Tidak ada kesalahan, kekeliruan bahkan dosa sekalipun dalam sebuah perasaan. Cinta tak pernah salah, bukan?
*****
Ketika masuk ke dalam rumah, Alenta mendapati bundanya, kedua kakaknya dan adiknya yang sedang menonton televisi. Elang yang sedang berselonjoran di sofa, bundanya yang duduk di sofa sambil sesekali memainkan ponselnya sedangkan Faris dan Ryo duduk di atas karpet sambil menikmati pizza.
"Dari mana aja kamu, Len, kok baru pulang? Dari tadi bunda nyariin kamu lho." tanya Faris ketika mengetahui kedatangan adiknya itu.
"Iya, dari tadi bunda telpon kok nggak diangkat sih, nak?" tanya Widya.
"Iya, maaf bunda. Hp-nya aku matiin." ucap Alenta meminta maaf.
"Kok gitu sih, Len. Kalau ada apa-apa gimana? Gimana caranya orang lain bisa ngehubungi kamu kalau HP-nya aja dimatiin." ujar Widya.
"Maaf, bunda." Alenta menundukkan kepalanya, kalau sudah begini ia tak berani menjawab.
"Darimana aja kamu sampe semalam ini? Sama laki-laki lagi." tanya Widya.
"Dari Dufan, bunda. Tadi sebelum pergi kan Alenta sudah izin sama bunda." ucap Alenta pembelaan.
"Iya emang, tapi kan kamu nggak bilang kalau pulang semalem ini." ucap Widya.
"Iya, maaf." ujar Alenta lagi-lagi meminta maaf.
"Bener nih kamu cuma ke Dufan aja?" tanya Faris memastikan.
"Iya beneran ke Dufan tapi habis itu ke Ancol buat makan." jawab Alenta terus terang.
"Ya sudah, lain kali jangan diulangi lagi ya? Nggak baik lo masa anak perempuan pulang semalem ini." ujar Faris menasihati Alenta.
"Noh, dengerin noh. Jangan iya-iya aja." sahut Elang tiba tiba.
Alenta mendesis, ia tak menjawab perkataan Elang. Jika ia meladeni kakaknya itu, urusannya akan semakin panjang karna sudah pasti Faris dan Widya akan menceramahinya lebih panjang lagi.
"Kakak bawa apa?" tanya Ryo ketika melihat sebuah kresek putih di tangan Alenta.
Alenta pun menaruh kresek tersebut di atas meja. "Waffle dari Arga."
"Wih, boleh juga tuh anak kalo nyogok." ujar Elang dan langsung menyerbu kantong kresek tersebut. Begitu pula dengan Ryo, bocah itu dengan sigapnya membuka bungkusan waffle tersebut dan langsung menyantapnya.
"Udah ah, mau ke kamar dulu. Capek." Alenta pun melepas ikatan jaket milik Arga dan langsung membalikkan badannya, hendak menuju ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika Faris memanggil namanya.
"Itu jaket siapa, Len?" tanya Faris.
"Jaket Arga. Tadi dia numpahin minuman di celana ku terus yaudah ditutupin pake jaket punya dia." jelas Alenta.
Faris mengernyit, "Tapi itu warna nodanya kok agak beda ya?"
"Len?" panggil Widya.
"Itu kamu yakin noda minuman? Bukan noda haid kamu?" tanya Widya sambil menahan tawanya.
Alenta segera mengecek, memutar kepalanya ke belakang dan melihat dua noda merah yang berbeda di celananya. Ia pun mengingat-ingat kapan terakhir dia datang bulan.
AKHIR BULAN KEMARIN!
Alenta yang terkejut reflek menutup mulutnya yang terperangah. Sontak saja ia pun segera menutupi celananya dengan jaket milik Arga.
![ALENTARGA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/168440065-64-k118454.jpg)