21. Other People

331 46 79
                                        

Sandara menghampiri Jinu yang sedang sibuk memoleskan beberapa warna di kanvasnya. Anak keduanya itu memakai berbagai macam warna yang cerah, hingga membuat lukisan setengah jadi itu terlihat indah. Sandara tersenyum, ia membelai surai sang putra dengan lembut.

"Ibu?" Jinu menoleh mendapati wajah hangat sang orangtua.

"Ibu kira kau tak akan mau melukis lagi," ucap Sandara, mengingat Jinu bahkan tak sedikit pun melirik ke galeri seni kecil itu dan memilih berdiam diri di kamar. Sebesar itu kah dampaknya putus cinta? Kini Sandara mulai memahami.

"Aku sedang senang," jawab Jinu sembari memoleskan kuasnya.

"Kira-kira, apa yang membuat putraku begitu senang?" tanya Sandara. Jinu berhenti sejenak dari aktivitasnya, ia terlihat berpikir namun seolah tak mau membagi apa yang ia rasakan pada sang ibu. Benar-benar tak seperti biasa.

"Entahlah," jawab Jinu yang kemudian kembali menggerakkan kuasnya.

"Maafkan ibu."

Jinu tersentak. Ia menoleh menatap wajah sang ibu yang saat ini nampak begitu menyesal.

"Untuk apa?"

Sandara menghela nafas pelan. Ia merasa begitu jahat sebelumnya pada sang putra. "Ibu baru saja mengetahui sebuah fakta—"

Jinu berdiri kemudian memegang kedua bahu Sandara. "Fakta apa itu, bu?" tanyanya penasaran.

"Soal Jennie Kim," jawab Sandara. Jinu membeku, jantungnya berdebar-debar tak karuan. Ia takut jika fakta yang diketahui Sandara bukanlah hal yang sama dengan yang ia tahu.

"Skandal itu tidak benar. Jennie Kim bukan peselingkuh. Ada seseorang yang memfitnahnya," lanjut Sandara. Jinu melemas, ia kembali duduk dan menghela nafas lega.

"Syukurlah," lenguhnya, "tapi dari mana ibu tahu?" tanya Jinu.

"Itu tidak penting. Tapi, percayalah ibu akan membuat pelakunya menyesal seumur hidup," tegas Sandara. Jinu sebenarnya cukup penasaran. Tapi, kali ini ia akan menyerahkan masalah ini pada sang ibu. Ia percaya bahwa ibunya bisa diandalkan.

"Ibu tidak akan melarangmu lagi. Jika kau mencintainya, maka kejarlah dia!"

Jinu tersenyum lebar. "Tanpa ibu suruh, aku sudah mengejarnya diam-diam."

Sandara membulatkan mata.

"Aku sudah mendapatkannya kembali. Jadi, ibu tidak perlu khawatir," lanjut Jinu yang masih menampilkan senyumnya.

♡♡♡

Langkah gadis bersepatu high heels itu terhenti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langkah gadis bersepatu high heels itu terhenti. Ia nampak ragu kini. Ditatapnya rumah bergaya klasik yang berdiri kokoh di depannya. Ia menunduk, malu ketika mengingat apa yang telah ia perbuat kala itu. Tapi bukankah tidak ada kata terlambat untuk minta maaf?

Lovely Stranger [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang