20. Perhatian
"Kenapa gue ikut sakit, Ra?"
**
Bunda sekarang sedang cemas, badan Rahel pagi ini mendadak panas sekali. Gadis itu hanya bisa mengerang pusing, bahkan tadi suhu tubuhnya 38°C.
"Kita bawa ke dokter." kata pak Aditya, berusaha membopong tubuh Rahel ke mobil. Rahen yang melihat itu entah kenapa mendadak khawatir dan memilih pergi ke sekolah dengan cepat.
**
"Aduh bidadari gue gak masuk." kata Lean berniat menggoda Arka yang dari tadi lesu. Diajak ngantin ogah-ogahan, diajak ke perpus minta di seret.
"Kita nanti jenguk Rahel, katanya dia di opname." Nina baru masuk kelas.
"Jadi kangen gue." ujar Irfan yang langsung mendapat lirikan tajam dari Arka.
"Tuh di mata Arka udah ada tulisan, 'She's mine' ngeri anjir." ujar Alee.
"Gercep dong. Gue salip lo makan ampas entar." kata Arsen menggeplak bahu Arka.
"Arka aja ditolak apalagi Arsen."
"Muka gue udah mirip iqbal nih." kata Arsen menyombongkan diri.
"Mirip setan iya." ini kata Yonna.
"Awas aja lo naksir gue." ancam Arsen membuat Yonna bergidik.
"Nan! Keenan! Gue nebeng!"
Alee dan Arsen mengekori Keenan keluar kelas, sudah seperti bodyguard.
"Selly sama siapa dong?" rengek gadis itu.
"Gue ada, Sel. Gak usah caper ke Alee anjir." ujar Yonna gemas sendiri sedangkan Selly jadi cengar-cengir malu.
**
Rumah sakit Giri Husada, tempat Rahel di rawat. Ternyata Rahel hanya sakit demam biasa, mungkin efek kelelahan kata dokter.
Iya, kelelahan nanggung beban sendiri.
"Makanya jangan minum kopi mulu." nasehat Metta yang tau betul Rahel itu gimana.
"Sekali kali minum sprite, nyegerin abis suer." ucap Alee.
"Emang ngaruh ya kopi sama demam?" tanya Arsen bingung.
"Ya ngaruh lah, lo aja gak tau." sungut Metta ke Arsen.
"Masa atlit karate tumbang." ucap Lean yang berhasil membuat Rahel terkekeh.
"Iya nih, ajarin dong, Hel. Biar gue bisa ngelindungin hati gue." ujar Alee mulai lebay. Teman-teman yang lain pun bahkan sudah siap menampolnya.
"Rahel cepat sembuh ya, entar gue nggak bisa pinjam earphone lo lagi." kata Selly mendekati gadis yang terbaring lemah itu.
Rahel hanya bisa tersenyum tipis, dari tadi pandangannya terus mencari Arka tapi pemuda itu tidak ada. Rahen dan Via pun juga tidak ada, tapi Rahel tak begitu mempermasalahkan itu.
"Lo cari siapa, Hel?" tanya Metta yang sadar wajah Rahel seperti mencari seseorang.
"Enggak kok." Rahel bergeleng lemah.
"Cari Arka ya?" tebak Irfan, kadang Rahel jengkel saat seperti ini. Pandangan anak ipa dua seakan mencelat, bergantian menatap Rahel dan Irfan, tanda meminta penjelasan.
"Eh enggak, gue becanda." Irfan terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya.
Mereka bergantian menimbulkan tawa, terutama Alee yang terus dicomblangin sama Selly. Arsen nomer satu kalau masalah begitu, tau kan Arsen itu jomblo abadi dari kelas sepuluh.
Satu per satu berpamitan kepada Rahel, ruangan dimana Rahel dirawat sudah sepi hanya menyisakan dirinya dan benda-benda di sekitarnya. Salah satunya cairan infus yang membuat Rahel menatap jengah.
Dirinya masih lemas, ditambah pikirannya selalu terbayang Arka. Kenapa dia tidak ikut anak kelas menjenguknya?
Kalian tau bahasa jawanya depan? Iya, NGAREP.
Pintu dibuka, sebuah kepala muncul disana.
Itu, Rahen bukan Arka. Ingin rasanya Rahel keluar dari ruangan ini, mendadak ia jadi gerah.
"Udah makan?" tanya Rahen ketika ia menjatuhkan badannya di sofa. Rahel diam, ia malah memandang lurus televisi di ruangan itu yang menampilkan sebuah sinetron.
"Sekalian telinga lo di periksa, kasian masih muda udah nggak fungsi." ujar Rahen membuat Rahel semakin muak.
Rahel ingin mengumpat sekarang. Tapi yang dilakukannya hanya membiarkan Rahen, berniat tidak menanggapinya.
"Gue beliin bubur ayam." Rahel melirik kantung plastik berwarna hitam yang dibawa Rahen dengan malas.
"Mau makan sekarang apa nanti?" tanya Rahen.
"Diem mulu, jawab. Lo pikir suara gue murah?!"
"Gue gak butuh." tiga kata keluar dari mulut Rahel begitu saja. Rahen mendengus seperti biasa mendengarnya.
"Gue suapin apa gimana? Manja amat. Gengsi lo?!"
Rahel mendecih di tempatnya, "Gak usah GR lo."
"Gue disuruh bunda, lo harus makan." Rahen akhirnya menuang bubur ayam itu ke mangkuk yang disediakan rumah sakit.
Kemudian cowok berbaju hitam yang baru saja melepas jaketnya tadi melangkah mendekati Rahel, sambil membawa mangkuk bubur ayam.
Rahen mengambil alih duduk disamping Rahel, "Nih, gue suapin." ujarnya mulai menyedok bubur.
Rahel tetap diam, tidak bergeming. Gadis itu mengacuhkan Rahen. Kenapa mendadak ia jadi baik? Apa ini hanya pencitraan cowok itu?
"Pinter drama ya lo?" ujar Rahel melirik sinis Rahen, yang dilirik hanya berdecak pelan.
"Lo lagi sakit. Debatnya kalau lo udah sembuh. Nih, makan." lelaki itu sudah mengayunkan sesendok bubur ayam ke arah Rahel.
Sementara di luar ruangan, seorang cowok yang basah kuyup karena hujan sore ini. Seragamnya yang basah ia tutupi dengan sweater maroon biasanya.
Dia, Arka. Menyaksikan lewat jendela bahwa ia tidak salah lihat.
Rahel sedang bersama Rahen, dengan Rahen yang perhatian menyuapi gadis itu.
Mendadak terpukul batinnya. Arka melirik kantung plastik berisi martabak telur untuk Rahel.
"Kenapa gue ikut sakit, Ra?"
***
Martabaknya dibawa pulang

KAMU SEDANG MEMBACA
Rahen Rahel [COMPLETED]✓
Fantasy"Yaudah, ayo jadian lagi." "Ha?" "Ayo jadian." [2019 - 2020]