O3 - Harapan

190 33 80
                                        

-oOo-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-oOo-

Pukul 17.20 Alleta baru saja tiba dirumahnya. Tadi saat sepulang sekolah, Ambar mengajak Alleta pergi ke mall sebentar untuk membeli pakaian. Ambar akan kencan dengan pujaan hatinya besok.

Saat Alleta masuk ke rumah, Alleta langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa di ruang tengah. Alleta merasa sangat lelah hari ini. Mungkin karena berjalan-jalan di mall barusan, kakinya juga terasa sangat pegal.

Alleta berpikir setelah ia membersihkan diri, ia akan makan dan langsung tidur saja.

Alleta berjalan ke kamar mandi dengan handuk yang ia sampirkan di bahunya. Alleta memain-mainkan rambut panjangnya yang akan di keramas sore ini. Namun saat sedang berjalan, tiba-tiba saja kaki Alleta berhenti saat tak sengaja matanya melirik sebuah bingkai foto.

Alleta berdiri menghadap bingkai foto yang di dalamnya ada foto dirinya yang sedang duduk berdua bersama sang Mama. Alleta menghela nafas, berat. Kedua matanya redup menyendu, memandangi foto itu lekat. "Leta kangen mama. Baik-baik ya mama disana," ucapnya lirih sirat akan kerinduan.

Tiba-tiba saja sebuah bulir bening lolos dari matanya. Dengan segera Alleta menghapus jejak air mata di pipinya. Seakan Alleta tidak ingin membiarkan siapapun melihat dirinya yang sedang menangis.

Alleta segera menegak, "Hadeh! Kok gue mellow gini sihh! Yang tegar dong! Biasanya juga tahan banting!" omelnya pada diri sendiri, menyemangati. Tak lama kemudian Alleta tersenyum, "Bego banget ih!" katanya sambil tertawa sebentar lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.

Setelah Alleta selesai mandi, Alleta lanjut mengeringkan rambut panjangnya yang basah. Karena merasa sudah sangat lapar, dengan handuk di kepala Alleta pergi ke dapur berniat memasak mie instan yang praktis saja agar tidak menyita banyak waktu.

Saat membuka lemari dapur, Alleta melongo, "Lah. Kemana perginya mie instan gue?" tanyanya bergumam sendiri yang tak lama Alleta jadi menepuk jidatnya, teringat sesuatu. "Oh iya lupa belum belanja! Kan ini awal bulan."

Alleta berdecak. Dengan terburu-buru menyisir dan mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan hairdryer . "Ah belanjanya besok aja deh, udah malem. Beli mie instan ajalah buat sekarang."

Alleta beranjak ke kamarnya untuk membawa jaket dan dompet. Lalu Alleta pergi meninggalkan rumahnya menuju minimarket depan.

Saat Alleta berjalan sendirian, tak sengaja manik matanya menangkap kehadiran seorang cowok yang tidak asing. Di belokan sana berdiri cowok tinggi yang sedang menatapnya.

Alleta tau cowok itu. Dia Azean. Kapten basket SMA Nirwana. Anak dari salah seorang pengusaha sukses di Indonesia. Azean, yang merupakan salah satu cowok ganteng populer pujaan hati setiap cewek yang ada di SMA Nirwana.

Oh, ralat. Bukan setiap cewek. Tapi, sebagian cewek. Karena ada juga cewek yang tidak begitu menyukai Zean. Misalnya, Alleta. Alleta tidak suka cowok dingin dan sombong seperti Azean.

Tatapan Alleta dan Zean bertemu. Hanya beberapa detik. Alleta yang memalingkan wajah memutuskan interaksi mata mereka. Sebenarnya Alleta sedikit kepo. Sedang apa cowok itu di lingkungan sekitar rumahnya? Tapi Alleta tidak banyak berpikir dan langsung saja melanjutkan jalannya yang tertunda.

***

Saat sampai di minimarket, bohong ketika Alleta bilang dia hanya akan membeli mie instan. Nyatanya, cewek itu memborong banyak sekali camilan makanan ringan. Katanya untuk weekend besok. Kan sambil nonton film drama korea enaknya sambil ngemil. Makanya Alleta membeli banyak sekali camilan.

"Kenapa ya cewek kalo pergi belanja, niatnya beli satu, eh ngeliat ini pengen beli, ngeliat itu pengen beli. Jadinya malah beli semua. Ini nih, alasan cewek kadang suka boros. Suka kelupaan!"

Kebiasaan Alleta kambuh lagi. Alleta berbicara sendiri. Itu adalah kebiasaan yang sulit Alleta hilangkan. Mungkin karena dalam beberapa tahun belakangan ini Alleta tinggal sendiri, makanya Alleta sering berbicara dan bergumam sendiri.

Karena kebiasaannya itu juga, tidak jarang banyak orang yang mengira Alleta aneh. Lebih parahnya lagi, ada yang beranggapan bahwa Alleta gila. Tapi Alleta tidak menghiraukan itu. Alleta selalu keukeuh dengan prinsipnya. Mana ada orang gila yang cantik seperti gue!

Alleta memang benar. Alleta cantik. Bahkan bisa dibilang sangat cantik. Membuat orang-orang yang melihat kebiasaan Alleta jadi berkata "Cantik-cantik kok aneh." Alleta tidak masalah dengan perkataan itu. Alleta datar-datar saja dengan wajah tenangnya itu.

Saat sedang memilih-milih minuman botol, seseorang memasukkan satu pack marshmellow warna-warni kesukaan Alleta kedalam keranjang yang Alleta jingjing.

Alleta refleks tersenyum, "Oh iya! Gue lupa beli marshmel-" Alleta tidak melanjutkan perkataannya. Alleta baru tersadar akan suatu hal. Alleta membeku dan lalu mengatupkan bibirnya yang sempat ternganga tadi. Dengan cepat Alleta menolehkan kepala. Nafas Alleta tercekat. Tidak ada siapapun orang di dekatnya. Alleta berfikir, siapa yang memasukkan satu pack marshmellow kesukaannya barusan?

Alleta mengusap wajahnya frustasi. Merasa bodoh mengapa baru tersadar. Jika Alleta tersadar sejak tadi, mungkin Alleta akan bertemu lagi dengan Dia.

Alleta menghela nafas panjang dengan mata terpejam sebentar. Jika memang kamu ada di dekatku, kenapa kamu tidak menampakkan diri? Apakah kamu tidak merindukanku seperti aku merindukanmu?. Alleta hampir menangis. Matanya sudah berkaca-kaca. Yang kemudian ia kembali tersadar sedang dimana dirinya berada.

Alleta menegak. Mengusap pipinya sekilas, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dengan hati yang sedikit berat, Alleta berjalan menuju meja kasir untuk membayar barang belanjaannya.

Tapi seseorang menubruk keranjang Alleta pelan. Membuat Alleta hampir saja jatuh terhuyung.

Saat Alleta menolehkan kepala untuk protes, mulutnya yang terbuka kembali menutup. Alleta tidak mau berurusan dengan orang yang menabraknya barusan. Alleta tidak mau berurusan dengan Azean Candra Winata.

***

Setelah selesai membayar barang belanjaannya, Alleta menutup pintu minimarket dan kembali menghela nafas panjang. Alleta lalu beranjak meninggalkan tempat itu menuju rumahnya.

Di bawah langit yang sudah gelap, Alleta berjalan dengan tatapan kosong. Untung saja Alleta tidak terjatuh. Karena Alleta sama sekali tidak memperhatikan jalannya.

Alleta malah terus saja memikirkan tentang kejadian tadi. Siapa yang memberikannya marshmellow itu? Siapa? Siapa? Alleta terus bertanya-tanya dalam hatinya. Hingga tak terasa ia sudah sampai di depan pagar rumahnya.

Alleta mengunci pintu pagar rumahnya. Saat tiba di depan pintu dan merunduk untuk melepas sepatu, Alleta menemukan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado bermotif pelangi. Alleta tersenyum kecil. Segera merogoh ponsel di saku jaketnya. "Oh iya, ini tanggal 2," ucap Alleta lirih diiringi senyum simpul.

Alleta mengambil kotak itu, dan memeluknya. Alleta mendongakkan kepala. Menatap langit gelap yang indah sambil bergumam pelan. "Bagaimana aku bisa pergi dan berhenti berharap, jika kamu terus saja memberi harapan seperti ini."

Tanpa Alleta ketahui, seseorang tengah tersenyum simpul melihat Alleta yang sedang mendongakkan kepala sambil memeluk kotak pemberiannya.

-oOo-

MarshmellowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang