PART 20
Mobil yang di tumpangi Malika, Bian, dan Sofie keluar dari gerbang sekolah.
Sofiie sengaja di pulangkan lebih awal atas permintaan Bian. Mereka ingin menghibur Sofie dan membuat gadis kecil itu melupakan jika dirinya pernah menghajar teman-temannya dan juga kata-kata yang tak layak di dengar.
Untuk urusan wali murid serta murid yang bermasalah, Malika serahkan pada mamanya saja.
"Kita makan siang dulu, ya." Bian menatap Malika yang duduk di sampingnya. "Memangnya enggak apa-apa, Sayang, kalau kamu enggak masuk hari ini?" tanyanya.
Malika tersenyum dan menggeleng pasti.
"Aku udah titip absen sama temanku, Bang. Tenang aja. Lagi pula ini kali pertama aku enggak masuk di kelas Bu Winda," balas Malika santai.
"Ya udah kita kemana dulu?"
"Ke restoran, Bang. Sofie pasti belum makan. Iya, kan, Dek?" Malika memutar kepalanya menatap Sofie yang terduduk di bangku belakang.
Terlihat Sofie menganggukkan kepalanya pertanda jika ia belum makan. Dirinya belum sempat memakan bekal yang di masak mamanya karena sudah lebih dulu bertengkar dengan teman sekolah.
Tidak ada pembicaraan lain lagi. Bian fokus dengan laju kendaraannya, Malika sibuk membalas pesanan online orang yang ingin membeli pakaian miliknya, dan Sofie yang diam membisu menikmati keheningan yang ada.
Mereka tiba di restoran dan memesan makanan pada pelayan.
"Kamu lagi sibuk chat sama siapa, Malik?" Bian menatap Malika yang terus menatap layar ponselnya.
"Lagi chat sama pembeli, Bang. Ada yang pesan kebaya gitu buat 20 orang." Malika menjawab tanpa menoleh pada Bian. "Ini aku juga lagi tanya ke toko model kebaya yang di cari ada atau enggak. Takutnya stok di toko menipis," ceritanya panjang lebar.
Bian mengangguk paham.
Malika memang memiliki toko baju yang tidak hanya menjual secara offline tapi juga online dengan pemasukan yang lumayan untuk setiap bulannya.
Tidak sampai di situ saja, cabang toko Malika sudah ada lima. Meski ia bukan seorang desainer, tapi memasok pakaian dari beberapa desainer terkenal tidak masalah bagi Malika.
"Kamu sudah dapat distributor kain yang bagus? Bisa jamin desainer yang kamu pilih bisa menciptakan pakaian yang layak?" tanya Bian beruntun.
"Lagi cari, Bang. Terus soal desainer yang baru aku ajak kerjasama, mereka bisa kok ngikutin trend pasaran atau trend sendiri." Malika tersenyum. "Selama mereka rajin dan giat, aku yakin mereka enggak akan kalah dengan desainer lulusan dari Paris."
Obrolan keduanya terhenti ketika hidangan sudah tersaji di atas meja.
"Makan, Dek. Kamu enggak usah pikirin yang lain. Mereka cuma iri sama kamu karena kamu cantik," kata Malika d sela-sela makan mereka. Matanya beralih menatap Sofie yang terlihat tak berselera.
"Iya, Kak."
"Jangan iya aja. Kalau kamu terus mikirin omongan orang, bisa-bisa kamu stress sendiri, Dek. Hidup itu menatap lurus ke depan bukan menoleh ke belakang," ujar Malika panjang lebar. "Dengerin omongan orang enggak akan ada habisnya, Dek. Omongan orang itu kayak rumput liar. Hilang satu tumbuh seribu."
"Dengar apa kata Kak Malik, Dek," timpal Bian ikut buka suara. Matanya menatap lekat adiknya yang tengah menundukkan kepalanya. "Kamu harus ikut kuat seperti mama, Ibunda Ratu, dan yang lainnya. Jangan mau kalah dan harus tetap gahar, Dek," tambah Bian disambut anggukan Malika.
"Makasih ya, Bang, Kak Malika. Kalian kakak terhebat dan terbaik yang pernah aku punya." Sofie tersenyum lebar. Ia begitu merasa beruntung karena bisa hadir di antara keluarga hangat yang menyayanginya meski kehadirannya pun tak di inginkan oleh ayah kandungnya sendiri.
"Bian, kamu di sini juga?"
Serentak Malika, Bian, dan Sofie menoleh ke asal suara. Seketika itu juga Malika mendengkus melihat sosok yang begitu ingin ia kirim boneka chucky ke rumahnya.
Arin dan Shela.
Keduanya tersenyum lebar menatap Bian dengan penuh binar seakan Bian adalah harta karun yang mereka temukan.
"Biasa aja kali ngeliatin Bang Bian. Udah kayak temu berlian di pinggir jalan aja," cibir Malika sinis.
Shela mendengkus. Tanpa kata wanita itu duduk di hadapan Malika, sementara Arin duduk di sebelah Bian. Malika? Jangan ditanya karena gadis itu tidak menduduki kursi restoran. Posisinya ada di sisi kiri Bian.
"Kalian makan di sini juga?" Arin menatap Bian takjub. Apalagi saat ini Bian tengah mengenakan jas biru yang dipadukan dengan kemeja hitam.
Ugh! Bian tampak menggoda, pikir Arin.
"Kita di sini lagi main badminton," sahut Malika mendahului bibir Bian yang sudah terbuka.
Malika heran sendiri dengan pertanyaan Arin. Sudah tahu orang duduk di restoran dengan menu yang sudah terhidang di atas meja, masih saja ditanya, cibir batin Malika.
Sofie diam-diam mengulum senyum mendengar celetukan kakaknya.
"Heh, anak kecil. Jangan dibiasakan dong nyahut ucapan orang dewasa. Enggak pernah diajari orang tuanya, ya?" tuding Shela menatap Malika sengit. Cewek satu ini semakin di diamkan semakin melunjak, pikir batin Shela keki.
"Belum pernah melihat anak kecil yang bisa menghasilkan anak, Mbak?" ejek Malika menatap Shela tanpa rasa takut. "Lagi pula pertanyaan temen lo itu non berbobot banget. Udah tahu orang duduk di restoran mau makan, masih aja ditanya."
"Lo--" Shela menatap Malika geram, namun Bian sudah lebih dulu menginterupsi ucapannya.
"Kalian ngapain di sini? Seingat saya, saya enggak pernah kasih izin kalian buat duduk disini."
Wajah Shela dan Arin merona mendengar ucapan Bian.
"Bian, kok lo sombong banget 'sih mentang-mentang udah kaya," cibir Shela tanpa menutupi ketidaksukaannya.
"Dulu waktu Bang Bian miskin memang kalian bersikap ramah sama Bang Bian?" timpal Malika menatap Shela aneh. Gatal rasanya mulut Malika jika ia tidak membalas ucapan Shela.
"Udah, Sayang, diam." Bian menggenggam tangan Malika lembut. Kemudian tatapannya beralih menatap Arin dan Shela secara bergantian. "Kalau kalian mau makan, silakan. Pesan menu," ujarnya pada teman SMA-nya dulu.
"Tapi, bayar sendiri. Jangan Jadi cewek matre yang apa-apa kudu ngandelin cowok," celetuk Malika lagi, yang tentu saja dibalas pelototan tak terima dari dua wanita itu.
"Malik, Sofie, Bian? Kalian di sini juga?" tegur Naya ketika melihat anak dari sahabatnya.
Naya tak sendiri. Ia bersama gadis bule yang menatap orang-orang di meja dengan pandangan asing.
Gadis bule bernama Ashley itu baru beberapa kali datang ke Indonesia, membuatnya sedikit fasih bahasa Indonesia. Selain itu, di sekolah asal negaranya juga mempelajari bahasa Indonesia.
Ashley adalah anak dari sepupunya Abi yang bisa disebut sebagai keponakan Abi.
"Eh, Mami. Iya, Mi. Lagi mau makan, eh udah diganggu saja sama dedemit. Mungkin waktu masuk sini aku lupa baca doa kali ya." Malika nyengir di akhir kalimatnya.
"Husst, enggak boleh sesama dedemit saling menghina," timpal Naya santai.
Naya kemudian memperkenalkan Ashley pada Malika dan Bian karena sebelumnya mereka memang tidak berkenalan secara langsung.
"Nah, Ashley harus ingat kalau Bian Bagaskara itu pacarnya Malika. Tante minta sama Ashley jangan jadi pelakor ya di hubungan Malik dan Bian," peringat Naya sekaligus menyindir gadis yang duduk di sisi kanan Bian.
"Pekaksro itu apa, Aunty?" tanya Ashley bingung.
"P-e-l-a-k-o-r. Pelakor itu sejenis setan jahat yang nempel di tubuh laki-laki. Cara menghilangkan pelakor itu harus pakai cabai setan biar saling ketemu gitu," jawab Naya dengan ekspresi serius, sehingga membuat Ashley bergidik ngeri.
"Ugh, no, Aunty. Aku enggak mau jadi setan."
Membayangkannya saja Ashley sudah bergidik ngeri. Sementara Naya dan Malika terkekeh karena berhasil membuat wajah Arin dan Shela pucat.
KAMU SEDANG MEMBACA
OMG! MALIKA
Ficção GeralMalika Tresia Jarec, cewek cantik yang baru menduduki bangku kuliah semester awal. Cewek biang onar yang selalu bikin ulah dimana pun kakinya berpijar. Cewek cantiknya yang sialnya adalah pacar dari Bian Baskara, seorang pengusaha sekaligus dosen ga...
