03. Hujan

753 93 13
                                        


Sejak tadi, tak bosan-bosannya bagi shuhua memandangi renjun yang sedang fokus mengerjakan tugas kuliahnya diruang tengah satu.

Sekedar info saja, rumah chenle alias kostan renjun ini memiliki dua ruang tengah dan satu ruang tamu. Besar memang, selain besar rumah satu lantai ini sangat nyaman dan selalu terasa hangat. Meski penghuninya cowok semua, tapi rumah ini selalu bersih dan terawat.

Yah, itu semua karena ada renjun sih. Nggak tau apa yang terjadi kalau nggak ada renjun. Mungkin akan mirip kapal pecah.

Ruang tengah satu, cuma ruang tengah biasa yang diisi dua sofa panjang, satu meja dan rak buku. Sementara ruang tengah dua tempat yang sering digunakan penghuni rumah untuk bersantai atau sekedar menonton tv.

Dihalaman belakang juga ada kebun kecil-kecilan tempat jaemin menanam bunga dan beberapa pohon-pohon kecil semacam cabe, tomat, strawberry dan yamg lainnya.

Disamping kanan rumah ada garasi mobil yang lumayan luas, mampu nampung sekitar empat mobil. Sementara disamping kiri ada kolam renang yang tak begitu besar, ada gazebo juga untuk tempat bersantai, serta ada ayunan disampingnya.

Biasanya tempat haechan main gitar sambil menggalaui hidupnya sendiri.

Saking lamanya memandangi renjun, shuhua sampai mengantuk. Mata cewek itu mulai sayu, shuhua berusaha agar tetap tersandar.

Dan saat kedua matanya hampir tertutup, renjun menegakkan tubuhnya merapihkan buku-buku yang berserakan diatas meja. Shuhua mengerjap tak jadi mengantuk.

Renjun menoleh ketika shuhua mengulas senyum lebar, namun renjun tahu persis kalau pacarnya itu sedang menahan kantuk. Kentara dari matanya yang masih sayu.

Renjun berpindah duduk keatas sofa, sementara shuhua masih duduk diatas karpet. Memandangnya kebingungan.

"Sini" renjun menarik lembut tangan shuhua, menuntut cewek itu agar duduk disamping.

"Kenapa?" tanya shuhua.

Renjun menepuk-nepuk pahanya "tidur disini. Kamu ngantuk kan?" Katanya.

"Oh nggak kok" shuhua segera menggeleng.

"gak usah bohong, Mata kamu tuh keliatan banget kamu lagi ngantuk" tunjuk renjun.

Shuhua menggeleng "sekarang udah gak ngantuk kok"

Renjun memandangnya datar, lalu berujar dengan ringan, namun suaranya terdengar tajam dan menyeramkan ditelinga shuhua. "Tidur atau aku tidurin"

Shuhua melotot, refleks memukul lengan renjun "ih mulutnya!"

Renjun malah tersenyum tipis manarik shuhua agar bersandar dibahunya. Tangannya mengelus lembut rambut shuhua.

Shuhua hanya mampu tersenyum dengan nafas tertahan, jantungnya berdetak lebih cepat. Pelukan renjun selalu hangat, shuhua selalu suka perasaan ini, ketika renjun mengelus surainya dengan lembut dan membiarkannya bersandar dibahunya hingga pegal dan kebas.

Niatnya agar shuhua tidur dibahunya, tapi jangankan tidur mengantuk pun tidak. Bagaimana mau tidur kalau jantungnya saja sudah ajep-ajep.

"Jun" ucap shuhua pelan.

"Hm? "

Duhh gak kuat shuhua tuh kalau renjun udah mode sabyan.

"Aku... Gak jadi ngantuk" celetuk shuhua dengan wajah polosnya.

Renjun menunduk, melepas pelukannya berganti menatap shuhua.

"Kok gitu? Kamu sakit?" tanya renjun, menangkup kedua pipi shuhua yang memerah.

Apology✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang