SG 52= ROAD TO H-1

5.2K 179 8
                                        

"El... Gue harus kasih langsung apa titip aja ya undangannya?" Tanya Clara menimbang-nimbang.

El berdecak, "Kasih langsung aja napasi. Kenapa harus di titip-titip segala. Biar mereka tahu kalo lo udah nemuin kebahagiaan lo kalo lo bawa sendiri."

"Yaudah nanti gue bawa ke rumah Rico deh" Ujar Clara pada akhirnya.

"Nah gitu dong... Gue percaya kalo lo udah move on hahaha"

"Jadi selama ini lo ga percaya?" Clara menaikan sebelah alisnya.

"50% percaya, 50% ya sebaliknya"

"Sa ae lo kutil naga."

***
Ting tong

Clara sudah berdiri didepan rumah Enrico, dan menekan bell. Ia berkali-kali mengatur nafasnya.

"Sia— Eh Clara. Mari nak masuk" Sapa Mika-Ibunda Enrico.

Clara tersenyum tipis, "Siapa mah?" Tanya Enrico dari dalam.

"Clara, Nath." Jawab Mika.

"Ehm, tante. Clara cuma gak lama disini."

"Ah tapi ngobrolnya didalam aja" Sergah Mika cepat. Tak ada jalan lain, Clara mengangguk meski tersenyum canggung.

"Tante buatin minum. Kamu duduk dulu ya" Ujar Mika meninggalkan Ruang tamu yang disitu ada Enrico sedang menonton televisi.

"Ga usah ta—"

"Percuma. Mamah kalo udah maksa emang gitu." Celetuk Enrico. Ia mengalihkan perhatiannya. "Kenapa tiba-tiba lo dateng?"

Clara merogoh tasnya, kemudian Mika datang."Minum dulu nak" Clara mengangguk. Ia menyesap teh yang dibuatkan mika.

"Jadi tan. Kedatangan Clara kemari mau ngasih undangan buat tante dan keluarga" Kata Clara malu-malu.

"Wah undangan pernikahan. Kamu ternyata sudah mau nikah ya?" Tanya Mika sedih. Enrico juga menatap Clara perhatiannya tak luput dari hal kecil yang dilakukan Clara.

"Ehm iya tante. Clara rasa udah waktunya Clara serius sama pilihan Clara" Ia tersenyum mengejek pada Enrico.

"Tapi tante gembira dengan keputusan kamu sih. Ga kaya anak tante, gatau mau nikah kapan, balikan sama kamu gak mau nah kan keduluan orang lain"Cerocos Mika kesal karena Clara tak menjadi menantunya.

"Mamah apaan sih. Nathan gak suka mama ngomong gitu. Lagian dia bagian masa lalu nathan ga ada yang perlu di permasalahin lagi. Mau keduluan mau engga, nathan gak peduli. Itu bahagia dia, nathan dan dia bukan siapa-siapa." Ucap Enrico pada Mika.

"Nathan jaga omongan kamu"Ujar Mika geram.

"Apa mah? nathan salah di bagian mana? bukannya nathan bicara benar?"

"Sudah. Mamah ga mau debat sama kamu." Mika menggeleng.

"Tante, Rico... Clara pamit dulu deh ya.
Masih ada urusan, permisi."

"Congrats ya buat pernikahan lo nanti" Kata Enrico sebelum Clara benar-benar keluar dari pintu rumah keluarga Gipati.

***
"Gue bahagia sih sekarang lo udah nemuin kebahagiaan lo sendiri." Gumam Enrico pelan dari atas kamarnya menatap gelapnya malam.

"Besok pernikahan lo, gue harap gue bisa lihat lo senyum bahkan ketawa bahagia walaupun bukan gue yang buat itu semua."

Enrico menghela nafas pelan. Ternyata pelan-pelan mereka mulai mengikhlaskan apa yang harus dilepaskan. Mencintai tanpa dimiliki, bukannya itu memang ada kan? karena cinta itu tentang ketulusan dan keikhlasan.

Kayla♥️ is calling...

"Halo by"

'Haii. Kamu dimana? bisa ketemuan?'

"Bisa by. Mau dimana? Aku jemput apa gimana?"

'Ketemuan di cafe biasa ya. Gak Ko, aku datang sendiri aja. See u!❤️'

tut tut tut.

Telepon dimatikan sepihak oleh Kayla.
Enrico segera mengambil jaket dan kunci mobil lalu turun kebawah.
"Mah...pah... Nathan pergi dulu"

"Kemana?" Tanya Daffa.

"Ada urusan bentar. Gak lama kok" Katanya kemudian langsung menuju garasi.

***
"Sudah tunggu lama?" Ujar Enrico yang baru saja datang.

"Belum lama. Duduk dulu ko"

"Iya sayang. Tumben ngajak ketemuan malam-malam ada apa?" Tanya Enrico mengusap lembut rambut gadisnya.

"Besok pernikahan mantan kamu." Kata Kayla.

Enrico mengangguk, "Terus kenapa?"

Kayla menghela nafas, "Kamu udah bener-bener rela dia jadi milik orang lain?"

Enrico mengerutkan keningnya, "Kenapa kamu nanyain hal yang seharusnya ga perlu di tanyain? memang kenapa aku harus gak rela? aku aja gak kenal dia hanya sebatas tahu kalo dia mantan aku"

Kayla menggeleng pelan, "Kamu tahu apa yang kamu dan dia lewati. Aku tahu ingatan kamu udah kembali, gak usah pura-pura bohong lagi ko."

Enrico terkesiap, "Kamu tahu darimana?"

"Gapenting aku tahu darimana. Kamu hanya harus jawab pertanyaan aku ko" Kata Kayla menatap Enrico penuh harap.

"Aku sudah rela Kay. Sekarang aku juga punya kamu yang harus aku bahagiain. Kamu itu masa depan, dia itu masa lalu. Ga berpengaruh apa-apa." Enrico berusaha meyakinkan Kayla.

Kayla menggeleng, "Engga ko. Kamu belum rela, walaupun kamu bilangnya engga tapi mata kamu gak bisa bohong. Aku gak mau cuma jadi beban kamu, aku gak mau hidup bersama, sama orang yang masih terikat masa lalu." Kayla menghela nafas pelan, "Aku sekarang yang bakal relain kamu. Aku bakal ngelepas kamu." Kayla tersenyum akhirnya.

Enrico menatapnya geram, "Apa maksud kamu by? kamu mau kita udahan?"

Kayla mengangguk lemah, "Aku harap pilihan yang kita ambil sekarang adalah pilihan yang terbaik. Aku hanya ga mau antara dari kita tanpa sadar saling melukai."

Enrico menggeleng, "Tapi aku ga mau putus dari kamu By. Aku cinta kamu, kamu mau aku buktiin? besok aku lamar kamu didepan orang tua kamu. Aku bak—"

Kayla menaruh telunjuknya dibibir Enrico. "Cukup Ko, there is no time again, the time you find true love you. Aku bakal selalu dukung kamu. Seenggaknya walau hubungan kita berakhir, tapi kita bisa jadi sahabat kan" Kayla mengangkat kelingkingnya sambil tersenyum.

"Ini bukan keputusan yang tepat By. Jangan seperti ini."

" Aku mohon kamu janji sama aku" Akhirnya Enrico mengangguk dan menyatukan kelingking mereka.

"Lakuin sekarang sebelum kamu menyesal. Kesempatan gak datang dua kali. Kesempatan yang hadir itu nunjukin kalo Tuhan masih sayang sama kita." Kayla mengusap rambut Enrico pelan dan meninggalkan Enrico setelah itu.

Enrico diam termenung merenungi ucapan Kayla padanya. Hubungannya dengan Kayla sekarang benar-benar terakhir. Tapi apa kata Kayla benar apakah dia harus memperjuangkan masa lalunya?

***
tbc.
1 part lagi ending gaisss.
sudah siap?

Strong Girl [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang