17. Jatuh

65 18 53
                                        

Angin berhembus merdu
Menyisakan kesejukan yang menghangatkan kalbu
Nafasku berhembus syahdu
Menyaksikan tawa yang bersenandung pilu
Kepalaku seketika tertunduk layu
Saat pertanyaan terlonyar dariku 'apa harapanmu?'
Dan katamu 'Seribu cireng datang menghampiriku!'

Ketika momen romantis berlalu menyisakan sendu.
.
.

"Arbian Arbian Arbian."

"Jelek jelek jelek."

"Seylalu seylalu seylalu ada di hatiku."

Gadis berkuncir kuda yang tengah sibuk mengenakan jaket kain coklat milik kekasihnya itu terus menggumamkan lagu yang tengah marak diputar di mana-mana.

Beberapa lirik yang diganti dengan seenaknya membuat sang kekasih yang namanya dibawa-bawa berkeinginan keras untuk menyumpal mulut gadisnya dengan segenggam nestafa.

"Diem Rumi," desis Bian sambil menepuk puncak kepala Rumi keras. Dirinya mulai jengah mendengarkan gumaman sang kekasih, ditambah menunggu sang kekasih yang tengah sibuk mengenakan jaket miliknya.

"Bisa gak sih? Lama banget."

Rumi menganggukkan kepalanya dua kali. Bian yang melihat itu langsung menaiki motornya, menyalakan mesin dan kembali memandang sang kekasih yang masih sibuk mengenakan jaket.

Hembusan nafas terdengar dari arah laki-laki itu. Cuaca pagi hari yang lumayan panas semakin dibuat memanas oleh gadis tengil yang masih sibuk dengan dunianya.

"Bian! Tangan gue mana coba?"

Bian terkekeh lalu kembali turun dari motornya. "Lo ada ada aja sih," ujar Bian merasa heran.

Rumi hanya tersenyum memamerkan giginya. Badannya bergerak untuk menggoyangkan kedua lengan jaket yang tak berisi tangan. Kedua alisnya naik turun secara bersamaan membuat sang kekasih tak bisa menahan dirinya untuk tertawa.

"Banyak tingkah banget sih lo?"

Rumi semakin gencar untuk menggerakkan kedua lengan jaketnya yang kosong itu. "Tangan gue mana sih Bi? Gak keluar keluar."

"Udah deh Rum! Nanti kita telat loh."

Rumi mengangguk. "Cari tangan gue dulu!"

Bian menggelengkan kepalanya jengah. Tangannya langsung meraih resleting jaket dan membukanya. Saat tangannya hendak memasukkan tangan Rumi kedalam lubang jaket yang menjadi tempat tangan seharusnya berada, Rumi malah meloloskan dirinya dari kungkungan jaket itu.

"Pakek aja! Gue gerah," ucap Rumi dengan tangan yang mengibas di depan wajah.

"Nanti masuk angin loh," balas Bian.

"Angin takut sama gue kalik."

Rumi tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Bian keras. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya heran. Kembali menaiki motornya dan menoleh ke arah gadis yang masih memasang senyum lima jari yang tak menyurut sama sekali.

"Ngapain coba senyum-senyum terus?" tanya Bian karena merasa heran dengan tingkah jenaka kekasihnya.

"Gak boleh apa?"

ARBIANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang