22 - Blushing

64 15 14
                                        

-oOo-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


-oOo-

Alleta menguap dengan tangan yang menutupi mulutnya ketika Ambar menepuk-nepuk pundaknya keras. Alleta mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar karena merasa pusing terbangun secara terpaksa dari tidurnya barusan.

"Ish elo mah! Dasar pelor!" omel Ambar menoyor kepala Alleta pelan.

Alleta hanya mengusap kepalanya dan mengusap kasar rambutnya yang sedikit berantakan. "Nggak ada guru, Bar?" tanyanya dengan jari mengusap sudut matanya yang berair karena sesekali menguap.

Ambar mendelik kecil melihat tingkah acuh Alleta. "Gak ada. Ini kan istirahat. Untung gak ada guru yang masuk tadi!"

Nadin terkekeh pelan dan geleng-geleng kepala saat melihat Alleta yang masih saja sesekali menguap. "Lo abis gadang, Le?"

Alleta menggelengkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Nadin.

"Tapi lo kayak yang masih ngantuk?"

"Gue emang masih pengen tidur. Cuman nih si Ambyar malah bangunin."

"Ambyar-ambyar, seenak jidat lo dasar Ale-ale!" sewot Ambar merasa tak terima.

"Udah-udah. Ayo ke kantin," ajak Nadin berupaya menghindari perdebatan yang akan terjadi.

"Nggak ah, gue masih mau tidur," malas Alleta.

"Ihh! Ayo cepet! Lo harus makan biar ga ngantuk-ngantuk amat!" seru Ambar menarik tubuh Alleta untuk berdiri.

"Makan tuh kalo laper. Kalo ngantuk ya tidur!" sanggah Alleta membenarkan.

Nadin menghela nafas lelah melihat tingkah kedua sahabatnya yang masih saja memperdebatkan hal kurang penting. Kemudian ia mengambil tindakan dan menggandeng kedua lengan sahabatnya untuk melangkah menuju kantin.

Alleta yang tertarik pasrah pun akhirnya menurut walau jiawanya sangat ingin kembali tidur di bangkunya. Alleta menguap lagi, kemudian ia jadi berhenti melangkah saat teringat sesuatu.

"Bentar bentar bentar," ucapnya menghentikan langkah Ambar dan Nadin.

"Kenapa?"

"Gue mau ngambil buku kosong dulu di loker. Kalian duluan aja."

Ambar dan Nadin menggelengkan kepala mereka secara bersamaan.

"Gak ada! Nanti lo kabur lagi ke kelas!" tuduh Ambar seratus persen benar.

"Kita ikut ke loker juga. Biar barengan ke kantinnya," putus Nadin.

Alleta pun menghela nafasnya pelan. Ia selalu kesulitan untuk mencari alasan jika sedang bersama dengan kedua sahabatnya. Ia pun melangkah terlebih dahulu dengan gontai menuju tempat loker. Sementara Ambar dan Nadin mengikuti dari belakang.

Alleta membuka asal lokernya dan mengambil buku dari sana dengan malas. Namun, alisnya jadi terangkat ketika melihat suatu kotak dengan sticky notes yang tertempel dalam lokernya. Alleta mengambil kotak itu dengan kening mengerut. "Apaan nih?" gumamnya pelan.

MarshmellowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang