26

18.5K 1.3K 51
                                        

PART 26

"Aku enggak mau kadonya. Kadonya jelek, buluk, dan enggak ada bagus-bagusnya," gerutu Tita menatap Malika dan Bian tak suka. "Ma, mama bilang kalau kakak tiri aku akan kasih aku kado yang mahal dan mewah. Buktinya mana? Itu cuma boneka buluk yang harganya paling cuma dua puluh ribuan," adunya pada sang mama.

Silvi juga shock melihat kado yang di berikan Malika dan Bian pada putrinya.

Di tatapnya kedua sejoli yang masih menampilkan ekspresi polos di hadapannya.
"Kalian berniat mempermalukan putri saya? Apa yang kamu kasih? Cuma boneka buluk itu? Bian, apa kamu sudah jatuh miskin sampai-sampai memberikan boneka dari pasar loak ke adikmu sendiri?" cerca Silvi penuh emosi.

Saat ini beberapa ibu dari teman-teman Tita tak sungkan untuk mentertawakannya. Padahal tadi, ia sempat membanggakan Bian yang akan memberi hadiah mahal pada putrinya.

"Pacar saya sendiri yang pilih untuk hadiahnya. Tanyakan sama dia kenapa hadiahnya kayak gitu," ujar Bian santai. "Padahal saya udah kasih kartu platinum milik saya ke dia."  Ekspresi Bian terlihat datar. Tak tertarik dengan obrolan mereka kali ini.

Malika yang menjadi tersangka utama memilih memungut boneka yang tergeletak tak berdaya di lantai.

Boneka perempuan dengan rambut dan wajah di cat berwarna hitam. Bahkan, hanya mata dan pakaiannya saja yang warnanya tidak hitam.

"Yakin kamu enggak mau ini?" tawar Malika ketika kembali ke hadapan keluarga Hermawan.

"Enggak!" ketus Tita. Ia tidak akan sudi jika menerima barang rongsokan seperti yang di berikan Malika padanya.

"Tante," sapa sebuah suara, membuat semua pasang mata menoleh ke sumber suara.

Senyum Silvi mengembang ketika melihat keponakan jauhnya datang.

"Eh, Tiara sayang, kamu datang juga?"

Silvi cipika-cipiki dengan Tiara yang tiba-tiba hadir di antara mereka.

"Iya, Tante. Aku mewakili mama dan papa yang enggak bisa hadir disini," sahutnya dengan suara lembut. "Oh, iya, ini ada kado spesial buat sepupuku yang paling cantik," ujarnya menyerahkan sebuah kotak kado pada Tita.

Tita tentu saja menyambut bahagia kado yang di berikan Tiara. Di bukanya kado tersebut di depan orang banyak.

Tita kemudian mengeluarkan sebuah boneka barbie keluaran terbaru yang kemarin Tita lihat di TV.

"Makasih ya, Mbak. Mbak baik banget kasih aku kado mahal dan keluaran terbaru kayak gini. Enggak kayak itu tuh, kasihnya boneka buluk." Tita menunjuk ke arah Malika dan Bian dengan bibirnya, membuat Tiara baru menyadari kehadiran mereka.

"Lho, Pak Bian di sini juga?" seru Tiara tak percaya.

Bian mengangguk membuat Silvi menatap keponakannya penuh arti.
"Tiara, kamu kenal dengan Bian?" tanya Silvi tak percaya.

"Iya, Tante. Kebetulan Pak Bian adalah teman saya sesama dosen," jawab Tiara sambil tersenyum.

"Wah bagus dong kalau kalian bisa satu tempat pekerjaan. Siapa tahu kalian berjodoh," timpal Silvi menatap Tiara dan Bian penuh arti.

"Ah, tante bisa saja. Lagi pula Pak Bian juga sudah punya pacar," sahut Tiara malu-malu.

"Lagi pacaran 'kan? Belum sampai menikah? Lagi pula yang suami istri saja masih bisa cerai kok," ujar Silvi santai, hingga mendapat delikan Malika.

"Tante ngajarin keponakan tante untuk ngikutin jejak tante jadi pelakor?" seru Malika dengan ekspresi terkejut.

Semua pasang mata yang mendengar ucapan Malika kontan menoleh. Bahkan, ibu-ibu yang mentertawakan Silvi tadi juga shock mendengar pernyataan Malika barusan.

"Aduh, tante. Saya kasih tahu sama tante ya kalau saya bukan seperti mamanya Bang Bian yang bisa pasrah lakinya di ambil perempuan lain," ucap Malika sambil menggeleng dramatis. "Saya akan melakukan segala cara untuk mempertahankan suami saya. Bila perlu saya bakal santet perempuan yang mau ambil suami saya," katanya sambil mengelus tangan Bian yang terasa dingin.

Malika tahu ia tidak seharusnya menyebutkan tentang mama kandung Bian. Tapi, mau apa dikata jika tiba-tiba saja ia mengeluarkan statemen seperti itu.

"Maksud kamu ngomong seperti itu apa?" Silvi menatap Malika tak suka.

"Maksud tante mendukung Bu Tiara untuk merebut Bang Bian dari saya apa?" Malika membalikkan pertanyaan yang membuat Silvi terdiam tak tahu harus menjawab apa.

Malika membongkar baju dari boneka barbie yang menurut Tita dan Silvi adalah boneka buluk tepat di depan semua tamu undangan.

"Mau kamu apain boneka buluk itu?" tanya Hermawan yang sedari tadi diam.

Malika tak menjawab. Gadis itu tersenyum misterius membuat Silvi mendapat firasat buruk.

"Tara!" Malika tersenyum lebar sembari mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat di dalam baju boneka.

"Apa itu?" Kening Tiara mengernyit menatap bingung pada kertas yang ada di tangan Malika.

"Ini cek berisi uang senilai seratus juta," jawab Malika dengan ekspresi polos. Gadis itu membuka lebar kertas yang terlipat dan menunjukkannya di hadapan Silvi dan yang lainnya.

"Berhubung kado kami sudah ditolak bahkan di buang, terpaksa kado ini saya dan Bang Bian simpan lagi." Malika dengan raut wajah tanpa dosa menyimpan cek ke dalam tasnya, membuat Silvi melotot.

"Enggak bisa begitu dong. Jelas-jelas kado itu sudah di kasih ke Tita. Harusnya itu sudah jadi hak Tita," protes Silvi tak terima.

"Sayangnya itu kado sudah di buang, Tante." Malika tersenyum polos. "Kalau begitu kami permisi dulu ya. Soalnya nanti malam kami akan mengadakan acara keluarga."

Malika menggandeng Bian keluar dari kediaman Silvi dan Hermawan dengan langkah santai tidak memedulikan suara Silvi yang memanggil mereka.

"Licik kamu." Bian menjawil hidung Malika ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.

"Biarin. Habis mereka selalu bikin darah tinggi 'sih Bang." Malika terkekeh sebentar. "Tapi, maaf ya Bang, aku tadi bawa-bawa mama abang." Malika menatap Bian berharap pria itu mau memaafkannya.

"Enggak apa-apa. Abang ngerti kok. Lagi pula benar kata kamu, kalau kamu enggak boleh lemah buat menghadapi cewek-cewek yang tertarik sama abang." Bian menghela napas sebentar. Kemudian kembali ia berujar, "abang sayang kamu dan selalu mendukung kamu, Sayang."

"Aku juga sayang abang. Sayang banget malah. Abang enggak akan tinggalin aku 'kan?" Malika menyandarkan tubuhnya di pundak Bian.

"Enggak, Sayang. Sebelum mengambil keputusan buat deketin kamu dan ajak kamu ke hubungan yang lebih serius dari kakak adik, abang sudah memantapkan tekad." Bian mengusap kepala Malika dengan sayang. "Abang bertekad untuk menjadikan kamu satu-satunya perempuan yang akan menemani abang dari awal sampai akhir," lanjutnya membuat Malika tersenyum senang.

"Terima kasih, Abang. Meskipun aku suka tebar pesona dan genit ke cowok lain, tapi tetap saja cintaku hanya untuk abang seorang."

Bian dan Malika saling melempar senyum dengan tangan saling menggengam.

Setidaknya meski banyak krikil tajam yang akan mereka lewati nanti, mereka akan mengingat hari ini. Hari dimana mereka menciptakan komitmen yang tidak akan pernah mereka lupakan.

OMG! MALIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang