28 | Kritis

580 42 1
                                    

28. Kritis

"Jangan sampai ketika menyadari dia sudah tidak ada lagi."

**

Arka melangkah cepat di koridor rumah sakit, langkahnya agak memelan mendapati Rahen yang tengah berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding. Pemuda itu tidak sendirian, ada Lean dan Diki di seberang, sedang duduk di kursi tunggu dekat UGD. Di pojok ruang tunggu, tengah terisak bundanya Rahel dan pak Aditya yang berusaha tegar menenangkan.

Arka melangkah mendekat. Cowok itu mencoba mengontrol emosinya, melirik sengit Rahen yang sedang berusaha terlihat tegar padahal kedua mata cowok itu sudah sembab dan basah.

"Lo yang sabar," bisik Diki lirih ketika Arka menjatuhkan badannya di samping cowok itu. Diki menepuk pelan pundak Arka yang melemas.

Lean berdiri, melangkah ke seberang meraih bahu Rahen. Lean dan Diki belum mengerti apapun, tapi memilih diam dan menenangkan karena itu yang sedang Rahen dan Arka butuhkan.

Sebelumnya, mereka berdua sempat curiga karena Rahen dan Arka semakin renggang.

Seorang dokter lelaki, berumur sekitar tiga puluh tahunan keluar dari ruang UGD. Bertanya siapa kerabat pasien bernama Rahelia Daisy. Semua yang ada di ruang tunggu UGD berdiri.

"Saya ibunya, Dok." jawab bunda berjalan tertatih ke tempat dokter itu berdiri, di bantu pak Aditya yang sama cemasnya.

"Begini, Ibu Bapak. Pasien mengalami pendarahan di bagian kepala. Dan itu lumayan parah." ucapan dokter itu berhasil membuat lutut Arka seketika melemas. Cowok itu bahkan sampai meraba dinding rumah sakit agar tetap kuat berdiri. Diki mendekat, berjaga-jaga kalau Arka kenapa-napa.

Rahen memejamkan matanya, terlihat dari tadi berkali-kali pemuda itu menatapkan kepalanya ke dinding. Lean berusaha menenangkannya, merengkuh bahu sahabatnya itu.

"Rahel, Pa." Isak bunda di dekapan pak Aditya. Bunda terlihat lemas sekali, wajah wanita paruh baya itu sudah pucat.

"Tapi, Pak Bu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, sekuat yang kami bisa. Mungkin beberapa hari ini pasien mengalami masa kritis. Kemungkinan besar, jika pasien sadar ia akan mengalami lupa ingatan." lanjut dokter itu lagi.

Bunda langsung ambruk seketika, pak Aditya panik langsung membopong tubuh bunda dibantu dokter itu masuk ke dalam ruang UGD. Bertepatan dengan Nina, Keenan dan Alee datang, mereka diminta menunggu diluar.

Anak kelas menerima informasi dari Diki dari grup kelas. Mereka sama kaget dan sama khawatirnya. Tapi tidak bisa sekarang ke rumah sakit karena sudah larut malam.

Nina yang pulang bareng Alee dan Keenan mengajak mampir ke rumah sakit, meskipun Alee sudah menyarankan besok saja tapi gadis itu tetap bersikeras ingin ke rumah sakit sekarang.

"Rahel kenapa?" tanya Nina dengan suara serak, memandangi satu per satu temannya disana. Gadis itu panik, Keenan merengkuh bahu cewek itu, mencoba menenangkannya.

"Kecelakaan, Nin. Di perempatan jalan dekat gang rumah Keenan." ujar Diki yang menjelaskan.

Arka sudah kehabisan kesabaran, pemuda itu maju menghampiri Rahen. Tiba-tiba melayangkan pukulan ke wajah cowok itu. Rahen meringis pelan, namun tetap di posisinya bahkan tidak melawan atau menangkis serangan Arka.

"Lo apaan sih?! Ini rumah sakit." ujar Diki mencoba melerai dengan menahan Arka. Sementara Lean merengkuh dan melindungi Rahen, mengajaknya agak menjauh dari Arka.

Arka mencoba lepas dari rengkuhan Diki, cowok itu melepas jaketnya dan membuangnya sembarang. Arka maju menarik kerah baju Rahen, membawa tubuh cowok itu menatap dinding rumah sakit. Arka melempar tatapan membunuh ke arah Rahen.

"Lo berengsek jadi cowok," Satu pukulan lagi mendarat di wajah Rahen. Rahen pasrah saja, ia pantas menerima ini. Dan ini belum seberapa dibanding apa yang sudah ia lakukan ke Rahel.

"BERENGSEK LO!" Arka memukuli habis-habisan Rahen, Lean sudah kuwalahan menahannya sementara Diki dan Keenan berusaha menarik dan membendung pukulan Arka. Alee berdiri di samping Nina yang sama-sama panik.

"Arka! Ini rumah sakit. Tahan emosi Lo," ujar Keenan mencoba menarik pelan cowok yang sudah awut-awutan itu. Bajunya sudah lusuh, wajahnya ikut memucat.

Semua sama-sama hening, semakin dibuat tidak mengerti dengan dua orang ini.

"Ka. Gue minta maaf." Rahen membuka suara, tangannya menahan luka di sudut bibir akibat pukulan Arka. Rahen menatap Arka yang masih berusaha menahan emosinya dengan nafas yang menderu.

"Gue salah selama ini. Gue emang berengsek," ucap Rahen mengakui. Pemuda itu mencoba lepas dari rangkulan Lean, melangkah mendekati Arka. Lean tetap berjaga di belakang, kalau tiba-tiba Arka menyerang lagi.

"Bagus kalau Lo sadar," ujar Arka dingin, merapikan kemejanya. Nina jadi ngeri sendiri, merasakan hawa-hawa seram dengan dua pemuda itu.

"Gue nggak tau kalau Rahel adik gue," kalimat yang baru saja terlontar itu membuat suasana hening seketika.

Lean, Diki, Alee dan Nina saling pandang. Sementara Keenan tetap bersikap tenang, pemuda itu mengerti semua ini.

"Gue kira cuma firasat gue aja, tapi emang kenyataannya bener." ucap Rahen lagi. Pemuda itu membasahi bibir bawahnya, menahan perih disana.

"Gue yang salah. Gue udah buat Rahel begini. Lo mau apain gue terserah, gue terima," ujar Rahen merunduk seolah siap menerima konsekuensi apapun dari Arka.

Namun tidak ada pukulan sedikitpun dari Arka, pemuda itu malah tersenyum sinis. "Belum seberapa sama apa yang Lo lakuin ke Rahel. Biar Lo rasain sendiri akibatnya. Gue gak mau tau," balas Arka.

Rahen mendongak pelan, mengusap wajah kasar. Kemudian berjalan lemas menahan sakit di sekujur tubuhnya juga hatinya yang terasa nyeri. Cowok itu melangkah keluar rumah sakit.

Diki melempar tatap ke Lean, dan Lean yang baru paham langsung mengejar Rahen.

**

Jam dinding rumah sakit menunjuk pukul sebelas malam. Rahel masih berada di ruang ICU. Anak-anak masih menunggu di luar, sampai ada yang tertidur pulas di sofa.

"Nin, gue anter pulang," ucap Keenan membangunkan Nina yang tertidur di sofa ruang tunggu. Gadis itu mengerjap dan mengucek matanya kemudian memandang sekeliling.

"Rahel udah sadar?" tanyanya mengerling.

"Belum. Udah ada Arka sama Alee yang jagain. Diki juga, kita pulang aja," ujar Keenan lagi dan Nina mengangguk pelan. Dua orang itu segera pamit dan pulang duluan.

Bunda sudah sadar, tadi pak Aditya mengajak bunda keluae dahulu agar lebih tenang.

Alee duduk di kursi tunggu, sibuk dengan ponselnya membalas pesan anak-anak kelas yang bertanya kronologi kejadian. Sampai Alee mengirim voice not berdurasi 3 menit.

Terlihat dari arah parkiran depan Diki datang membawa bungkusan makanan. Pemuda itu mendekati Arka yang duduk di lantai bersandar di dinding.

"Makan dulu, Ka. Jangan nyiksa diri," ucap Diki tapi tidak ada respon dari Arka. Arka dari tadi melamun terus, membuat Alee dan Diki khawatir.

"Lee, makan nih. Gue beli tiga" ucap Diki bergantian ke Alee, yang dipanggil hanya mengangguk singkat lalu melirik Arka dan Diki bergantian. Disana Diki hanya mengedikkan bahunya, lalu berjalan ikut duduk bersama Alee.

Semakin malam semakin larut. Rahen datang lagi bersama Lean, muka cowok itu terlihat kacau juga, tidak berbeda jauh dengan Arka. Rahen duduk agak berjauhan dari yang lain, sedikit mencari ketenangan.

Mereka sama-sama diam, sampai akhirnya tertidur di tempat masing-masing.












***
Aku bangga sama mereka, cowok-cowok yang selalu jagain sesama huhu

Rahen Rahel [COMPLETED]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang