Semilir angin menerbamgkan anak rambut Venus,udara yang sejuk tak mampu menghentikan air mata yang lancang menetes dari pelupuk matanya.
Disini lah dia sekarang,duduk bersimpuh tak mampu berdiri dengan sebuah pusara yang menyebarkan semerbak wangi dihadapannya.
Sudah satuh setengah jam ia tak berpindah seincipun dari tempatnya berdiri.
Langit yang gelap seolah mengerti kesedihannya,penyesalannya dan kemarahannya.
Disana,di bawah tanah tempatnya berpijak,Xander terbaring damai.
Tak satupun orang disana bersuara,mereka hanya mampu memandangi gadis yang kini masih terus saja mengeluarkan air matanya.
"Kenapa?" Itu kata pertama dari satu setengah jam yang lalu.
"Kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu lakuin ini? Kenapa kamu sakitin aku lebih dalam dari yang lalu? Apa salahku,Xander?" Isaknya pilu,papa Venus membawa istrinya pergi dari sana,ia takut istrinya akan pingsan jika melihat putrinya sperri ini.
Pasalnya mama Venus menangis sudah dari satu jam yang lalu.
Dan itu sungguh menghawatirkan.
"Apa kamu menghukum aku karena penolakanku? Apa kamu sakit hati dan tidak kuat dengan penolakanku,sehingga kamu memilih meninggalkanku?" Tutur Venus kepada pusara dihadapannya seolah ia memang benar Xander.
Axel berjongkok dan merangkul adiknya,sejujurnya rasa bersalah Axel lebih besar,penyesalan Axel seolah tak berujung.
Orang yang sangat di bencinya mengorbankan hidupnya untuk permata keluarganya.
"Untuk apa aku bisa melihat jika itu mengorbankan dirimu? JAWAB AKU XANDER!"kesal Venus,ia meraung,menyebut nama Xander seolah memastikan jika memang Xander tak bisa kembali.
"Sudah dek,ini pilihannya,jangan buat dia menyesal,jangan buat dia sedih."
"Tapi kak,dia bodoh,tidak seharusnya dia mendonorkan matanya untukku,tidak seharusnya dia seperti ini,seharusnya dia bisa bertahan dan tidak menyerah,seharusnya dia tetap menggangguku. TIDAK SEPERTI INI,AKU TIDAK MAU INI TERJADI"
Ya,seharusnya...seharusnya... dan seharusnya...
Itulah manusia,tapi apa mau dikata.
Xander sudah menentukan pilihannya.
Mendonorkan matanya untuk Venus,mengangkat Venus dari keterpurukannya.
Ia rela mengambil resiko meninggal di atas meja operasi dari pada melihat Venusnya menderita,sudah cukup penderitaan Venus yang di ciptakannya,jangan lagi.
"Venus".
Axel dan Venus menoleh,di sana,10 langkah di depannya,Brian berdiri,menggenggam sebuah kotak biru muda.
Brian berjalan mendekat,ia sangat miris dengan keadaan Venus yang acak-acakan.
Hatinya sakit ketika orang yang ia sayangi menangisi orang lain.
Tapi apakah pantas dia merasa seperti itu?
Brian merasa tidak cukup pantas jika di bandingkan dengan Xander.
Xander rela mengorbankan segalanya demi Venus.
Lalu dirinya?
"Ada apa?"sahut Axel.
Bahkan Venus tak mampu menjawab panggilan Brian.
Venus sudah terlalu lelah,tapi ia tidak mau pulang.
Brian berjongkok dengan satu lutut sebagai tumpuan.
"Hai... ini ada titipan dari Xander untukmu sebelum dia di operasi"Brian mengusap airmata Venus lembut.
"Jangan seperti ini,dia tidak menginginkanmu yang seperti ini.
Pulang dan bukalah kotak ini".
Venus mengangguk,ia berdiri setelah mengecup lama nisan Xander.
Ia menguatkan diri dan hatinya.
Brian benar,mungkin Xander tidak akan suka dirinya yang seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
VENUS (Complete)
RomancePlagiat far away!!!! Hasil mikir sendiri,tolong jangan copas. Thank u. VENUS Venus adalah nama planet,tapi Venus juga nama lain dari dewi Aprodhite,dewi perlambangan apa yang diinginkan setiap wanita. Venus di cerita ini bukan Venus/Aprodhite si dew...
