Rentang Waktu Dua

416 9 1
                                        

Tetiba di terminal kecamatan langsung Sasongko dihampiri putranya Arfa. Narni tersenyum melihat putranya berlari dan mendekap bapaknya, Sasongko.

Namun entah mengapa Sasongko seperti masih memendam rasa yang tak begitu mudah ia sembunyikan. Perasaannya membuncah, teringin mengatakan di saat sekarang juga. Tapi ia masih melihat Arfa yang masih minta dipeluk olehnya.

Narni yang melihat gelagat suaminya tak seperti biasanya. Senyum datar Sasongko tampakkan kala Narni bertanya tentang keadaan rumah. Hanya senyum tanpa lontarkan satu patah kata pun. Narni lumayan bingung, kenapa suaminya mendadak kesan sedikit acuh padanya.

Lalu segera mereka pergi meninggalkan terminal. Tak lama akhirnya sampai juga mereka di rumah. Tanpa kata Sasongko terus masuk dan merebahkan diri di depan tv.

Akhirnya Narni beranikan diri bertanya pada suaminya atas sikap yang ia lakukan dan menurutnya cukup aneh.

"Mas, kamu ini kenapa? Ada yang salahkah hari ini?" tanya Narni terheran.

Namun Sasongko justru tak menjawab, ia malah sibuk mengganti chanel tv. Dan ketika ia mencari-cari entah manakah acara yang ingin ia tonton. Justru remote control menjadi sasaran empuk hantaman telapak tangannya.

Melihat hal itu, Narni tak ambil diam, ia langsung merebut remote itu. Narni seolah terpancing emosi akan sikap Sasongko yang mendadak diam dan agak acuh.

"Mas! Sebenarnya ada apa sih? Dari tadi diam? Aku tanya benar-benar, kalau kamu kenapa sama hari ini? Salah makan ya?" gusar Narni.

Sasongko pun akhirnya turut terpancing emosi karena istrinya merebut begitu saja remote yang ia pegang.

"Nar! kamu itu kok mau kurang ajar sama aku? Pake rebut segala!" pekik Sasongko.

"Lah! Kamunya! Itu remote enggak salah apa-apa jangan jadi sasaran dong! Nanti kalau rusak, gimana?" protes Narni.

"Huuuhh!" Sasongko sangat geram dan spontan mendorong tubuh Narni yang berdiri di dekatnya.

Tubuh Narni pun sempat terhuyung karena dorongan cukup kuat oleh suaminya.

"Duh gusti.... kamu kok gitu sih," dengus lirih Narni.

Setelah apa yang terjadi kemarahan Sasongko lagi-lagi tak terbendung. Ia hanya mampu berbuat itu seolah demi menutup kelemahannya. Ia merasa kalau sebagai kepala rumah tangga mampu berkuasa di atas anggota keluarga.

Sasongko membalikkan tubuhnya, semula ia ingin begitu saja tinggalkan istrinya yang hampir jatuh. Lalu ia mendekati Narni yang masih berdiri mematung dengan tatapan penuh emosi kemarahan, Sasongko menudingkan telunjuknya ke arah wajah istrinya.

"Awas kamu Nar! Kalau berani berbuat selingkuh di belakangku! Bisa jadi nyawa kalian berdua melayang!" geram Sasongko dengan nada mengancam.

"Ya Tuhan... siapa yang mau niat lakukan itu mas? Aku enggak bakal berbuat seperti yang kamu katakan!" tegas Narni yang sudah mulai menggenang air di pelupuk matanya.

"Lalu! Untuk apa yang katanya dia mengaku sahabatmu itu untuk datang  ke sini?" ujar Sasongko.

"Haaaah... dia ke rumah? Ngapain dia ke rumahku lagi? Duh... cari masalah, Danang nih." Narni membatin saja.

"Hayo! Kamu mau beri alasan apa? Dia bilang hanya ingin silaturahmi, pandai saja ngomong gitu, kalau benar? Syukurlah... lah kalau enggak?" tukas Sasongko yang terus mencecar kata-katanya itu.

"Ok gini, aku sudah hampir habis kesabaranku, aku memang pukul dia dan aku tau itu, kalau dia adalah Danang, sahabat SMPmu dulu tapi kuperingatkan kamu! Kalau dia macam-macam dengan istriku, kuhabisi semua!" ancam Sasongko.

"Eh? Mas! Kamu ini kenapa sih? Cemburu? Tapi enggak begitu caranya! Pakai acara kekerasan itu nurutmu begitu memuaskan apa?" geram Narni mendengar ocehan suaminya yang cemburu buta.

"Baiklah, silakan kalau kamu merasa puas! Kamu pikir mudah menyatukan dua pikiran berbeda tanpa bicarakan baik-baik?" jelas Narni seraya masuk kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.

"Bukkk!"

Maid In MerlionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang