Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
"EOMMA!!"
Nafas Jungkook memburu, dia sendiri juga tengah merasa sesak yang teramat sangat. Dia terbangun dengan setelah berbagai mimpi buruk menyerangnya. Jungkook menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya teramat pelan. Jungkook mencari ketenangan. Dia baru saja dikeroyok dengan bayangan mengerikan.
"Tidurlah lagi, Kook. Suhu tubuhmu masih tinggi"
Suara yang tenang tapi juga tertahan dari Namjoon membuat Jungkook seketika menoleh padanya.
"Hyung disini. Kau besok kuliah dan bekerja, jangan memperparah kondisimu"
Namjoon meninggalkan bubur nasi hangat dan juga susu untuk Jungkook. "Hyung hanya ingin berjaga-jaga saja kalau kau belum makan sesuatu malam ini"
Bukannya menurut, Jungkook justru turun dari tempat tidur. "Hyung pulang jam berapa?" tanya Jungkook dengan nafas yang masih terengah-engah.
Namjoon belum menggapai kenop pintu kamar Jungkook, tangannya hanya menggantung di udara. Namjoon membuat Jungkook menunggu jawabannya sejenak.
"Hyung baru pulang, Kook"
Setelah itu Namjoon benar-benar keluar dari kamar Jungkook. Ia melangkah menuju ruang keluarga. Sebuah tabung kecil berisi beberapa pil berwarna putih disakunya, Namjoon keluarkan. Ia dapatkan itu pada saku jaket dan juga dibawah pakaian Jungkook saar Namjoon akan mengganti pakaian adiknya dengan yang lebih nyaman untuk dia kenakan saat tidur.
Netranya mulai berkaca dengan desakan pada kelopak mata serta hatinya untuk menangis. Namjoon menghela nafas sedalam mungkin untuk tetap tenang. Segala persepsi buruk tidak boleh menyerang sebelum dia tau persis kebenarannya.
Hatinya mulai kecewa. Kebohongan macam apalagi yang Jungkook sembunyikan.
***
Pagi menjelang. Jungkook terbangun dengan sinar matahari yang mulai masuk melalui jendelanya.
Jungkook melangkah ke depan cermin di kamarnya. Ia menatap dirinya sendiri. Luka pada lengan kiri yang begitu panjang dan menyakitkan dulu kini hanya tinggal bekasnya.
Jungkook beralih. Dia mengusap pinggang yang terdapat luka jahitan juga disana. Jika saja Namjoon jeli, itu bukan luka operasi karena kecelakaan.
Itu...luka yang lain.
***
Jungkook melihat kedua orang tuanya yang begitu gelisah dan gundah hati. Mereka tampak murung dan terlihat sedang sangat berfikir keras untuk suatu hal yang Jungkook tidak mengerti.
Telfon rumahnya berdering dan ayahnya menjawab panggilan itu. Tidak sampai pada sepuluh menit, beliau mengucapkan perintah dengan nada permohonan yang berantakan, "kemasi barang-barangmu dan Jungkook, kita pergi dari sini sekarang juga!"
Lalu tanpa membuang waktu ibunya masuk ke dalam kamar yang sebenarnya sudah Jungkook buka pintunya. Rautnya bingung tapi dia tidak merasa pantas untuk mengajukan pertanyaan saat ibunya sedang panik.
"E-eeomma"
Tangan Jungkook ditariknya menuju ruang tamu. Kedua bahunya diusap perlahan oleh ibunya, "kookie tunggu dulu sebentar, ya. Kita akan pergi. Kookie akan dapat penjelasan setelah ini"
Jungkook tidak bisa apa-apa selain mengangguk dan berharap tidak akan terjadi hal yang buruk.
Jungkook dan kedua orang tuanya sudah menyusuri jalan di gelap malam yang mulai pekat. Jungkook dan ibunya duduk dikursi belakang sedangkan ayahnya fokus menyetir dengan kecepatan tinggi.
"Eomma" panggil Jungkook ketakutan. Padahal saat ini dia sedang dalam rengkuhan ibunya.
"Kookie, mau berjanji satu hal pada Eomma dan Appa?"
Jungkook mengangguk perlahan. Dia bukan anak yang akan membangkang. Dia juga bukan pribadi yang akan mengingkari janji.
"Jika Namjoon Hyung menanyakan tentang keadaan Eomma dan Appa, Kookie harus selalu mengatakan kita baik-baik saja. Yang terjadi hari ini, kita pergi dari rumah karena keadaan, Kookie mengerti?"
"Kookie bukan anak kecil lagi, Eomma. Tolong katakan sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Eomma dan Appa harus meninggalkan rumah seperti ini?"
"Kookie, berjanjilah pada Eomma!"
Lalu sebuah dentuman begitu keras menghantam mobil mereka. Mobil yang menjadi korban tabrakan itu seketika berguling tidak tentu arah dan berakhir pada tebing.
Hanya Jungkook saja yang beruntung keluar dari mobil akibat beberapa benturan yang menghantam mereka.
Bahu kirinya sakit, ngilu, namun tidak mengeluarkan darah dan hanya bengkak. Lengan kirinya tergores panjang, perih. Beberapa kali Jungkook mendengar bunyi 'krek' pada bahu kirinya.
"Eomma! Appaa!"
Kesadarannya masih penuh, Jungkook masih bisa berteriak. Dia juga masih bisa berdiri untuk mencari kendaraan ringsek milik ayahnya.
Kepala Jungkook menggeleng beserta ketakutan yang menguasai segala sisi tubuhnya. Jungkook meraih ponsel yang untungnya hanya layarnya yang rusak.
Mobilnya meledak. Suaranya begitu keras. Jungkook sampai mengira bahwa dia tuli, tubuhnya juga harus terhempas beberapa meter akibatnya.
Saat Jungkook menjerit..
Saat dia terisak..
Suara langkah kaki dari orang bersepatu dengan jas rapi menghampirinya.
"Inilah balasan jika kedua orang tuamu selalu berbohong, anak manis"
Orang yang tampak berwibawa ini menurunkan badannya dan meraih dagu Jungkook. Cengkramannya kuat, Jungkook tidak bisa mengalihkan pandangan.
"Maka tinggal tersisa dirimu. Kau harus membayar semuanya!"
Tubuh terluka Jungkook dibawa pergi bersama dengan orang-orang berpakaian hitam yang seperti malaikat maut baginya.
***
Jungkook membuka kedua mata dengan tersenyum sendu pada bayangannya sendiri dalam cermin.
"Eomma, Appa"
Jungkook menarik nafasnya dalam selama beberapa saat untuk mengurangi desakan yang teramat menganggu dalam hatinya.
"Aku tidak bisa jujur pada Hyung. Tapi sekarang Hyung aman jadi tidak akan ada yang menyakiti keluarga kita lagi. Aku janji akan melindungi Hyung"
Sama seperti saat aku harus rela mengorbankan ginjalku saat itu...[]