Semua orang berhak dicintai, tak terkecuali mereka yang pernah terluka, dipatahkan, dan berjuang sendirian menemukan apa itu bahagia.
"Everyone deserves to be loved. Terutama kamu, Sa."
(SUDAH TERBIT - tidak tersedia di toko buku)
🚫Slightly rated...
“Jangansuka aku.” peringat seorang gadis pada lelaki jangkung di hadapannya.
“Udahterlanjur.”
Gadis bersurai cokelat karamel itu mendesah pelan, “Then, stop it.”
“I can’t, and I don’t want to.”
Pelupuk mata indahnya kian menggenang mendengar itu, pun benda dalam dadanya terus menghentak-hentak seakan ingin meledak.
“Aku sulit, lebihsulit dari yang kamutahu.”
Si adam ikut menghela nafas, tangannya terulur menepuk-nepuk lembut kepala kecil yang kelewat banyak menyimpan sakit itu.
“Then, what? Aku nggakpeduli.”
Si gadis menggeleng kuat, “You can't find happiness on me.”
“But, you can find that on me.”
Sejak itu Sasa makin mengerti kenapa lelaki ini begitu penting untuknya, begitu berharga untuk hidupnya. Sebab hanya dia yang mampu memahami serumit apa jalan pikirnya, hanya dia yang bisa memaklumi se-random apa tingkah polahnya, hanya Jeffrey.
Darinya juga, Sasa berhasil menemukan kembali warna hidup yang sempat pudar dan nyaris hilang. Dari dia, seorang lelaki dengan paras indah bernama Jeffrey Evan Aditya.
Mudah menemukan makhluk Tuhan kelewat sempurna ini. Biasanya pada pagi hari di pelataran parkir sembari menunggu kelas pertama, Si adam sudah duduk rileks di atas jok motornya dengan uap vapor keluar dari celah kecil bibir ranumnya.
Atau, sosok jangkung berkulit seputih susu yang paling mencolok diantara para lelaki di sana yang tengah asik nongkrong. Yang sekali lagi ditemani kepulan asap rokok yang bercampur dengan uap vapor bermacam rasa, ditambah dengan perbincangan nyeleneh, dan satu set kartu uno.
Atau juga, seorang mahasiswa teknik komputer semester 6 yang akan kalian jumpai sedang duduk di depan counter bar dengan segelas alkohol selesai ditenggak pada malam pergantian hari.
Besar kemungkinan Sasa tidak akan menemukan semua itu pada diri Jeffrey saat ini, karena yang Ia tahu Jeffrey Evan Aditya adalah sosok manis dengan rambut hitam berantakan di ujung meja sana yang baru saja mengajaknya pergi meninggalkan rapat UKM.
KakJef
Ngantuk:(
pulang kuy
09.24 PM
Sasa tersenyum lalu mengetikkan pesan balasan singkat.
Masih, bahkan didetik ini pun hatinya masih mempertanyakan perihal eksistensi lelaki itu dihidupnya.
Lelaki yang hampir tidak pernah meminjamkan jaket pada Sasa ketika mengantarnya pulang tetapi selalu menghangatkan dengan caranya sendiri.
"Aku pelankokbawamotornya. Tebakkenapa?"
"Biarakunyanggakkeanginan?"
Cowok itu mengangguk pelan, "Sama biarbisa lama-lama juga dipelukkamunya hehe.."
Lelaki ini juga yang selalu memosisikan diri pada bagian luar jalan manakala keduanya berjalan berdampingan.
"Salah nih. Tukeran."
"Ya ampun, inikoridorkak."
Juga lelaki Evan ini yang selalu menolak ketika bahunya dijadikan sandaran, namun dengan senang hati meminjamkan dadanya untuk sejenak disinggahi.
"Kalau capek bilang aja, aku bakalpelukkamusampai capek nyailang."
Benar lelaki ini, si Jeffrey Evan ini,
Yang semudah itu membuat Sasa jatuh hati dengan segala perlakuan sepele tak berarti yang nyatanya sangat manis dirasa.
Manis, sangat manis, kelewat manis sampai-sampai Sasa takut jika semua hal manis itu tak akan bertahan lama. Lalu perlahan menjelma menjadi kenangan pahit yang menyakitkan untuk diingat.