Part - 17

7K 405 2
                                        

Hi kamu!
Apa kabar? Semoga kamu baik-baik aja.
Jangan lupa follow NurlinSugar768
Vote dan komennya, jangan lupa juga yah.

Jangan lupa follow NurlinSugar768Vote dan komennya, jangan lupa juga yah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Laki-laki yang menangis dihadapanmu, barangkali dia tulus mencintaimu. Tetapi laki-laki yang menangis dalam setiap doa dan sujudnya, adalah dia yang paling baik menjadi imammu untuk menuju syurga-Nya."

***


Zidan duduk di sampingku dan perlahan aku terlelap.

Zidan Pov
Melihat Syifa yang telah tertidur, aku pun mencium keningnya dan beranjak untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat.

Entah mengapa, bayang-bayang Ayesha terus muncul di pikiranku.

Waktu telah menunjukkan pukul 00.23 malam. Aku tidak bisa memejamkan mataku. Setiap aku mencoba memejamkannya, selalu saja muncul bayang-bayang masa laluku bersama Ayesha.

Syifa Pov

"Zidan," kataku terbangun dan melihat Zidan belum tidur.

"Ayesha," sahut Zidan reflect.

Seketika air mataku jatuh mendengar nama itu dan dadaku terasa sangat sesak. Ingin sekali rasanya aku pergi dari hadapan Zidan.

"Aku Syifa istri kamu Zidan bukan Ayesha!" kataku penuh penekanan yang disertai isak tangisku.

"Ashtagfirullahaladzim," ucap Zidan mengerjab ke dua matanya seraya memijat pangkal hidungnya. "As-Syifa, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyakiti kamu Syifa," tambah Zidan.


Aku hanya diam menahan sakit dan sesaknya dadaku. Kenyataan ini benar-benar menyakitkan bagiku.

Aku memutuskan untuk memejamkan mataku kembali. Zidan mencium keningku dan beranjak lagi

Zidan kembali dan mengambil posisi untuk menunaikan sholat sunnah. Aku mendengarnya berdoa sambil menangis untuk meminta maaf dan menyesali apa yang telah terjadi.

Tanpa aku sadari air mataku pun ikut jatuh menetes haru. Aku pun menyesal. Aku mengerti apa yang dirasakan Zidan. Melupakan tak semudah meninggalkan. Aku harus mendukungnya bukan menenakan atau pun menyalahkannya, karena aku pun pernah ada di posisi yang sama dengannya.

***

Satu pekan berlalu, dokter telah mengizinkanku pulang dari rumah sakit. Aku sungguh merindukan ibu dan si kembar, juga adikku Arkhan.

HALALKAN AKU [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang