"Mau pulang sekarang gak sha?" tanya renjun sambil duduk disamping shuhua setelah ia selesai mengajar.
"emang udah selesai lesnya?" tanya shuhua diangguki renjun.
"Udah dong, udah pada pulang kok"
"yaudah pulang sekarang aja. Nanti malem kan keluar lagi" ucap shuhua.
Renjun mengangguk, tangannya mengelus rambut shuhua "maaf ya, belakangan aku jarang ada waktu buat kamu"
Shuhua tersenyum, meraih tangan renjun yang ada diatas kepalanya, mengelus tangan itu dengan lembut "gak papa. Aku ngerti kok, kamu sibuk kayak gini kan nyari uang biar kamu bisa capai cita-cita kamu tanpa ngerepotin orang tua kamu kan?"
Renjun tersenyum tipis, mengangguk membenarkan ucapan shuhua "lagian kamu kan lesnya disini jadi aku masih bisa ketemu kamu, bisa main sekaligus mantau kamu"
Renjun terkekeh "kenapa dipantau? Takut aku macem-macem ya?" renjun niatnya bercanda tapi malah ditanggapi serius oleh shuhua.
"Iya, aku takut kamu macem-macem sama adik tingkat kamu"
Tawa renjun pecah, cowok itu menangkup kedua pipi shuhua agak kencang bikin bibir shuhua manyun lucu, renjun senyum memandangi wajah menggemaskan shuhua.
"Kenapa sampe mikir kayak gitu coba?" Tanyanya.
Renjun hampir tertawa lagi saat shuhua bicara dengan mulut manyun "soalnya adik tingkat kamu cantik-cantik, imut-imut. Yah pokoknya perfect deh, mereka juga lebih dewasa dari aku yang cuma bocah sma ini" katanya.
"Kamu gak usah mikir yang macem-macem, kita pacaran udah 2 tahun. Kamu udah hafal sifat aku kayak apa begitupun sebaliknya aku hafal sifat kamu kayak apa"
Renjun melepas tangannya dari wajah shuhua, berganti menggenggam tangan shuhua "yang ada dipikiran aku sekarang itu gimana caranya dapet uang dan kuliah yang bener supaya bisa bikin orang tua dan pacar aku bangga"
"Lagi pula bagi aku gak ada yang lebih baik dari seorang shuhua. Cuma shuhua yang terbaik buat renjun"
"aku sayang renjun" ucap shuhua, seraya memandang renjun lamat-lamat.
Renjun mengangguk "aku tau, karna renjun juga sayang shasha"
Shuhua dan renjun tertawa kecil mengetawai tingkah mereka berdua, betapa menggemaskannya hubungan mereka.
•••
Shuhua memasukan barang-barangnya kedalam tas kemudian menyusul renjun yang sudah menunggu didepan.
Langkah shuhua terhenti waktu melihat lina berbicara pada renjun, disana juga ada haechan dan jeno yang tengah mencuci motor, serta jaemin yang duduk bersama jisung diteras, menontoni haechan yang dengan jahilnya menyemprot jeno hingga basah kuyup.
Jeno yang tak terima langsung membalas, berakhir keduanya malah bermain air sampai tak sengaja mengenai wajah chenls yang anteng menyiram bunga.
"Wooyyy bocah! aer nya kena muka gue!!!" amuk chenle.
"Soryy sengaja ahahahaha" jawab haechan enteng berakhir ngakak bareng jeno.
"Gebleg"
Chenle cuma misuh-misuh sambil melempar selangnya sampai mengenai kepala haechan bikin haechan mengumpat, chenle tak peduli ia lanjut masuk kedalam rumah lewat pintu belakang buat untuk baju.
Pelan-pelan shuhua mendekat bikin renjun yang masih ngobrol dengan lina menoleh "aku udah siap" katanya.
Renjun menggaruk belakang lehernya sambil melirik lina "sha. Kamu mau gak tunggu disini dulu bentar?"
"Kenapa emang?"
"Ini... Aku mau nganterin lina dulu, abangnya gak bisa jemput lina juga lagi gak bawa uang"
Seakan sudah paham maksud renjun, shuhua mengangguk kecil dengan lesu "kenapa harus kamu jun?" Tanyanya.
Renjun diam sebentar melirik teman-temannya yang pura-pura sibuk sendiri padahal sedari tadi menguping.
"Soalnya mereka pada gak mau, kasian kan lina masa harus pulang jalan kaki"
"Ya biarin kan uler mah udah biasa" gumam haechan diangguki jeno.
"Yaudah gak papa. Aku pulang naik ojol aja" shuhua segera merogoh ponselnya yang langsung ditahan oleh renjun.
"Eh jangan! Kamu tunggu aja nanti aku yang anter, cuma sebentar kok" bujuk renjun.
Jaemin yang mendengar perdebatan kecil antara renjun dan shuhua mendecak, beranjak menghampiri keduanya.
"Biar shuhua pulang sama gue aja. Lo anterin aja murid lo" ucap jaemin dengan wajah datar.
Renjun sedikit mengerutkan dahinya, agak aneh melihat raut wajah jaemin yang tak seperti biasanya, selama renjun berteman dengan jaemin renjun tak pernah melihat jaemin memasang ekspresi datar seperti itu, terlebih dihadapan cewek.
Jaemin hanya akan memasang ekspresi datar saat sedang ada masalah pribadi atau masalah keluarga. itu pun hanya dibelakang, kalau didepan teman-temannya jaemin tetap bertingkah ceria seolah dia tak punya beban hidup.
Entahlah, mungkin jaemin memang tengah memiliki masalah.
Renjun melirik shuhua yang menatap renjun dengan tatapan memohon agar renjun yang mengantarnya pulang, biar jaemin yang mengantar lina.
Tapi gak mungkin sih, lina kan mantan gebetan jaemin. Kecuali kalau mau digebet lagi.
"Yaudah" shuhua melemaskan kedua bahunya.
"tolong anterin shuhua ya? Dia lebih aman pulang sama lo daripada sama ojol" ucap renjun.
Jaemin melirik renjun datar "jelas lah. Lo tau gue gak berengsek"
Renjun hanya mengangguki ucapan jaemin, membenarkan kalau temannya itu memang bukan cowok brengsek. Padahal niat jaemin sih sedikit menyindir renjun.
Jaemin sempat melirik lina sinis sedangkan yang dilirik cuma menyeringai bangga bahwa rencana nya berhasil.
Diam-diam lina merogoh ponselnya dari saku, mengetikkan sesuatu tanpa sepengetahuan renjun.
Lina : bang gak usah jemput gue. Gue pulang sama doi
•••
Shuhua melepas helm lalu memberikannya pada jaemin yamg masih duduk diatas motor sportnya dengan helm yang masih membungkus kepalanya.
"Makasih kak. Maaf ngerepotin"
Jaemin tersenyum tipis "nggak kok. Lain kali gercep dikit ya biar gak disalip orang"
"Gimana kak?" Bingungnya
"Nggak.."
Shuhua makin dibuat kebingungan.
"Masuk gih. Salam buat yang didalem" ucap jaemin sambil menyalakan kembali mesin motornya.
"Nggak mampir dulu kak?" tanya shuhua.
"Gak usah, takut nyaman, nanti malah jadi kebiasaan"
Shuhua diam saja karena sumpah ia tak paham dengan segala celetukan seorang na jaemin.
"Gue balik ya? Kalo mau main ke kostan chat gue aja, oke" ucapnya diiringi senyum manis.
Shuhua mengangguk kaku "iya kak. Sekali lagi makasih" jaemin melambai kecil sebelum melesat pergi.
Shuhua memandangi motor jaemin yang menjauh membuatnya teringat renjun dan menghela nafas berat.
"Kenapa harus kamu yang nganterin kak lina jun? Kenapa aku yang dianterin pulang sama cowok lain? Ah sebel. Aku gak suka lina"
