23

19.5K 1.4K 61
                                        

Malika memesan nasi goreng seafood dan steak dengan jus jeruk yang siap mendinginkan kerongkongannya. Sama halnya dengan Bian yang juga memesan menu yang sama dengan Malika.

Beda halnya dengan Tiara yang memesan satu porsi salad sayur dan satu gelas air putih.

Bian memotong kecil-kecil steak milik Malika, setelah itu ia memindahkannya ke hadapan Malika yang disambut dengan baik oleh gadis itu.

"Kalian pacaran?"

Serentak Bian dan Malika menoleh menatap Tiara yang menatap mereka dengan pandangan tak terbaca.

"Yang ibu lihat bagaimana?" sahut Malika santai.

"Mungkin pacaran." Tiara menatap Malika dan Bian ragu.

Sudah lama ia memperhatikan kedekatan kedua orang di hadapannya dan sebuah kesimpulan akhirnya masuk ke dalam pikirannya ketika melihat interaksi keduanya.

"Memang pacaran, Bu. Saya sama abang udah satu tahun lebih. Ibu pasti enggak nyangka, ya?" ujar Malika menatap Tiara dengan seringaiannya.

"Mmm ... ya. Saya sedikit terkejut," gumam Tiara pelan. Ada setitik kekecewaan yang terlihat dari mata Tiara namun segera ia normalkan karena tak ingin Malika menyadarinya.

Usai jalan dan makan, Bian mengantar Malika pulang ke rumah sementara ia sendiri langsung bergegas menuju kantornya.

Tiara sendiri sudah pulang terlebih dahulu dengan menaiki grab yang ia pesan. Wanita itu sudah tak tahan melihat kemesraan yang ditunjukkan Malika secara terang-terangan.

"Selamat siang, Pak. Hari ini jadwal bapak akan padat sampai sore," ucap Sisil dengan suara lembut. Sisil kemudian membacakan jadwal Bian sampai pukul 5 sore nanti.

Tak lama, suara telepon berdering berasal dari luar ruangan yang artinya telepon tersebut berasal dari meja Sisil.

"Saya permisi mau angkat telepon, Pak."

"Silakan."

Sisil kemudian melangkah keluar meninggalkan Bian yang kini tengah bergelut dengan setumpuk laporan yang harus ia baca dari laptop kesayangannya.

"Masuk!" perintah Bian saat mendengar suara ketukan pintu. Tak lama Sisil kembali masuk dengan mengatakan jika ada tamu yang mengaku sebagai orangtua Bian datang berkunjung.

Kening Bian mengernyit sambil berpikir dari mana dua orang itu tahu alamat kantornya.

Bian tersenyum miring sambil berpikir jika ini saatnya ia menujukkan kesuksesannya pada orang yang sudah membuangnya dan adiknya.

"Persilakan mereka naik," perintah Bian yang langsung ditanggapi Sisil.

Lima menit kemudian kembali terdengar suara ketukan pintu yang Bian yakini berasal dari kedua orang itu.

"Masuk!" perintahnya terdengar tegas.

Tak lama pintu terbuka menampilkan sosok Hermawan dan istrinya.

"Bian, ayah tidak menyangka kalau kamu akan punya perusahaan sebesar ini," sapa Hermawan terdengar bangga.

Tentu saja siapa yang tidak akan bangga jika putranya memiliki perusahaan besar seperti sekarang ini. Dirinya sendiri saja masih jauh dari Bian dan ia juga tak memiliki kantor perusahaan. Hanya beberapa tempat kost dan beberapa toko grosir yang menjadi ladang penghasilan Hermawan selama ini.

"Kebetulan saya adalah pekerja keras. Jadi, usaha saya menunjukkan hasil yang memuaskan." Bian membalas dengan santai seraya bangkit dari kursi kebesarannya.

Pria itu kemudian meminta kedua orang itu untuk duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangannya.

Manik mata Silvi menjelajah isi ruangan Bian yang terdapat banyak furniture lengkap dan yang pastinya terlihat mewah serta berkelas.

Hal serupa pula dilakukan Hermawan. Matanya juga tak berhenti untuk menatap kagum furnitur mahal yang berada di dalam ruangan putranya.
Hingga akhirnya tatapannya terhenti pada sebuah frame foto berukuran besar menempel di dinding yang berada tepat di belakang kursi Bian. Tidak hanya di situ, tapi juga di dinding yang berada tepat di samping sofa yang mereka duduki juga terpampang nyata sebuah gambar keluarga yang tampak terlihat bahagia.

"Itu--"

"Keluarga saya," sahut Bian cepat. "Wanita dan pria dewasa di dalam foto adalah orangtua saya."

Bian bangkit berdiri berjalan ke dekat Hermawan sambil menunjuk gambar Prissy dan Digo yang terlihat duduk di kursi seperti kursi kerajaan.

"Gadis remaja itu pacar saya." Kembali Bian menunjuk gambar Malika yang saat itu masih berusia 12 tahun. "Anak laki-laki kecil yang berdiri di dekat mama saya itu adik Malika. Terus, anak kecil yang dipangku mama saya adalah adik kandung saya yang asli."

Bian kembali menunjuk gambar Dika yang saat itu baru berusia 4 tahun serta Sofie yang berusia 2 tahun.

Hermawan tersentak mendengar ucapan Bian. Di tatapnya Bian dengan pandangan tak percaya.

Jika gadis kecil di dalam foto itu adalah adik kandung Bian, itu artinya gadis kecil itu adalah putrinya.

Hermawan tidak mungkin lupa jika saat ia pergi meninggalkan istri dan anaknya, saat itu sang istri mengaku hamil. Namun, saat itu Hermawan tidak peduli.

"Bian, seenak-enaknya keluarga orang lain, masih enak keluarga sendiri," kata Silvi buka suara. "Apalagi kamu sudah sesukses sekarang ini. Akan ada banyak pihak yang pasti akan memanfaatkan kamu," tambahnya seperti seorang ibu yang menasehati anaknya.

Mendengar itu Bian mencibir dalam hati. Bian bukan orang bodoh yang tidak mengerti makna yang disampaikan Silvi.

Oh, ayolah, Bian tidak akan seperti sekarang ini jika tanpa bantuan keluarga barunya. Bahkan, suntikan dana yang diterima perusahaannya berasal dari tiga keluarga besarnya.

Tapi, Bian tidak akan memberitahu mereka. Biarkan mereka berspekulasi sendiri dan hal itu mungkin akan menjadi bom waktu untuk membuat mereka malu.

Bian mungkin bukan orang yang kejam. Ia juga terkenal karena baik, ramah, dan sopan santun. Tapi, memiliki secuil dendam untuk orang yang sudah merusak masa remajanya tidak masalah 'kan? Cibir Bian dalam hati.

"Oh, ada apa kalian kemari?" tanya Bian tak merespon ucapan Silvi.

"Ah, jadi begini." Mendadak Silvi tersenyum dengan amat sangat manis sehingga membuat Bian mual. Namun, pria itu hanya diam dan menunggu apa yang akan diucapkan wanita yang tak memiliki rasa malu ini.

"Kami kesini untuk mengundang kamu menghadiri acara ulang tahun putri kami yang juga adik kamu, Bian," kata Silvi sembari mengeluarkan sebuah kartu undangan dengan motif Princess disney. "Datang ya. Acaranya hari minggu kok. Kamu pasti libur," lanjutnya tanpa mengundurkan sudut bibirnya.

"Oh, iya? Ulang tahun yang ke berapa?" Bian menarik kartu undangan di atas meja tanpa membacanya.

"Yang ke delapan tahun," sahut Silvi bersemangat. "Kami akan selalu merayakan ulang tahun putri kami setiap tahunnya.".

"Hm. Adikku juga sering kami rayakan. Sementara ini baru delapan negara tempat kami merayakan ulang tahun adikku."

Mendadak senyum Silvi membeku mendengar pernyataan Bian. Setiap ulang tahun dirayakan di beberapa negara? Batinnya mengulang pernyataan Bian.

"Tahun ini kami hanya merayakannya di Faris. Tepatnya sih di menara Eiffel. Itu fotonya," tunjuk Bian pada frame foto yang berada di belakang Silvi.

Segera Silvi menoleh dan secara mendadak lututnya terasa lemas saat melihat jejeran foto seorang gadis memegang sebuah kue ulang tahun dengan angka satu sampai delapan.

Bukan itu yang membuat Silvi mendadak lemas. Hanya saja foto yang diambil dengan latar di beberapa negara tersebut lah menjadi bukti jika apa yang dikatakan Bian bukanlah bualan semata.

OMG! MALIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang