Jikalau harapan punya wujud yang bernama, aku akan selalu memanggilnya dengan namamu.
*****
Evan melirik kursi kosong milik Alenta. Pemilik kursi tersebut masih berada di toilet sejak kejadian di kantin tadi.
Pelajaran Fisika sedang berlangsung. Bagi Evan pelajaran ini terasa sangat membosankan karena sejatinya ia benar benar tidak paham serba serbi yang ada pada pelajaran fisika. Yang pada akhirnya pelajaran tersebut hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri baginya.
Membosankan.
"Bu" Evan mengangkat tangan.
Guru Fisika yang sedang menerangkan konsep vektor itu berhenti menulis kemudian beralih dari papan ke Evan.
"Iya, kenapa anak baru? Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya guru tersebut.
"Enggak bu, saya mau izin ke toilet. Mau cuci muka."
Guru itu terlihat berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya pertanda ia mengizinkan Evan untuk pergi ke toilet.
*****
Evan berlari menelusuri koridor sekolah yang sepi. Hanya ada satu dua siswa yang terlihat karena jam pelajaran sedang berlangsung. Sudah tiga toilet Evan periksa, namun dia tidak menemukan Alenta.
Kaki Evan menuruni satu persatu anak tangga dengan sedikit berlari, Evan bermaksud memeriksa toilet yang berada di koridor kelas dua belas. Mungkin saja Alenta ada disana.
"Hoshh" Evan mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Badannya setengah membungkuk lalu kedua tangannya bertumpu pada lutut. Keringat di dahinya bercucuran maklum saja sedari tadi Evan berlari kesana kemari dari kelas XI Ipa 2 hingga lantai 3 sekolah.
Cowok itu kembali berdiri tegak setelah sirkulasi pernafasannya kembali normal. Dahinya mengerut karena mendengar kebisingan yang berasal dari dalam toilet wanita.
"Lo pikir lo siapa hah? Ngaca woy. Cewek cupu buruk rupa pake acara keganjenan sama Arga."
Mata Evan memicing karena mendengar nama Arga disebut sebut. Ia seperti mengingat ingat sesuatu mengenai nama itu.
Tapi apa pedulinya? Evan hendak pergi karena menurutnya ia sama sekali tidak mempunyai urusan disini, itu adalah hak mereka jika ingin bertengkar. Evan tak ingin ikut campur.
"Akhhhh"
Teriakan tadi menghentikan langkahnya. Dia berhenti lalu berbalik, ia seperti mengenal suara tersebut.
"Ma-maaf kak"
Evan menajamkan pendengaran.
"Ta-tapi sa-saya emang udah pa-pacaran sama Arga"
Tidak salah lagi itu suara Alenta.
Segera Evan memutar knop pintu yang di atasnya bertuliskan Toilet wanita.
Pintu terkunci.
Evan mundur beberapa langkah mengambil ancang ancang lalu,
Brakk!
Evan berhasil membuka paksa pintu tersebut. Rahangnya mengeras ketika melihat pemandangan di dalam toilet. Tiga anak kelas dua belas sedang menjambak rambut seorang perempuan.
Dengan tangan mengepal, tanpa ragu Evan memasuki tempat yang terlarang di masuki olehnya. Sudah tidak terpikirkan jika resikonya dia akan dapat hukuman karena ini. Evan tak peduli.
![ALENTARGA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/168440065-64-k118454.jpg)