Cinta pertama itu indah.
Tapi tidak bagiku
Bagiku cinta pertama itu arumi senja--(rumi menodongkan tangannya ke arah Bian. Bian yang bingung hanya menaikkan sebelah alisnya . "Dari pada ngegembel mending minta uang buat beli gorengan)
Minggu pagi yang cerah. Dia-- gadis dengan balutan busana sederhana itu sudah duduk manis di depan pos satpam rumah Bian.
Mulutnya tak henti mengucapkan kata-kata yang sukses membuat pak Yono--satpam rumah Bian tertawa lepas. Bukan hanya itu, tangan nakalnya dengan enteng mengambil pisang goreng yang tersedia di atas meja dan memakannya lahap. Jangan lupakan secangkir kopi hitam di hadapannya. Rumi dengan hati-hati meminum kopi tersebut tepat di samping pegangan cangkir. Jaga-jaga katanya.
Pak Yono bukannya marah, malah terkikik geli melihat tingkah laku Rumi. Jarang sekali ada gadis bar-bar yang berkunjung ke rumah majikannya ini.
"Wahh! Ada satpam baru yaa Pak?" Suara itu sukses membuat Rumi beranjak dari duduknya. Dengan mulut penuh pisang goreng dan sisa ampas kopi di sudut bibirnya.
"Eh tante cantik! Selamat pagi tante!" Sapa Rumi setelah dengan susah payah menelan segumpal pisang goreng di mulutnya.
Wanita garang di hadapannya saat ini menatap Rumi bagai buronan. Tajam, matanya meneliti penampilan Rumi yang terlihat sangat sederhana. Celana bahan kain berwarna coklat dengan kaos putih lengan pendek yang kebesaran.
Jauh. Batin wanita itu dengan miris.
"Mau apa kamu kesini? Numpang sarapan? Apa minta sumbangan?" Wanita berwajah garang itu semakin menunjukkan tatapan tak sukanya. Sementara Rumi hanya tersenyum dengan deretan gigi putihnya yang nampak jelas.
"Ahhahah Tante mah bercandanya lucu banget." Rumi mulai bergaya seakan-akan kehabisan nafas karena tertawa. Begitu juga dengan Pak Yono yang sudah memegangi perutnya. Tapi bukan karena ucapan majikannya, melainkan gaya ketawa Rumi yang aneh dan teihat menggelikan.
"Saya tidak bercanda," desis bunda Bian tajam.
"Kamu ini ya. Gak tau sopan santun. Pagi pagi datang bertamu dan malah mem--"
"Bunda!" Dan suara penyelamat Rumi pun akhirnya datang. Dengan sangat senang hati Rumi menghampiri sang kekasih dan mengenggam telapak tangannya. Dilanjut dengan Bian yang mengelus puncak kepala sang kekasih lembut.
"Bunda jangan gitulah kalo sama pacar Bian." Bunda Bian malah mencibir dengan jelas setelah mendengar ucapan Bian.
"Dia aja ya rese," sahut Bunda Bian dengan nada yang sedikit merajuk.
"Loh Tan--" ucapan Rumi terhenti saat mendapat kode berupa injakan keras di kakinyaa. Kepalanya mendongak menatap sang kekasih tak terima.
"Bunda Dina yang cantik, udah ya jangan marah marah. Masih pagi lo Bun," ucap Bian sambil cengengesan. Rumi yang berotak brilian itu pun menyahuti ucapan Bian. Dengan harapan membuat sang calon mertua ngakak sampai bulu mata anti badainya pindah ke mata Rumi.
"Iya tante jangan marah marah. Liat tuh keriput tante makin banyak." Tawa Rumi seketika terdengar setelah mengucapkan kalimt terlarang itu.
"Dasar anak nggak tau sopan santun," teriak bunda Bian dengan tangan yang sudah berancang-ancang melayangkan cubitan ke arah Rumi.
"Tau kok Tan. Dulu Rumi pernah diajarin nenek," ucap Rumi panik sambil berjalan tergesa memperlebar jarak dengan sang wanit baya.
"Rumi," desis Bian sedikit kesal. Rumi yang dipanggil dengan nada seperti itu pun hanya menghela nafas pasrah.
"Gini salah, gitu salah, ngomong jujur pun salaj," gerutu Rumi dengan bibir mengerucut sebal.
"Bian mau keluar sama Rumi Bunda. Bunda izinin kan?" Mata wanita paruh baya itu langsung terbuka lebar. Bagaimana tidak. Anaknya yang super tampan dan modis ini mau jalan dengan perempuan yang berpenampilan macam gadis desa yang tak ada apa-apanya.
"Nggak." Tegas bunda Bian.
"Loh Tan. Nggak kasian sama Rumi apa? Ini Rumi udah dandan cantik lo Tan buat jalan sama Bian."
"Bun Bian cuma mau ngajak Rumi--"
"Kamu nggak lupa kan Bi, kalo hari ini kamu ada janji buat nemenin Tari?" tanya wanita itu sukses membungkam kedua remaja yang sama-sama dipatahkan harapannya.
Pias.
Bian bahkan melupakan hal penting itu. Lalu bagaimana dengan acara kencannya dengan Rumi?
Bian melirik ke arah Rumi. Dilihatnya gadis itu tengah mendongakkan kepalanya sambil tersenyum pasrah.
****
Bian dan Tari sudah selesai dengan urusannya di rumah sakit. Sekarang mereka berdua tengah duduk bersanding di taman dempan komplek rumah mereka.
Seperti biasa. Tari akan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan meletakkan kepalanya di bahu Bian. Dan seperti biasa pula. Bian akan mengelus puncak kepala Tari dengan pandangan yang mengabur ke mana-mana.
"Bian. Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Tari sambil mendongakkan kepalanya.
"Hemm tanya aja." Mata Bian menatap lurus kearah penjual kembang gula di pinggir jalan.
Dia kembali teringat Rumi. Gadis itu sangat-sangat tidak menyukai makanan manis itu. Dan dengan senangnya Bian selalu membelikan kembang gula itu saat tengah bersama Rumi. Yang berakhir dengan Bian yang kehabisan nafas karena dikejar makhluk astral berwujud manusia seperti gadisnya.
Menyenangkan. Pikir Bian.
"Kamu beneran suka ya sama Rumi?" Tari bertanya dengan sedikit rasa takut. Dan Bian yang mendengarnya langsung tersenyum lebar.
Rumi.
"Bahkan gue udah sayang banget sama dia," ucap Bian sambil tersenyum manis.
Tari pias. Matanya memejam menahan rasa sakitnya.
"Apa yang buat kamu sayang sama Rumi Bi?" tanya Tari penasaran.
"Dia itu enggak cantik, aneh, ngeselin, bikin orang malu aja bisanya." Bian terkekeh kecil di akhir ucapannya. Memandang langit biru dengan seulas senyum yang merekah. Tari yang melihat raut Bian lagi-lagi harus menghembuskan nafas pelan.
"Tapi dia bisa bikin gue selalu ketawa. Rumi itu unik."
"Kalo gitu. Kamu beruntung punya Rumi." Tari berucap sambil tersenyum. Tersenyum masam tepatnya. Sedangkan Bian lagi-lagi tersenyum lebar. Membayangkan segala tentang Rumi selalu membuat dia bahagia.
"Lo tau Tar?"
"Apa?"
"Rumi itu cinta pertama gue. Dan selamanya akan tetap begitu."
Cinta pertama?
Sekarang Bian sudah benar benar terjerat oleh kata itu. Seakan-akan sudah tak dapat lepas lagi olehnya. Hubungannya dengan rumi memang masih singkat. Tapi perasaànnya dengan Rumi sudah lama terikat.
****
140420
KAMU SEDANG MEMBACA
ARBIAN
Fiksi RemajaSenja dan Fajar Mustahil untuk bersatu Senja di barat Fajar di Timur Dan Mentari di pihak netral Senja dan Fajar emang enggak akan bisa menyatu. Tapi bisa saling melengkapi kan? Lalu Mentari?
