22

19.5K 1.3K 29
                                        

PART 22

Empat bulan sudah berlalu semenjak kabar kehamilan Prissy.  Kini usia kandungan Prissy sudah memasuki usia ke enam dan saat ini perut wanita yang masih bergerak lincah itu sudah membesar.

Malika menatap ngeri perut mamanya yang terlihat bersemangat melakukan senam untuk ibu hamil.

"Hati-hati, Ma, awas adekku keluar sebelum waktunya!" teriak Malika tanpa tahu malu. Gadis itu berdiri tak jauh dari posisi ibu-ibu yang mengikuti latihan senam.

Kaki Malika sudah bisa berjalan normal kembali setelah tiga bulan lebih ia duduk di kursi roda. 

Baru dua minggu yang lalu ia bisa meninggalkan kursi rodanya dan kini mamanya justru meminta untuk di temani senam.

"Berisik, Malik. Diam! Enggak tahu apa kalau mama lagi konsentrasi!" teriak Prissy mengejutkan ibu-ibu hamil di sampingnya. Menyadari kesalahannya, Prissy terkikik dan meminta maaf pada teman-teman senamnya.

"Lanjut!" perintah Vania selaku instruktur senam.

Musik kembali dimainkan dan mereka kembali melakukan gerakan-gerakan yang di contohkan oleh Vania.

Satu jam kemudian, Malika yang tengah duduk di ruang tunggu segera bangkit berdiri ketika melihat mamanya selesai mengganti pakaian.

Kali ini sang mama hanya memakai celana olahraga sebatas lutut dan baju kaos warna merah pudar sebagai penutup atasnya.

Malika tidak heran lagi dengan penampilan mamanya yang terkadang sedikit aneh.

"Mama enggak takut di omelin papa kalau pakai sandal ber-hak tinggi gitu?" Malika melirik sandal dengan ujung kaki yang lancip yang terpasang di kaki mamanya.

"Enggak dong, Sayang. Kan, papa kamu enggak tahu." Prissy nyengir sambil mengibas rambut panjangnya.  "Ayo kita pergi. Mama mau ada meeting di dekat kampus kamu."

Malika mengangguk. Lagi pula ia akan bertemu dengan Bian di salah satu pusat perbelanjaan.

Malika dan Prissy keluar dari tempat latihan dan tak sengaja berpapasan dengan Hermawan dan istrinya.

"Lho, kamu?"

Silvi --istri Hermawan-- menatap Malika dari atas hingga bawah berulang kali dan ia tak bisa menutupi keterkejutannya melihat gadis yang semula duduk di kursi roda kini bisa berdiri tegap.

Silvi kira jika gadis yang dipacari Bian adalah gadis cacat. Ternyata bukan, pikirnya.

"Kamu kenal mereka, Malik?" tanya Prissy menatap pasangan di hadapannya.

"Kenal 'sih enggak. Cuma mereka kenal Bang Bian, tapi Bang Bian enggak mau kenal mereka," celoteh Malika panjang lebar.

"Jaga bicara kamu ya. Jangan bersikap enggak sopan," tegur Hermawan menatap Malika tajam.

"Lho, enggak sopan gimana? Orang menyampaikan kenyataan yang ada kok di bilang enggak sopan," elak Malika tersenyum lebar. Jika tidak ingat di hadapannya ini adalah orang yang sudah berumur, kemungkinan untuk Malika melempar sebuah bogem mentah sudah ia laksanakan sedari tadi.

"Betul itu. Sudah Malik kita pergi saja dari sini. Mama sudah di tunggu orang," kata Prissy yang langsung diangguki Malika.

Pasangan ibu dan anak itu berlalu begitu saja meninggalkan Hermawan dan istrinya.

Setibanya di mobil, Prissy segera menatap Malika dengan penasaran.

"Kamu kok enggak pernah cerita kalau dari ketemu sama bapaknya Bian?" tanyanya penasaran.

"Lupa aku, Ma. Lagian ceritanya udah beberapa bulan yang lalu kok," sahutnya santai.

Prissy mendengkus.
"Awas aja kalau Sofie mau di ambil sama bapaknya. Mama enggak akan kasih izin." Prissy mengepalkan tangannya seraya menatap tajam jendela mobil dimana Hermawan dan istrinya tengah melangkah masuk ke dalam gedung.

"Bapak-bapak gitu mah enggak akan mikirin Sofie, Ma. Lagian dia punya keluarga baru dan anak baru. Mana peduli dia sama Sofie," sahut Malika santai.

"Hust, enggak boleh begitu. Mungkin bapaknya Bian enggak tahu kalau ada Sofie," tegur Prissy tak ingin berpikiran negatif.

"Lha, jelas-jelas Bang Bian datengin bapaknya untuk minta bantuan ngeluarin jenazah ibunya, tapi apa?" Malika menatap mamanya dengan sebelah alis terangkat. "Kalau dia peduli sama Bang Bian  dan Sofie, kenapa enggak di cari dari dulu?"

Prissy mengangkat bahunya tak tahu karena Hermawan bukanlah dirinya.

"Itu karena Bang Bian sukses. Makanya beberapa bulan ini mereka selalu cari cara  buat deketin Bang Bian." Hal yang dikatakan Malika adalah satu fakta yang sudah ia ketahui sejak lama. "Coba kalau  abang masih jadi rakyat jelata, mana mau mereka dekat-dekat abang," tuturnya memaparkan opini.

"Iya juga sih.  Tapi, ya sudahlah. Apapun yang terjadi mama enggak akan kasih izin mereka buat ambil Sofie," sahut Prissy dengan tekad bulat.

"Setuju. Selamanya Sofie akan tetap jadi adikku." Malika mengangguk setuju.

"Adik ipar atau adik apa ini?"

"Adik apa aja yang penting adik."

Usai mengantar mamanya kafe, Malika bergegas menuju mall yang disebutkan Bian dalam pesan teks tadi.

Bian meminta izin Malika untuk menemani Tiara mencari kado yang katanya untuk hadiah ulang tahun anak saudaranya.

Tentu saja Malika tak mengizinkan Bian hanya jalan berdua saja bersama Tiara. Malika harus hadir di antara keduanya. Malika tidak akan memberi celah wanita lain untuk mengambil posisinya.

Setibanya di parkiran mall, Malika segera melangkah masuk dan langsung menuju lantai 3 dimana saat ini Bian dan Tiara tengah berada.

Malika tiba di lantai tiga setelah melewati dua kali eskalator. Gadis cantik yang tengah mengenakan celana jeans rimpet dipadukan dengan kemeja putih polos itu segera mencari Bian di beberapa toko hingga akhirnya ia tiba di toko mainan dan melihat Bian tengah menelepon seseorang sambil memegang beberapa kotak robot dan boneka.

Malika segera menghampiri Bian dan menepuk pundak pemuda itu dari samping.
"Bang," panggilnya.

Bian menoleh dan tersenyum lebar.
"Susah cari abang?" tanya Bian menatap pacarnya sayang.

"Enggak juga. Kan, udah ada signal yang menyatakan abang dimana," sahut Malika santai. Matanya beralih menatap tangan Bian yang tengah memegang kotak robot.

"Itu buat siapa, Bang?"

"Buat Dika. Terus, ini abang lagi pilih boneka buat Sofie." Bian menyahut santai. "Kamu mau apa? Pilih aja nanti abang yang bayarin."

"Memangnya aku anak kecil." Malika memukul pelan lengan Bian.

"Mas Bian?" sapa Tiara yang baru saja kembali usai memilih mainan.  Matanya memicing menatap Malika yang berdiri santai di samping Bian. "Kok dia ada di sini?" tanya Tiara tak menutupi keheranannya.

"Iya. Soalnya saya yang ajak Malik kesini." Bian merangkul pundak Malika setelah meletakkan beberapa kotak mainan.

"Oh." Tiara mencoba tersenyum meski dalam hati ia membatin tak suka dengan kehadiran Malika.

"Kamu sudah selesai 'kan?"

Tiara mengangguk sebagai jawabannya.

"Ah, baguslah. Ini kebetulan saya juga sudah memilih beberapa untuk adik-adik kami." Bian menunjukkan kotak yang sudah ia pisahkan. "Saya bayar ini dulu. Setelah itu kita makan siang bersama."

Lagi-lagi Tiara mengangguk pasrah. Sementara Malika justru tersenyum lebar. Malika tidak akan mengizinkan Bian berduaan saja dengan perempuan lain terlebih lagi pada Tiara.

Malika sudah melihat gelagat Tiara yang sepertinya menyukai Bian.

Bian adalah milik Malika dan Malika adalah milik Bian. Tidak akan ia biarkan perempuan lain nyempil di antara dirinya dan Bian.

OMG! MALIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang