22. Waiting

507 71 18
                                        

"Bang yaa please... Sekali ini aja kok janji."

Doyoung mendecak menatap shuhua datar, "kenapa nggak si renjun nya aja yang suruh kesini." Ujarnya kesal.

"Ya kalo renjun kesini ketauan dong."

"Yaudah bagus, biar sekalian dia tau kalo pacarnya lagi sakit, biar dia gak mikirin kuliahnya doang. Punya pacar kok gak ada gunanya banget." Dumelnya.

"Abang ih, jangan nyalahin renjun, kan aku yang minta supaya renjun jangan tau kalo aku sakit."

"Dia gak salah apa-apa bang." cicit shuhua.

Doyoung mendecak samar, "iya abang tau, tapi seenggaknya dia peka dikit lah kamu udah dua hari gak sekolah. Gak ketemu dia juga, harusnya dia penasaran dong kenapa pacarnya ngilang gak ada kabar, ini malah anteng aja."

"Renjun sibuk—"

"Skripsi? Basi dek, abang juga pernah ngalamin sibuk sama skripsi tapi abang selalu nyempetin waktu buat keluarga, buat temen juga." Tadinya doyoung mau bilang buat pacar juga, cuma dipikir lagi ia belum punya pacar semenjak putus dengan salah satu maba empat tahun lalu.

Shuhua mencebik kesal setiap doyoung menjelek-jelekan dan menyalahkan renjun, padahal renjun tak salah apapun. Shuhua sendiri yang meminta pada semua orang agar renjun tak mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Tujuannya? Agar renjun bisa fokus pada skripsi dan segala tetekbengeknya agar mimpinya segera tercapai.

Shuhua tak mau hanya karena ingin dapat perhatian dari renjun ia merusak fokus laki-laki itu, yang bisa saja mengacaukan mimpi yang sudah renjun tata sedemikian rupa.

Melihat sang adik cemberut, doyoung hanya bisa menghela pasrah. Shuhua memang penurut, tapi dibeberapa waktu ia akan keras kepala apalagi jika bersangkutan dengan pacar kesayangannya.

"Yaudah kamu boleh ketemu sama renjun, tapi jangan lama-lama. Inget kondisi kamu masih lemah." Pesannya.

Barulah senyum manis terukir dibibir shuhua, "makasih bang hehe."

Doyoung hanya mendecih seraya membantu shuhua memakai hoodie, topi, serta masker lalu menuntunnya keluar menuju pintu lift.


•••


Renjun yang tengah mengendarai mobil milik chenle tersenyum menatap kotak hadiah disampingnya. Tadi, renjun menghubungi shuhua memintanya bertemu ditaman dekat rumahnya. Tempat biasa mereka menghabiskan waktu berdua, selain rumah shuhua dan kostannya.

Renjun berniat memberi shuhua kejutan dengan hadiah kecil yang telah ia siapkan, karena beberapa hari ini renjun sangat sibuk dengan skripsi nya apa lagi sebentar lagi renjun wisuda sehingga waktunya untuk shuhua semakin berkurang. Karena itulah renjun mengajak shuhua bertemu malam ini sekaligus permintaan maaf renjun karena lama tak menghubungi shuhua.

Setelah hampir sampai ditempat yang sudah renjun janjikan tiba-tiba saja ponselnya bergetar cukup lama menandakan ada panggilan masuk.

Dengan satu tangan masih memegangi setir kemudi renjun meraih ponselnya, menempelkannya ketelinga.

"Halo?"

Renjun mengerutkan dahinya ketika tak ada jawaban dari sebrang sampai beberapa puluh detik kemudian sebuah suara terdengar.

"Hiks..."

Renjun makin mengerutkan dahinya mendengar isakan tertahan, "halo? Lin lo kenapa?" tanyanya.

"K-kak renjun.."

"Lin lo kenapa nangis?" renjun mulai panik.

"Kak tolongin aku, rumah aku dirampok. Aku—"

Apology✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang