Jatuh cinta itu sederhana, hanya saja kamu jatuhkan hatimu kepada orang yang tidak tepat. Sebab itulah cintamu rumit.
*****
Di tengah tengah pelajaran berlangsung, Arga dan kawan kawan masih saja berkutik dengan permainan bolanya. Maklum saja akhir akhir ini jarang sekali terjadi jamkos di kelas mereka.
Ditengah asyiknya permainan, tiba tiba terdengar tepukan tangan dari sudut lapangan.
"Kalian ini hebat sekali ya? Bisa bisanya kalian main basket di waktu jam pelajaran saya. Kalian pikir ini jam olahraga?" teriak Bu Imronah dengan penggaris kayu kesayangannya.
"Ah iya bu maaf, ini nih bu si Dimas ngajakin main basket. Padahal sebenernya saya tadi belajar matematika dengan saksama di kelas. Yoi, ga Dim?" ujar Reihan pembelaan.
"Ah iya bener bu" balas Dimas yang masih asik memainkan jari telunjuknya untuk menggali sesuatu di lubang hidung sebelah kanannya.
Hening sejenak.
Aksi penggalian itu pun terhenti, ia nampak memikirkan sesuatu hal.
"Lhah, kok jadi gue yang disalahin?!? Kan lo yg ngajakin tadi?!?" balas Dimas yang disertai toyoran indah di kepala Reihan.
Reihan terkekeh, betapa lemotnya kawannya yang satu ini.
Bukannya meminta maaf, Reihan malah melemparkan bola basket ke arah Dimas.
Tidak terima dengan perlakuan Reihan, dengan geram bola basket yang ada di tangan Dimas ia lemparkan kembali ke Reihan. Namun, naas bola tersebut salah sasaran dan melambung tepat di hidung Bu Imronah.
BRUK
Aura hitam pekat menjadi penguasa saat ini.
Tak ada yang berani berkutik. Amarah yang menumpuk terlihat jelas di raut muka Bu Imronah. Pelan tapi pasti penggaris kayu andalannya mulai menampakkan diri. Semua orang bersembunyi di balik sayap malaikat kecil putih bersih, a.k.a Arga.
Melihat situasi yang dibuat oleh teman temannya, Arga jadi pusing sendiri. Ia memijat pelipisnya yang sedikit pening.
"Maaf ya Bu"ucap Arga berusaha meminta maaf.
Sorotan tajam yang dimiliki Bu Imronah berhasil tergantikan dengan senyuman yang mengembang. Perlahan penggaris yang ia angkat tinggi tinggi itu mulai merendah.
"Maafkan teman teman saya bu. Bu Imronah bagaimana? Sini saya bantu" ucap Arga mencoba untuk menenangkan amarah Bu Imronah.
"Ya ampun, iya nak saya ngga apa apa. Makasih ya. Ibu Jadi bangga punya murid teladan seperti kamu. Sudah ganteng, baik, sopan lagi. " puji Bu Imronah yang dibalas dengan senyuman oleh Arga.
Arga pun membantu untuk memapah Bu Imronah menuju ruang guru, yang sesekali ia menatap teman temannya dengan kesal. Bukannya meminta maaf mereka hanya memberikan lambaian tangan sebagai isyarat bahwa Arga harus sesegera mungkin membawa guru galak itu pergi.
Setan lu semua, batin Arga sambil memutar bola matanya.
*****
Bel istirahat berbunyi.
Dengan sigap Evan berlari menuju bangku Alenta, dan dengan santainya ia menduduki meja kepemilikan Alenta.
"Ngapain lo disini?" tanya Alenta sewot.
Bukannya menjawab pertanyaan Alenta ia malah mengambil kacamata milik Alenta dan mengangkat setinggi mungkin agar sang pemilik tak bisa mengambilnya.
![ALENTARGA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/168440065-64-k118454.jpg)