Jika ingin maka perjuangkanlah, kelak juga akan kau dapati. Entah dia yang luluh atau dirimu yang mengeluh. Kita lihat saja nanti.
*****
Malam ini Dimas, Rafa dan Reihan berkumpul di rumah Arga. Mereka berencana untuk menginap di rumah Arga. Bahkan mereka sudah datang sebelum Arga pulang usai olimpiade.
Arga berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Laki laki itu menggosokkan rambutnya yang basah dengan handuk karna usai mandi. Ia melihat teman temannya yang sibuk dengan urusan masing masing. Dimas dan Reihan yang sibuk dengan playstation milik Arga. Sedangkan Rafa yang sibuk dengan ponselnya.
Arga berjalan mendekati teman temannya itu. Ia pun duduk di samping Rafa. Rafa yang sedikit terkejut dengan kedatangan Arga pun langsung menyimpan ponselnya di saku celana miliknya.
Rafa merogoh saku celananya yang lain, mengeluarkan sekotak rokok dan mengambil satu batang rokok untuk ia hisap. Ia juga menawarkan rokok tersebut kepada Arga. Namun, Arga menggeleng tak mau.
"Lo akhir akhir ini keknya adem ayem aja, nyokap lo dah tobat?" tanya Rafa yang kini menghembuskan asap rokok dari mulutnya dan membiarkan asap tersebut mengepul di udara.
Arga hanya menaikkan bahunya acuh.
Namun, jika dipikir pikir lagi. Semenjak ia lebih dekat dengan Alenta, ia jadi lebih tenang. Apalagi ketika ia sudah berbagi cerita dengan gadisnya itu. Arga merasa bahwa bebannya selama ini jadi lebih berkurang.
Memang benar, selama ini ketika Arga sedang frustasi atau sedang ada masalah ia selalu melampiaskannya dengan merokok. Namun, sekarang sepertinya ia sudah tidak membutuhkannya lagi. Arga sudah punya sesuatu yang lebih menenangkannya.
Tak lama kemudian, Bi Surti datang membawakan 4 gelas sirup dan 4 mangkuk mi instan serta beberapa gorengan sosis dan nugget. "Ayo, den makan dulu."
Dimas yang mengetahui keberadaan Bi Surti dengan seenaknya melempar stik Playstation milik Arga sembarangan dan hendak menuju mi instan yang telah disiapkan Bi Surti.
"Woy rusak PS gue gila!" pekik Arga.
"Yaelah, gitu doang. Lo kan bisa beli lagi. Kalo lo mau juga bisa kali beli sepuluh biji." ujar Dimas cengengesan yang kini sudah menyambar mi instan tersebut.
Arga yang tadinya ingin memarahi Dimas pun terdiam. Ia sedang malas menanggapi Dimas dan lebih memilih menyantap mi instan tersebut.
Begitu pula dengan Reihan dan Rafa. Rafa yang baru saja merokok kini menyesap rokok tersebut dengan tarikan dalam lalu menghembuskannya. Setelah itu, ia melumat putung rokoknya di atas asbak dan ikut menyantap mi instan tersebut.
Mereka semua melahap sajian tersebut dengan hikmat. Sampai akhirnya di piring hanya tinggal satu sosis saja yang tersisa. Dengan cepat, Dimas mengambil sosis terakhir tersebut dan dihadiahi jitakan oleh Rafa.
"Woy asu, itu kan jatah gue." ujar Rafa emosi.
"Yah, gue kira lo nggak doyan." ucap Dimas cengengesan.
"Yakan, gue maunya makan sosisnya pas minya udah abis."
"Dah terlanjur, Raf."
"Maruk lo anjing!"
"Baper amat lu segala sosis doang. Nih gue balikin nih." Dimas berakting seakan akan ingin memutahkan sosis yang sudah ia makan dan dihadiahi jitakan oleh teman temannya.
"Jorok lu, bangsat!" pekik Reihan.
"Jitak aja jitak. Nggak sekalian aja bunuh dedek bang. Bunuh dedek di rawa rawa." ujar Dimas mendramatisir.
![ALENTARGA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/168440065-64-k118454.jpg)