Dia, Jeffrey Evan

1.4K 105 21
                                        

Jangan suka aku.” peringat seorang gadis pada lelaki jangkung di hadapannya. 

Udah terlanjur.”

Gadis bersurai cokelat karamel itu mendesah pelan, “Then, stop it.”

“I can’t, and I don’t want to.”

Pelupuk mata indahnya kian menggenang mendengar itu, pun benda dalam dadanya terus menghentak-hentak seakan ingin meledak.

“Aku sulit, lebih sulit dari yang kamu tahu.”

Si adam ikut menghela nafas, tangannya terulur menepuk-nepuk lembut kepala kecil yang kelewat banyak menyimpan sakit itu.

“Then, what? Aku nggak peduli.”

Si gadis menggeleng kuat, “You can't find happiness on me.”

“But, you can find that on me.”






Sejak itu Sasa makin mengerti kenapa lelaki ini begitu penting untuknya, begitu berharga untuk hidupnya. Sebab hanya dia yang mampu memahami serumit apa jalan pikirnya, hanya dia yang bisa memaklumi se-random apa tingkah polahnya, hanya Jeffrey.

Darinya juga, Sasa berhasil menemukan kembali warna hidup yang sempat pudar dan nyaris hilang. Dari dia, seorang lelaki dengan paras indah bernama Jeffrey Evan Aditya.



Mudah menemukan makhluk Tuhan kelewat sempurna ini. Biasanya pada pagi hari di pelataran parkir sembari menunggu kelas pertama, Si adam sudah duduk rileks di atas jok motornya dengan uap vapor keluar dari celah kecil bibir ranumnya.

Atau, sosok jangkung berkulit seputih susu yang paling mencolok diantara para lelaki di sana yang tengah asik nongkrong. Yang sekali lagi ditemani kepulan asap rokok yang bercampur dengan uap vapor bermacam rasa, ditambah dengan perbincangan nyeleneh, dan satu set kartu uno.

Atau juga, seorang mahasiswa teknik komputer semester 6 yang akan kalian jumpai sedang duduk di depan counter bar dengan segelas alkohol selesai ditenggak pada malam pergantian hari.




Besar kemungkinan Sasa tidak akan menemukan semua itu pada diri Jeffrey saat ini, karena yang Ia tahu Jeffrey Evan Aditya adalah sosok manis dengan rambut hitam berantakan di ujung meja sana yang baru saja mengajaknya pergi meninggalkan rapat UKM.



Kak Jef

Ngantuk:( 

pulang kuy

09.24 PM



Sasa tersenyum lalu mengetikkan pesan balasan singkat.

Masih, bahkan didetik ini pun hatinya masih mempertanyakan perihal eksistensi lelaki itu dihidupnya.


Lelaki yang hampir tidak pernah meminjamkan jaket pada Sasa ketika mengantarnya pulang tetapi selalu menghangatkan dengan caranya sendiri.

"Aku pelan kok bawa motornya. Tebak kenapa?"

"Biar akunya nggak keanginan?"

Cowok itu mengangguk pelan, "Sama biar bisa lama-lama juga dipeluk kamunya hehe.."


Lelaki ini juga yang selalu memosisikan diri pada bagian luar jalan manakala keduanya berjalan berdampingan.

"Salah nih. Tukeran."

"Ya ampunini koridor kak."


Juga lelaki Evan ini yang selalu menolak ketika bahunya dijadikan sandaran, namun dengan senang hati meminjamkan dadanya untuk sejenak disinggahi.

"Kalau capek bilang aja, aku bakal peluk kamu sampai capek nya ilang."




Benar lelaki ini, si Jeffrey Evan ini,

Yang semudah itu membuat Sasa jatuh hati dengan segala perlakuan sepele tak berarti yang nyatanya sangat manis dirasa.



Manis, sangat manis, kelewat manis sampai-sampai Sasa takut jika semua hal manis itu tak akan bertahan lama. Lalu perlahan menjelma menjadi kenangan pahit yang menyakitkan untuk diingat.

Kamu itu, datang mau mengerti atau sekedar mengenal lalu pergi?

Lalu pada ketakutan yang Sasa rasakan, lelaki itu datang dengan lengan terbuka. Menawarkan raga yang siap menjaga dan hati yang siap melindungi.

We can’t choose who we have crush on, Sa. It just happens. Like us. Dan aku di sini, buat kamu.”























"Kamu itu, mau mengerti atau sekedar mengenal lalu pergi?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kamu itu, mau mengerti atau sekedar mengenal lalu pergi?"




Bersambung ke 'Dia, Alysa Milania' 👉

[✔] NUMBCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang