Flashback on
Sesuai rencana ayah malam ini, aku melihat mereka semua siap untuk pergi keluar kota. Melihat ayah yang membantu mamah membereskan barang-barang bawaan, dan Raisa berdiri di dekat pintu mobil. Ia terus menatap ku dengan tatapannya yang begitu dalam, aku hanya tersenyum meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja.
Sekali lagi ia menghampiriku, bertanya pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya. "Beneran gamau ikut?" Ekspresinya datar bukan main, wajahnya sudah seperti manekin, putih dan datar.
Aku hanya mengganguk malas, sembari mendorong tubuhnya memasuki mobil, ia terus menatap mataku kemudian arah pandangnya terlepas setelah ayah memanggil kalo semua sudah siap berangkat.
Aku melambaikan tangan kemudian memperhatikan mobil itu kian menjauh, diriku melangkah masuk kedalam rumah dan menguncinya. Semua pembantu diliburkan, entah apa alasannya akupun tidak tahu. Aku berjalan mendekati sofa bewarna cream kecoklatan dengan meja kayu jati bewarna cokelat dilapisi kaca setebal tiga senti, ukirannya yang khas menjadikan meja itu menarik.
Aku mengambil remot tv ku, menyalakannya. Namun, fokusku bukan kearah tv. Membosankan aku hanya menggengam hp ku sebentar setelah nada notifikasi masuk.
Suatu kebetulan ada yang berkirim pesan denganku, aku bahkan hampir tidak mempunyai teman, hanya Vina sahabatku yang paling dekat denganku. Dia perempuan paling ceria sekaligus baik padaku, aku bahkan beruntung berteman dengannya.
"Ris? Kamu ada dirumah?"
Aku mengerutkan kening, Vina menanyakan pertanyaan yang sama sekali tidak penting menurutnya. Tapi tetap saja jariku mengetik membalas pesannya.
"Iya, kenapa Vin?"
Nada notifikasi balasan masuk
"Bisa kamu...datang ketaman Anggrek?"
Oke ini aneh, sangat aneh.
"Taman Anggrek? Untuk apa Vin?"
"Intinya lo dateng aja, gue mau ngomong sesuatu"
Risa hanya diam, ia mematikan hpnya kemudian berlari kekamar untuk berganti baju. Keluar dari kamar ia hanya memakai jaket tebal bewarna hitam dan celana panjang bewarna putih.
Ia menuruni tangga sambil mengetik balasan.
"Oke aku kesana"
~~~
Setelah satu jam ia menunggu membuat Risa menggerutu kesal bukan main, ini dia dikerjai atau bukan? Masa ia nunggu hampir satu jam batang hidungnya pun bahkan tidak terlihat. Ia melirik kekanan dan kekiri memastikan sekitar. Angin malam begitu dingin menerpa wajahnya, mengusik tubuhnya yang terbalut jaket tebal. Ia sekapi lagi memperhatikan sekitar, tidak menemui hal yang aneh, tapi sedikit membuatnya takut.
Srekkk...
Srekkk...
Risa menelan salivanya berkali-kali, ia menoleh cepat kesumber suara, daun bergemerisik memecah sunyi, matanya tampak tak fokus dan berlari mengikuti suara itu. Hingga bayangan itu kian lama kian mendekat, seorang dengan tinggi badan seperti laki itu berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang, ia memakai jaket hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya.
Oke sekarang Risa mulai merasakan hawa yang tidak enak, ia ingin mencoba berlari namun kakinya seperti tertahan, seperti ada orang yang sengaja menahan kakinya, ia benar-benar takut bukan main.
Tangannya kian rusuh mencari ponsel didalam tasnya, ia mengubrak-abrik isinya untuk menemukan benda persegi panjang itu, setelah menemukannya ia segera memencet nomor Vina, dengan tangan sedikit gemetar ia berusaha tetap tenang.
Sambungan nada telpon menyambung, berharap bahwa si pemilik cepat mengangkat telponnya.
"Halo..Ris? Kenapa nelpon gue malem-malem?"
Risa membulatkan matanya sempurna.
"Vina! Tadi kamu yang nyuruh aku ke taman, sekarang kamu dimana?!" Ia menjerit tertahan, berusaha menetralka detak jantunganya yang kian menggila.
"Hah? Bentar-bentar.. gue gak nyuruh lo ke taman perasaan, emangnya kapan gue nyuruh?" Nada disana justru terdengar aneh, Vina benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia bingung bagaimana kondisi sebenarnya. Lagi pula siapa yang menyuruh Risa ke taman tengah malam?
"Pliss, kamu jangan bercanda, aku ditaman itu kamu yang suruh Vina!" Risa kian gemetar, badanya lemas bukan main.
Kalo bukan Vina yang nge chat? Lalu siapa?
Flashback off
~~~
Suasana dalam bus ramai, disambut nyanyian para murid yang menggema, berbagai tawa riang menyambut satu persatu. Lia duduk disamping Vina yang tertidur dengan pulas, ia melirik sahabatnya. Baru satu tahun ia sekolah dan memiliki teman seperti Vina, ia menghela napasnya lelah, ia bingung dan capek sesungguhnya. Ia hanya tidur bahkan 3 jam, matanya tidak bisa terpejam, lalu bagaimana bisa terpejam jika kematian mengintainya? Permainan seorang pembunuh.
Lia tidak yakin jika perjalanan kali ini akan terasa menyenangkan, meski semua anak didalam bus terdengar riang ia sama sekali tidak bisa menikmatinya, ia justru tertelan dalam kasus yang bahkan belum bisa ia pecahkan.
Lia memijat pangkal hidungnya pelan, pening sekali memikirkan kasus, ia tersenyum hambar kemudian memakan permen yang ada di saku celananya. Kini ia beralih memagang handphonenya, keningnya mengerut mendapati satu notif pesan dari orang yang tidak di kenal.
" hai,, apakabar? Ahh hari ini sangat cerah bukan? Bagaimana jika hari ini kita bermain? Aku tau kamu bermain di dekat hutan Lia, kamu disana membawa banyak teman bukan? Bagaimana tebakanku? Benar? Atau justru salah? hahaha, kamu tidak perlu takut Lia, karna kamu bukan incaran pertamaku:)"
Lia membulatkan matanya sempurna, badanya menegang, pesan ini. Pasti dari sang iblis, ia benar-benar merinding bukan main, ia menengok kearah teman-temannya yang ia kira memainkan ponsel. Namun, tidak satupun dari mereka memainkan ponsel, sebagian ada yang tidur, sebagian lagi ada yang bersenda gurau bersama yang lainnya. Oh! Kepalanya menengok dengan cepat ke arah cowok jakung itu, cowok jakung itu tertidur dengan pulas, kalo bukan cowo itu lalu siapa yang mengirim pesan?
Sial!
Bagaimana pembunuh itu bisa tahu bahwa ia dan Vina akan berkemah di hutan? Bahkan ia berfikir bahwa Arka lah yang menjadi pemeran utamanya? Tidak-tidak, ia tidak mempunyai cukup bukti yang kuat, ia hanya menebak dan sesuai feelingnya saja.
Oke Lia pikiran lu harus netral, semuanya harus tenang, berfikir jernih Li..
Kemungkinan, orang yang tau dia akan berkemah pasti orang dalem, dia pasti ada hubungannya sama sekolah, dia juga tau jadwalnya. Bahkan hari ini tidak ada hujan seperti kemarin, ia pasti orang itu tlah lebih dulu mengintainya.
Perjalanan sisa setengah jam lagi, ia berusaha memecahkan misterinya, kali ini tubuhnya bergerak tidak tenang, itu membuat Vina sedikit terusik.
Hoamm
"Li? Lo kenapa? Kok gerak-gerak gitu sih? Kebelet pipis ya?!"
Lia menggelang ngasal, "ngak"
Vina mengerutkan kening, "terus kenapa gerak-gerak?"
"Aduhh Vin, diem dulu gue lagi mikir nih" nada kesal Lia semakin membuat Vina curiga.
"Yaudah lo kenapa sih?" Tanyanya kian penasaran.
"Gue lagi mikirin barang yang belom gue bawa, takutnya ketinggalan dirumah" setidaknya itu alasan berbohongnya Lia, ia tidak mungkin jujur ditengah suasana seperti ini bukan?
"Yaampun gue kira kenapa, yah kalo ketinggalan kan ada gue" vina kembali pada posisi duduknya tidak lagi menghadap teman sebelahnya. Ia memasang headset untuk mendengarkan lagu kemudian kembali ke alam mimpi.
Semudah itu dia tidur? Gua aja butuh obat buat tidur.
Decak Lia dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Misteri kematian Risa
TerrorRank #3 kematian, 13-7-2019 Rank #2 kematian 14-7-2019 Pemenang wattys 2019 Namaku Risa Laila, aku remaja berusia 17 tahun. Hari ini adalah ulang tahunku, Seharusnya menjadi hari yang paling menyenangkan untukku, tetapi tuhan berkata lain.. kejadia...
