10 : Permulaan Misi (2)

65 12 1
                                    


Hari ini adalah hari Sabtu dan merupakan akhir pekan. Hari-hariku terasa lebih cepat berlalu akhir-akhir ini, tak tahu mengapa. Setelah percakapan kami diatap waktu itu, kami menjadikan atap sekolah tempat pertemuan kami tapi aku masih enggan diajak ke panti asuhan Kasih Bapa lagi. Masih sedikit yang kutahu dari Grace. Hal yang bertambah mengenai dia adalah tentang penyakitnya yang dia sendiri baru tahu sewaktu awal semester genap. Itu artinya baru beberapa bulan ini dia mengetahui hal itu.

Kemarin dia bercerita padaku kalau dia tidak memberitahu orang tuanya perkara penyakit tumor otak yang dideritanya. Alasannya karena dia tidak mau diperlakukan sebagai anak perempuan yang sekarat. Aku diam saat itu. Semakin kesini, dia semakin mirip ibuku. Tidak mau memberi tahu penyakit yang dideritanya pada orang-orang terdekatnya.

Sesekali dalam pertemuan atap kami, aku mengeluarkan rokok dan menyundutkannya di bibirku.

"Apa kau mau aku semakin cepat meninggal?" pertanyaan yang akhir-akhir ini dilontarkan padaku.

Lucu juga jika mengingat beberapa kalimat yang sama kalau didengar secara rutin. Semacam sapaan jadinya. Jika dia sudah berkata begitu aku menjadi luluh teringat pada ibuku lagi. Kadang terpikirkan olehku, bisa saja ibuku meninggal lebih cepat karena ayahku dari dulu merokok di dekat ibuku yang sebenarnya sedang sekarat. Aku tak tahu sama sekali soal kesehatan ideal itu bagaimana, tapi aku memang tahu kalau merokok itu dapat membunuh, baik itu aktif maupun pasif.

Pernah sekali Grace datang membawakanku makanan panjang dan kenyal sebagai pengganti rokok. Cara makannya harus sabar karena sulit untuk dikunyah seperti permen karet tapi aman untuk ditelan. Dia bilang kalau seharusnya saat bertemu dengannya aku membawa makanan yang tak kutahu apa namanya itu. Memperlambat kematian dia katanya.

"Hai" seorang gadis datang dari belakangku. Aku diam dan buru-buru kumatikan bara api yang ada di ujung batang rokokku.

"Apa kau tuli lagi?" suara Grace dengan pertanyaan lama yang tak pernah lagi kudengar.

"Apa yang kau lakukan?" dia berjinjit berusaha menilik aku ke kanan dan kiri.

"Tidak ada" kataku sambil berbalik ke arahnya.

"Dia merokok lagi Grace" itu seruan dari kelompok berandal yang ada di sudut atap.

Ternyata Grace adalah anak yang dikenal 5 berandal itu. Mereka sama-sama jurusan IPA makanya mereka jadi segan untuk memukulku. Entah apa alasan atau pikiran mereka sehingga segan memukulku, aku tak mau tahu. Grace melihatku dan mengerucutkan bibirnya. Jika dia seperti ini pasti dia akan berkata "Kapan kau akan berhenti merokok?" Baru-baru ini dia sudah menjadi mudah ditebak meski terkadang aku sadar bahwa banyak lagi misteri tentang dia yang belum kutahu.

"Ini akhir pekan, apa kau mau mewujudkan tujuanmu itu?" aku bertanya padanya. Dia satu-satunya orang yang berhasil bercakap-cakap dengan aku. Setelah lama bersekolah disini baru dengannya lah aku bebas mengeluarkan suara. Aku hanya tidak mau membiarkan orang mati tanpa mencapai tujuannya. Setidaknya itulah alasanku saat ini.

Grace menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Grace lama sudah kembali - penuh tanya. Ekspresinya tidak bisa kutebak. Gelengan biasanya menandakan penolakan kan?

"Sebaiknya kita melakukannya sewaktu libur. Minggu depan kita sudah ujian nasional, mari fokus kesitu dulu" dia mengeluarkan buku. Dia mengajakku belajar bersama di atap sekolah.

"Kami pulang dulu, Grace, Bro" kelompok siswa yang ada di atap itu pergi meninggalkan kami. Hanya ada kami berdua sekarang.

"Ayo belajar"

"Tunggu dulu. Bagaimana kau kenal mereka?" tanyaku

"Kelas mereka letaknya di samping kelasku" aku manggut mengerti.

"Sekarang ayo belajar!" dia mengajak untuk kedua kalinya.

"Aku tidak mau. Belajarah sendiri!" aku pergi meninggalkannya dan menuju sudut atap, tempat kelompok siswa yang merokok tadi. Grace diam di tempatnya dan tak menghentikanku. Kulihat dia membuka bukunya dan mulai membacanya. Dari kejauhan sini aku bisa menatapnya sebagai makhluk yang ajaib, yang mengingatkanku pada almarhum ibuku. Sembari menunggu dia selesai dengan buku tebalnya itu, aku memasang musik dari Iphone dengan suara yang tidak terlalu keras. Kubiarkan dia dengan tenangnya dan dia juga membiarkanku pada kebiasaan lamaku. Kutilik jalan raya dari tepi pembatas pinggiran di atap ini. Aku membakar rokokku dan mengisapnya dengan tenang, tidak secepat seperti kebiasaan lamaku. Aku memang sudah berubah.

Senja sedang dalam perjalanannya menuju negeri Indonesia. Dia hendak melukiskan warna oranye di langit dengan awan yang semakin tampak tipis. Ole-ole dari senja seperti angin dingin dan pemandangan eksotis memukau mata biruku.

Hening. Dipikiranku saat ini kosong dan diam meskipun lantunan lagu-lagu masih berputar dari mesin petak yang ada di sampingku. Perempuan diujung sana juga sudah selesai dengan pekerjaan membaca dan entah apapun itu. Dia juga ikut menatap dari posisinya 10 meter dari kananku. Ini jauh berbeda dengan tahun, bulan, minggu, dan hari sebelumnya, saat sampah ikut menatap apa yang kutatap. Kala itu aku menganggap bahwa aku sama dengannya yang hanya menunggu truk besar untuk dibawa ke pembuangan lalu dibakar. Hangus dan tak berguna. Kesadaranku berangsur-angsur di pengaruhi gadis yang disana. Gadis yang sama denganku - bukan dengan sampah. Kami berdua larut dalam pikiran masing-masing.

Benar tujuan hidupku saat ini belum kuketahui sama sekali tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tak mau orang yang kukenal mati sebelum mencapai tujuannya. Berbagi harapan tak membuatku rugi sama sekali.

"Watson!" dia mendatangiku.

"Senin kita akan ujian. Apakah kau mau besok ke gereja? Ahh, maksudku melakukan ibadah?" Grace bertanya padaku. Ralat. Kurasa itu merupakan ajakan darinya.

To be continued...

Dear Atheism, I am (A) ChristianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang