12 : Identitas Semu

61 11 1
                                    

Tanganku menghempaskan dia ke dalam mobil hitam secara kasar. Gadis ini keras kepala dan kini dia harus tahu bahwa dia salah memilih bergaul denganku. Kami pergi dalam diam bahkan musik pun tak ada sama sekali. Aku naik pitam melihat dia mau diajak ke bar. Apakah itu demi aku atau sesuatu yang lainnya yang telah direncanakannya? Jujur banyak hal di luar dugaan. Tidak semua yang kelihatan sama seperti ketika bersembunyi. Bisa saja berbeda. Dalam amarahku saat ini, tersirat banyak sekali kekecewaan terhadap sikap Grace.

Setelah setengah jam kami di perjalanan, kami sampai di depan bar. Aku tak mau bertanya apakah dia yakin atau tidak. Dia ikut melangkah gugup ke dalam bar. Seragam khas sekolah kenamaan yang dia kenakan saja tak layak untuk berada disini. Apalagi dirinya. Kulihat lamat-lamat tetapi dia justru mengajak masuk kedalam. Senyuman paksaan diberikan padaku. Apakah memang mengajakku ke gereja menjadi misinya sehingga dia mau ke bar sebagai kegiatan barter diantara kami? Kebingungan yang kumiliki masih belum terjawab.

Begitu kami masuk, musik sudah langsung menerobos masuk ke gendang telinga kami. Gadis itu mengernyit mencoba menyesuaikan diri. Bau-bau alkohol yang memenuhi ruangan pun bisa tercium. Kuperhatikan dia lagi, diangkatnya tangan kanannya menutup hidungnya samar-samar. Dia berusaha menyamar agar tidak ketahuan tidak nyaman dengan tempat ini. Namun tetap saja tidak berhasil. Ketua UKS ini terlalu kentara bahwa dia tidak cocok berada di gedung minim penerangan ini.

Satu pelayan datang menghampirinya dan menawarkan minuman. Dia tersenyum masam sambil menggeleng. Bisa kurasakan betapa terpaksanya dia disini. Lagi, seorang pria mencoba datang menyambarnya, mencoba untuk mengobrol. Aku tak bisa mendengar obrolan mereka. Yang kutahu pasti, itu bukan obrolan yang menarik. Grace langsung pergi menjauh dan menujuku.

Kuperhatikan dia dengan seksama dengam pakaiannya yang begitu berbeda dengan perempuan-perempuan yang ada disini. Ini tidak benar. Dia tak boleh disini. Dia harus keluar dari sini sesegera mungkin. Tak tahan melihatnya, aku menariknya dan membawanya keluar. Belum lagi menuju meja bartender tapi dia sudah kewalahan beradaptasi.

"Lihatlah! Kau tak cocok sama sekali datang kesini. Begitu pula aku jika datang ke gereja Grace" aku berkata lebih lembut dengannya. Kucoba memberi alasan kuat dengan nada yang rendah. Seumur-umur dia satu-satunya gadis selain ibuku yang kuperlakukan begitu. Gadis itu diam dan melihatku dengan tenang. Kami beradu pandang dan saling menelusuri sejauh mana kami saling peduli satu sama lain.

"Tidak ada yang cocok hidup begini Watson. Tidak aku, tidak pula kau" gadis ini berkata lembut seolah air yang menyiram bara api. Aku tertegun mendengar perkataannya. Iya kan? Aku dan dia sama bukan? Jika aku bilang bahwa dia tidak cocok, lantas apakah aku memang terlihat serasi hidup seperti ini selama ini? Atau tidak cocok sama sekali makanya Grace ingin membawaku keluar dari kelamnya dunia malam, sama halnya yang kulakukan terhadapnya – membawanya keluar dari bar karena dia tidak pantas berada disana?

"Semua orang yang datang kesini bukan dengan diri mereka Watson tetapi dengan amarah mereka, emosi atau nafsu birahi semata. Mereka bukan lah menjadi diri mereka yang seutuhnya makanya mereka kelihatan cocok dan serasi dengan tempat ini. Disaat mereka bukan diri mereka, dunia menawarkan diri baru yang memberi kita identitas yang menyimpang" dia benar sekali. 100 persen benar sekali. Aku selalu datang ke tempat seperti ini karena amarahku terhadap perlakuan ayahku, karena nafsuku yang telah terangsang dan mungkin hal-hal yang memang tidak kontrol dengan baik. Semuanya itu lama kelamaan menjadi kebiasaanku dan kuanggap itu sebagai jati diriku. Penjelasannya masuk akal sekali.

Mataku menatap ke bar. Beberapa gadis bergoyang tanpa ragu, para pria dengan kemabukan yang membawanya keluar dunia nyata. Aku sadar ini hanya pelarian semata, bukan jati diri. Ini adalah penawaran wajah baru di dunia lain bukan dunia yang sebenarnya. Seketika kepalaku serasa membesar dipenuhi pencerahan-pencerahan yang dahsyat. Mataku berkaca-kaca menahan air dari pelupuk mata. Pandanganku dibersihkan dan dapat melihat jalan dengan benar, tidak ada bayang 2 seperti hari-hari sebelumnya saat mabuk. Tidak tahu alasannya tapi aku serasa menemukan mata air kecil di tengah kehausanku selama ini. Aku ingin menangis karena bahagia, berhasil menemukan niat untuk keluar dari cengkraman iblis dunia ini. Aku diam membisu dan memasuki mobil. Grace mengekor dari belakang dan duduk di sebelah kiriku. Mobil berwarna hitam membawa kami pulang.

Kukira Grace akan mengecewakanku dengan minum di bar demi menyenangkanku tapi ternyata tidak. Grace adalah sosok gadis yang memang mampu membuat roh kebaikan masuk kedalam setiap jiwaku. Dia membuatku dirasuki hal baik. Kupikir Grace akan terpengaruh hal buruk dengan mau mencoba ke bar. Tetapi, dia justru memperlihatkan padaku bukti bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang cocok dengan tawaran surga dunia. Itu semua bersifat fana. Dia dengan cakap memberiku penampakan yang baik.

***

To be continued ...

Dear Atheism, I am (A) ChristianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang