Lia bergelung dengan selimutnya semenjak ia pulang sekolah, berputar kekanan dan kekiri, sesekali ia bangkit duduk ditepi ranjangnya, matanya menatap sekitar dengan pandangan jenuh.
Prang!!
Suara itu terdengar keras, membuat Lia terperanjat dari lamunannya, kemudian ia melangkah pelan menuju pintu kamarnya, membuka celah sedikit untuk melihat apa yang terjadi lagi, ia memejamkan mata saat teriakan menyahut dengan nada tinggi.
"Kamu!! Seharusnya kamu tidak ada disini, merusak seluruh hidupku!! Wanita murahan!!" Suara bariton itu terdengar begitu kencang dan keras, Lia memejamkan mata barang sebentar.
"Kamu!! Kamu yang seharusnya sadar bahwa kamu sudah berkeluarga, seharusnya kamu itu menjadi pembingbing keluarga!! Bukan selingkuh diluaran sana!!" Tangisan dan teriakan nyaring terdengar menyahut, Lia menekan kuat-kuat dadanya, menahan sesak yang sedari tadi melingkupinya.
Bulir matanya menetes, mengapa? Mengapa ini malah terjadi padanya? Salah ia apa? Sampai ia harus mendapat keluarga yang bahkan jauh dari kata harmonis, bahkan harmonis sudah asing didengar telinganya.
Tangannya bergetar menahan isak tangis yang akan keluar dari bibirnya, melirik kearah lain berusaha menghirup napas, udara seperti menjauh dari dirinya, ia jatuh luruh dalam lantai, terus mengeluarkan air mata yang masih setia menemani pipinya.
Lia tenang, harus tenang!!
Kemudian ia meraih kenop pintu, mengeluarkan kepalanya sedikit, menghela napas lega karna ia tak lagi mendengar teriakan memekakkan telinga.
"Mama?" Sapanya setelah berhadapan dengan mamanya.
Irene menoleh dan tersenyum manis, matanya masih menyisakan genangan disana, wajahnya kian menirus tampak pucat, tangannya sekurus itu seperti tak pernah makan, ia kemudian mengusap lengan putrinya mendekat, memeluknya erat dan menumpahkan kegelisahannya saat itu juga.
Lia terpejam merasakan sesak yang mamanya rasakan, ia seperti terperangkap dalam box hitam dan gelap namun ia tak dapat melarikan diri kemanapun, tangannya terus meraba sekitar box itu berharap menemukan jalan untuk dirinya keluar, suaranya seperti terbungkam batu besar hingga ia tak bisa berteriak meminta pertolongan.
Hingga tanpa sadar Lia reflex mengusap punggung belakang mamanya, berusaha menenangkan walau pada kenyataannya mereka sama hancurnya.
"Mamah, udah gak tau harus apa..hiks, mamah ga kuat buat bertahan, Li. Hiks..hiks, papa kamu terus membuat hati mamah hancur, papa udah gak cinta sama mamah, Li. Hiks..hiks.." ia masih terisak berusaha memberi tahu anaknya, Lia bingung ingin merespon apa, ia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan, hatinya seperti kosong tak berpenghuni. Yang bisa ia lakukan hanya satu, mencari jalan keluar bersama, atau berusaha bertahan pada sakit yang sama.
"Mah..aku juga sama hancurnya, mamah bisa liat sendiri bagaimana aku diperlakukan oleh ayah kan, ma? Ayah pun sama tidak perdulinya dengan aku" Lia menunduk merasa bahwa ia anak tidak berguna, hatinya benar-benar kosong, hampa menghiasi setiap inchi tubuhnya, menelan pil pahit kehidupan seperti meminum racun dan ia harus terpaksa menelan pil itu.
"Kita pergi aja gimana, mah?" Lia menyarankan mamanya untuk kesekian kalinya, namun tetap respon Irene, hanya menggelengkan kepala dan menunduk mengusap air mata.
"Mama...cinta sama papa? Mama masih ada rasa itu ke papa?" Lia menajamkan pendengarannya berusaha mendengar jawaban yang akan keluar, Irene menoleh dan langsung mengangguk sebagai jawaban, ia menatap bersalah kepada putri mereka satu-satunya.
"Maafin mama, Li. Hiks, maafin mamah" ia memegang pergelangan tangannya erat, takut bahwa Lia akan meninggalkannya.
"Kenapa mamah masih cinta dan sayang ke papa? Bukannya papa nyakitin mamah?! Buat mamah terluka, kenapa mamah masih bisa bertahan?!!" Tanpa sadar suaranya meninggi, menyuarakan rasa sakit yang selama ini ia rasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Misteri kematian Risa
HorrorRank #3 kematian, 13-7-2019 Rank #2 kematian 14-7-2019 Pemenang wattys 2019 Namaku Risa Laila, aku remaja berusia 17 tahun. Hari ini adalah ulang tahunku, Seharusnya menjadi hari yang paling menyenangkan untukku, tetapi tuhan berkata lain.. kejadia...
