I fall too fast, crush too hard, forgive too easily, and care too much.
*****
Alenta mengetukkan jemarinya pada permukaan meja, lalu melirik Tania yang tengah sibuk memainkan ponselnya guna menentukan filter yang cocok untuk postingan Instagramnya. Di belakang, Vera sedang sibuk mengecat kuku Alissa. Disamping kanannya, terlihat Aldi dan Aby sedang bermain game di ponsel Deny.
Semua tampak sibuk dengan aktivitasnya masing masing tanpa menghiraukan penjelasan Pak Badri, guru PKN.
Memang bukan rahasia umum lagi, ketika Pak Badri sedang mengajar seluruh murid di kelas tersebut nampak lesu dan tak menghiraukan penjelasannya.
Pak Badri merupakan guru tertua di SMA Nirwana, rambutnya memutih dan pembawaannya sudah lesu. Cara bicaranya juga lambat. Saaaangaat lambat.
Menurut riset, halal hukumnya ketika jam pelajaran Pak Badri mereka tak menghiraukan maupun mencatat. Kuncinya hanya satu. Jangan berisik.
Saat ini hanya anak anak rajin yang menyimak pelajaran. Alenta sendiri sedari tadi hanya tidur tiduran di mejanya. Ia tidak suka menulis bahkan mencatat. Tulisannya jelek. Bahkan lebih jelek daripada ceker ayam.
"Len, ntar pulang sekolah ngapain?" ucap Tania memulai perbincangan.
Alenta yang tadinya tidur diatas meja berbantalkan tangannya, langsung mendongakkan kepalanya. Raut mukanya terlihat seperti sedang berpikir. "Kalo pelatihnya ada, berarti nanti ada latihan tari." jawabnya.
"Yah, padahal gue mau ngajakin lo makan dimsum di restoran barunya om gue, yang deket Apotek Fatma itu lo." seru Tania.
"Nggak ah, nggak ada duit." jawab Alenta seadanya.
"Gratis." jawab Tania.
Alenta yang tadinya bersandar di meja mendadak bangkit bersemangat setelah mendengar kata kata gratis.
Seperti biasa, ciri khas anak sekolahan jiwa miskinnya meronta ronta ketika mendapatkan sesuatu hal yang gratis.
"Ih mauuuu, besok aja deh, Tan. Kalo besok gue bisa. Please dongg. Pleasee." bujuk Alenta sambil menggoyangkan tangan kanan Tania.
Tania tak mengiraukan permintaan Alenta. Ia malah menoleh ke belakang bangkunya tempat Vera dan Alissa duduk.
"Psst, nanti jadikan?" tanya Tania berbisik dan dijawab dengan acungan jempol dari Vera dan Alissa.
"Tann.." rengek Alenta yang tetap berusaha.
"Apasih? Nggak bisa. Gratisnya hari ini. Kalo besok udah lain cerita." jawab Tania.
"Ah lu mah nggak asik, Tan." ucap Alenta yang langsung mendorong tangan Tania.
Alenta pun kembali diposisi semula. Rasa kantuk mulai datang menghampirinya. Ia pun mulai memejamkan matanya. Hampir saja ia terlelap, tapi tiba tiba ada seseorang yang melemparkan dirinya dengan kertas yang telah diremas.
Alenta pun menoleh ke sumber lemparan tersebut. Ia mendapati Evan yang sedang menggoyangkan ponsel dengan tangannya.
Dahi Alenta berkerut, ia tidak memahami maksud Evan.
"Apa sih?" ucap Alenta melalui gerakan mulutnya tanpa disertai suara.
"Cek hp lo" ucap Evan yang mengikuti cara Alenta berbicara sambil menunjuk ke arah Alenta dan ponselnya bergantian.
Alenta memutar bola matanya, dengan malas ia mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Membuka ponsel tersebut dan benar saja Evan mengiriminya spam chat.
![ALENTARGA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/168440065-64-k118454.jpg)