Jeritan Malam

429 13 5
                                        


Mencapai di acara malam hari, semua murid Angkasa berkumpul mengelilingi api unggun yang membara, seperti malam yang di pikirkan mereka, pasti akan menakutkan.

Jeritan malam ...

Dari semua acara camping yang dilakukan kegiatan inilah yang akan menguras semua energi mereka, ditengah hutan luas dan pohon-pohon tinggi mengelilingi mereka, seolah banyak mata yang menatap mereka.
Dinginnya malam juga menyelimuti setiap inchi tubuh mereka di jerat malam. Kemudian angin berdesis memburu setiap pernapasan mereka, asap-asap kabut seolah membutakan penglihatan mereka.

Kini semua terbagi kedalam 10 kelompok, disetiap kelompok terdapat 3 orang jadi total semua murid ada 30 orang. Semua bersiap, setiap kelompok mempunyai anggota cowo paling sedikit satu, mereka mengikuti arahan untuk masuk hutan lebih dalam.

Lia Arunika ...

Nama itu terus saja membayangi otak Arka, fokus nya terbagi menjadi dua, ia melirik wanita datar itu sekali kemudian mengalihkannya ke Mentari, ia kini menyeringai lebih lebar menyaksikan detik-detik ketakutan di wajahnya.

Arka kemudian mengangkat jaketnya menutupi leher putihnya, ia berjalan pelan menghampiri. Lia yang menyadari kehadiran cowo itu menjauh menjaga jarak menatap sinis cowo perawakan pucat itu.

Ia bahkan tampak sekali membenci cowo berdarah campuran itu benar-benar memuakan, ia melirik sekitar mencoba tidak bertubrukan dengannya.

Arka muncul didepan wajahnya mengagetkan hanya sedikit respon tubuh Lia ia hanya menggerakkan tubuhnya mundur menghindari.

"Kok gue didiemin, Lia udah ga sayang sama aku ya?" Ia tersenyum tipis.

Lia mengernyit jijik, ia menatap sinis. "Mau lo apa? Sejak awal lo tau gue benci lo, bisa ga jauh dari hidup gue!?"

"Ga bisa dong Lia kan aku sayang sama kamu, kamu juga kenapa ga nyadar sejak awal aku liat kamu? Hayoo." Ia tersenyum teramat manis, sialand kata-kata itu bahkan membuat salur pencernaan Lia seketika bergejolak, memaksa sang pemilik untuk memuntahkannya.

"Simpen baik-baik diotak lo yang kecil itu, gue ga akan sudi deket sama lo apalagi sayang." Ucapnya dingin, wajahnya semakin datar saja.

Arka terbahak mendengar ucapan tadi, seolah itu adalah lelucon lucu yang membuat perutnya geli. Matanya menyipit semakin manis, ahh kalau saja Lia cewe normal dia pasti akan mudah jatuh cinta dengan Arka, tapi sayangnya ia bukanlah normal.

Eits tapi dia bukan penyuka sesama jenis loh, dia hanya tidak suka pembunuh sadis.

Tapi darimana dia tahu bahwa Arka yang membunuh? Toh dia kan hanya mengandalkan feeling saja.

"Tik tok tik tok bentar lagi tengah malam loh Li, kamu gamau sekelompok sama aku aja? lemayan loh kita bisa berdua aja dihutan." Tak ada henti hentinya ia menggoda cewe berwajah flat itu, ia semakin jahil saja setiap mendapatkan penolakan dari dia.

"Eh diem itu tanda setuju bukan? Pantesan dari tadi kamu diem aja."

"Bisa diem gak lo!!" Ia menaikan nadanya, muak.

"Untuk menarik perhatian kamu itu butuh usaha lebih, masa aku diabain mulu." Pura-pura sedih, ia malah semakin ingin mengeluarkan sumpah serapah.

Belum sempat Lia membuka mulut membalas perkataan Arka, ia kembali melotot mendengar namanya disebut sekelompok dengan Arka. Ia menatap kedepan dengan sorot horor seolah-olah ia akan mati dibunuh malam ini, gimana ini? Ia semakin ketakutan menjerit dalam hati paling dalam.

Misteri kematian RisaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang