18. ALENTARGA '17

28 3 0
                                        

Manusia membuatmu sakit, tuhan mengajarkanmu untuk bangkit. Manusia memberimu luka, tuhan ingin menghadiahkanmu bahagia.

*****

Alenta datang membawa handuk, kotak P3K dan secangkir teh hangat. Dengan segera, ia duduk di sebelah Arga. Ia membantu Arga untuk meminum tehnya terlebih dahulu.

Setelah itu, dengan cekatan ia membersihkan luka di tangan Arga lalu lanjut ke wajahnya yang dipenuhi luka lebam. Arga meringis ketika Alenta menyentuh sudut bibir Arga yang terluka.

Tangan Alenta menyentuh sisi pipi Arga agar tidak menjauh ketika ia mengobati luka pada wajahnya. Alenta mulai mengoleskan obat di pelipis Arga yang memar.

Selama Alenta mengobati lukanya, Arga terus memperhatikan wajah Alenta yang sedari tadi diam tak bersuara. Gadis tersebut tampak serius mengobati lukanya. Tampak sekali rasa khawatir menyelimuti raut muka Alenta.

Sungguh, sebenarnya Arga sangat malu muncul di hadapan Alenta dalam keadaan seperti ini. Malam ini, untuk pertama kalinya Arga menunjukkan sisi lain dalam dirinya. Kelemahannya, kesedihannya dan kehancurannya.

"Kok sepi, Len?" tanya Arga.

Alenta mengangkat kepalanya, membenarkan kaca matanya yang sedikit turun.

"Bunda di atas ngurusin pembukuan restorannya, Kak Faris di ruang kerjanya. Kak Elang sama Ryo nggak tau. Lagi main PS mungkin di kamar Ryo." jawab Alenta setahunya.

"Enak ya kamu, saudaranya banyak. Jadi rame." ucap Arga.

"Iya rame. Saking ramenya setiap hari bawaanya ngebacott mulu. Apalagi Kak Elang, dia selalu nyari gara gara sama aku." ujar Alenta sedikit kesal mengingat perlakuan Elang yang selalu usil padanya.

"Dia sayang sama kamu, Len." ucap Arga.

Alenta tersenyum, ia mengangguk membenarkan. Mau seperti apapun saudaranya bertingkah kepadanya, ia tahu bahwa sebenarnya mereka begitu menyayanginya. Hanya saja caranya yang berbeda beda.

"Kamu sendiri anak tunggal ya, Ga." tanya Alenta yang sekarang sedang membereskan peralatan obat obatannya karena ia sudah selesai mengobati Arga.

"Iya."

"Enak dong dimanja."

Arga tersenyum kecut. Perkataan Alenta berbanding terbalik dengan keadaannya yang sebenarnya.

"Len?"

"Ya?"

"If I show you my flaws, would you still love me the same?"

"Yes, I would. why not." ucap Alenta mantap.

"I don't care about your flaws. Whatever your problem, if you want to share with me and you trust me, then I will always be here with you." tambah Alenta.

Arga tersenyum tipis. Ia menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya. Berharap supaya dia bisa lebih tenang.

"Kamu tahu, len? Tadi saya hampir aja mau ngebunuh orang." ucap Arga yang membuat Alenta melebarkan matanya. "Saya hampir aja ngebunuh selingkuhan mama saya." lanjut Arga yang membuat Alenta semakin melebarkan matanya.

"Apa yang ada di hidup saya itu, sebenarnya nggak seperti apa yang kebanyakan orang pikirkan. Mungkin menurut orang lain, hidup saya ini sempurna karna bisa miliki segalanya."

Arga berhenti sejenak, menatap Alenta yang memperhatikan dirinya dalam dalam.

"Mama sama papa saya itu dijodohin, len. Tapi kayaknya papa nggak suka sama mama. Papa nggak pernah peduli sama mama. Bahkan sama saya pun dia juga nggak peduli. Sampai akhirnya mama mulai mencari kebahagiaan lainnya. Mama sering bawa laki laki yang lebih muda dari dia. Hampir setiap hari kerjaan saya kalo di rumah cuma nonjokin selingkuhan mama saya. Papa juga sama aja. Dia jarang pulang ke rumah. Hampir nggak pernah malah. Pulang ke rumah cuma kalo ada keperluan aja. Itu pun pasti bakal ribut sama mama. Sekarang sepertinya dia udah punya keluarga lain."

Alenta terdiam. Ia terkejut akan kenyataan yang dialami oleh Arga. Selama ia berpacaran dengan Arga, ia sama sekali tak tahu apapun mengenai latar belakangnya.

"Awalnya saya mau menahan mereka. Saya menyuruh mereka untuk bertahan sampai saya lulus nanti. Tapi ternyata percuma. Keadaan semakin runyam. Keluarga yang selama ini saya idam idamkan kayaknya nggak akan pernah terwujud." lanjut Arga.

Alenta masih terdiam. Bukannya ia tak ingin menanggapi Arga. Namun, ia ingin Arga meluapkan semua curahan hatinya.

"Saya jadi malu, Len, cerita seperti ini sama kamu."

Alenta menggeleng, ia pun meraih tangan Arga dan menggenggamnya erat. "Kenapa harus malu? Semua orang punya masalah masing masing dalam hidupnya. Sekarang coba kamu lihat aku. Kalau kamu berpikir kalau keluarga ku itu keluarga harmonis yang nggak punya masalah. Berarti kamu salah, Ga. Dulu sebelum almarhum ayahku meninggal, ayahku juga sempet selingkuh lo, Ga. Beliau menikah lagi sama perempuan lain tanpa sepengetahuan bundaku."

"Len?" Arga menatap Alenta terkejut.

"Iya. Sampai akhirnya bunda tahu. Tapi bunda nggak marah. Bunda bertahan karna bunda peduli sama anak anaknya. Bunda nggak mau anak anaknya hidup tanpa seorang ayah. Tapi ya gitu. Tiap malam bunda selalu nangis di kamarnya. Hal itu bikin kakak kakakku memberontak. Nggak ada hari kalo nggak ribut. Karna waktu itu aku masih kecil aku jadi nggak terlalu ikut campur. Pokoknya waktu itu keluargaku berantakan banget." ujar Alenta menceritakan masa lalunya.

"Aku nggak tahu ya, wanita itu emang bener bener cinta sama ayahku atau emang manfaatin ayahku aja. Tapi semejak ayah menikah lagi, nggak cuma kasih sayang ayahku aja yang berkurang tapi perekonomian keluarga ku juga jadi sulit. Dulu Kak Elang juga hampir aja bunuh diri karna saking rumitnya. Tapi akhirnya bunda berhasil ngasih pengertian sama anak anaknya supaya nggak berburuk sangka sama ayah."

"Sampai akhirnya ayah udah nggak ada, wanita itu kek ngambil semua harta warisan ayah. Aku kurang paham gimana ceritanya, tapi semua aset punya ayah jadi atas nama dia semua. Yaudah deh akhirnya bunda berjuang susah payah, ngebangun restoran lesehan buat biayain anak anaknya. Dan alhamdulillahnya sekarang keadaan kita jadi lebih baik." Jelas Alenta sambil tersenyum.

"Hidup itu emang gini, Ga. Semua orang pasti pernah merasakan masa masa kehancuran. Tergantung gimana orang itu menjalani hidupnya. Syukuri, jalani, nikmati. Dunia itu berputar kok, Ga. Yuk, semangat yuk." ujar Alenta dan melontarkan senyum terbaiknya kepada Arga.

Arga mengangguk. Ia tersenyum terharu. Hatinya tersentuh dengan penjelasan Alenta. Ia sendiri juga tak menyangka jika Alenta juga pernah merasakan masa masa sulit.

"Makasih ya. Makasih kamu udah mau dengerin cerita saya. Makasih karna kamu juga mau berbagi cerita sama saya. Makasih ya, Len." ucap Arga. Ia tersenyum dan mengelus rambut Alenta lembut.

"Kamu tahu nggak, Ga. Ada pepatah yang bilang; tidak ada nahkoda tangguh yang lahir dari laut yang tenang." ujar Alenta menggurui.

Arga terkesima. Ia terpesona dengan sosok dihadapannya. Sosok yang selalu tersenyum dan memberikan semangatnya. Ia yakin jika ia tak salah pilih menemukan orang yang dapat mengisi kekosongan hatinya.

"Oh, ya. Masalah kita yang di bioskop kemarin. Waktu itu saya dapat kabar. Oma saya sakit, len. Strokenya kambuh. Saya bingung. Saya nggak bisa berpikir jernih. Yang ada di pikiran saya cuma oma. Saya takut oma kenapa kenapa. Selama ini cuma Oma yang sayang dan peduli sama saya. Maafin saya, Len." ujar Arga mengingat kesalahannya tempo lalu.

"Nggak, Ga. Kamu nggak salah. Aku paham kok. Mangkanya mulai sekarang kita harus sering sering cerita ya. Aku janji aku bakal jadi pendengar yang baik buat kamu." ucap Alenta.

Arga mengangguk setuju.

"I believe you" Alenta pun menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan Arga.

Arga pun menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Alenta. "I believe you too."

*****

To Be Continue

ALENTARGA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang