Pun aku merasakan getaranmu. Mencintaiku seperti ku mencintaimu. Sungguh kasmaran aku kepadamu.
-Kasmaran, Jaz-
*****
Alenta menuruni anak tangga dengan tergesa gesa. Ia berjalan dengan terburu buru karna baru saja ia mendapatkan pesan dari Arga bahwa Arga sudah berada di depan rumahnya. Namun, alangkah terkejutnya Alenta ketika ia mendapati Arga yang sedang bermain playstation bersama Elang di ruang keluarga.
"Arga?" Arga tak menjawab. Laki laki itu tak menghiraukannya. Ia tampak serius dengan permainan yang ada di depannya.
"Argaa." panggil Alenta sekali lagi.
Akhirnya Arga pun menoleh ke arah Alenta, namun hanya sekilas lalu kembali fokus dengan permainannya. "Iya, sebentar, Len."
"Bentar napa sih, ganggu aja." sahut Elang.
Alenta melongo tak percaya. Dibanding dirinya, game lebih menarik bagi Arga. Alenta mendengus kesal. Ia pun melangkahkan kakinya kasar dan berjalan menuju sofa. Lalu menghempaskan pantatnya di atas sofa.
Alenta mendengus kesal. "Arga, ayo!" rengek Alenta yang tetap tidak gubris oleh Arga.
"Arga, jadi ngg-.." Belum selesai Alenta menyelesaikan ucapannya, terdengar suara sorakan dari Arga. Alenta menebak sepertinya Arga yang memenangkan permainan itu.
"Arga, ayo." rengek Alenta sekali lagi. Arga pun menoleh ke arah Alenta dan segera bangkit dari duduknya.
"Boleh juga permainan lo. Sekali lagi dong." pinta Elang.
"Nggak! Enak aja, orang mau pergi." ucap Alenta melarang.
"Mau kemana sih? Buru buru amat." ujar Elang sambil mengambil sepotong martabak pemberian Arga lalu memakannya sekaligus.
"Sejak kapan lo jadi tukang kepo"
Elang mengendikkan kedua bahunya, "Nggak tau. Niatnya pencitraan aja sih biar dibilang kakak yang peduli sama adeknya." ujar Elang terus terang.
Alenta mendesis pelan, memutar bola matanya lalu kembali menatap Arga.
"Berangkat sekarang, yuk!" ajak Alenta sambil mengandeng tangan Arga.
Arga mengangguk. "Saya ajak Alenta pergi dulu ya, kak." pamit Arga kepada Elang.
"Ah, iya udah bawa aja sono. Balik subuh juga nggak apa apa." ujar Elang. "Eh, tapi jangan lupa ya titipan gue."
"Sip, kak!" jawab Arga dengan diiringi acungan jempolnya.
Alenta yang tak tahu apa apa hanya bisa menoleh ke arah Arga dan kakaknya bergantian. "Titipan apa?"
Arga menggeleng, "Bukan apa apa. Ayo, keburu makin siang."
*****
"Bawa mobil?" tanya Alenta.
"Hm" Arga membukakan pintu penumpang untuk Alenta dan menutupnya kembali lalu segera masuk ke dalam mobil di balik kemudi.
Arga menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia terlihat begitu tenang. Tidak seperti Alenta yang tampak gugup sendiri. Di samping Arga, tubuh Alenta terus bergerak tak pasti.
"Kamu sakit, Len?" tanya Arga membuka suara.
Alenta menoleh ke arah Arga, ia menggelengkan kepalanya. "Kamu sejak kapan jadi sok akrab sama Kak Elang?"
Arga menggerakkan bola matanya tak pasti. Raut mukanya seperti sedang berpikir lalu ia pun mengendikkan kedua bahunya. "Nggak tahu. Sejak tadi mungkin atau justru sejak makan malam yang waktu itu."
![ALENTARGA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/168440065-64-k118454.jpg)