ujar gue pelan kemudian merobek ujung kaos putih yang gua pake dan membungkus kecoak itu dengan robekan baju tadi.

Arga malah menunduk kemudian berucap, "Ya Allah, kenapa di dunia ini masih ada aja manusia bodoh kaya Natto ya Allah, hamba gak kuat menghadapinya..."

Selesai ngafanin tuh bocah kecoak, gue menarik lengan Arga. "Ayo Ga, kita gali liang lahatnya! Dia harus dikuburkan dengan layak."

"Layak palamu!"

Gue udah lari ke lapangan yang kebetulan berada di sebrang supermarket itu. Arga ikut ngejar gue yang lagi celingak-celinguk mau nyebrang.

Natto dan PerjodohannyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang