32. I'll Waiting for You

227 28 44
                                        

Jennie berlari menelusuri jalanan ramai di depan balai pelatihan militer. Baru saja tadi pagi Jaewon menghubunginya dan berkata bahwa Jinu akan memulai wajib militer hari ini. Jaewon bilang, karna sibuk mengurus persiapan membuat Jinu tak sempat mengabari Jennie.

"YAKK!!! KIM JINU!!!" pekik Jennie sesaat setelah dapat mengejar laju kaki Jinu yang cepat. Pria itu berhenti dan menoleh ke belakang. Ia dapati Jennie dengan raut muka yang nampak marah.

"Jennie," jawabnya dengan suara lirih. Perlahan Jennie mendekat dan berdiri tepat di depan Jinu. Matanya mulai berkaca-kaca seolah mengisyaratkan kekecewaannya pada sang kekasih.

PLAKKK!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jinu diikuti air mata yang mulai mengalir di pipi Jennie. Pria yang ditampar kini hanya tersenyum menatap wajah sang kekasih.

"Teganya kau..." Perkataan Jennie terputus ketika ia berusaha menahan air matanya, "kau anggap aku apa? KENAPA TIDAK MENGABARIKU TERLEBIH DULU!" marahnya.

Jinu kembali tersenyum, pria itu menyeka air mata Jennie.

"Maaf, aku tak sempat. Jadi aku menyuruh Jaewon untuk mengabarimu," jawab Jinu.

"Tak sempat? Kita bahkan sering bertemu sebelum ini, aku bahkan tak tahu kalau kau diam-diam mendaftar wajib militer di belakangku! Kenapa kau—"

"Aku sudah mendaftar dua tahun yang lalu," potong Jinu.

"Apa?"

"Saat itu kita belum saling mengenal, dan aku sempat meminta pihak pelatihan untuk menunda wajib militerku. Aku tak mungkin menundanya lagi kali ini," jelas Jinu.

Gadis di depannya hanya terdiam, ia masih menunduk enggan menatap wajah Jinu. Semarah itukah? Tentu saja, bagaimana ia bisa ditinggal sang kekasih tanpa ijin. Apa yang terjadi jika ia tak segera mengetahui kabar dari Jaewon dan tak sempat menemui Jinu? Gadis itu mungkin akan bersedih dan kehilangan semangatnya.

"Maafkan aku, Jennie. Kuharap kau bisa mengerti."

Jennie mengangguk, masih dengan raut kecewa ia berbalik dan mencoba berjalan menjauh dari Jinu. Namun, ia kembali berhenti ia berbalik menatap Jinu yang masih tersenyum memandangnya. Jennie tak bisa pergi begitu saja, ia harus memberikan pelajaran pada Jinu. Ingin rasanya ia memukul Jinu sepuasnya agar rasa kesalnya tercurahkan. Dan, ya, Jennie kembali berlari ke arah Jinu dan memukul dada Jinu berulang-ulang.

"Sudah pergi sana! Jangan berharap kalau aku akan merindukanmu!"

"Baiklah... tapi aku akan selalu merindukanmu, Jennie Kim."

"Aku tidak akan mengijinkanmu merindukanku!"

"Aku bahkan tak memerlukan ijin untuk merindukanmu."

"Kau tidak boleh!"

"Sekeras apa kau melarangku, aku akan tetap merindukanmu."

Jennie menatap pria di depannya dengan air mata yang sudah tumpah dan membasahi pipinya.

"Aku membencimu!" ucap gadis itu dengan bibir bergetar.

"Aku mencintaimu," jawab Jinu cepat. Jennie menarik kerah baju Jinu dan tanpa ijin melayangkan kecupan singkat di bibir si pria.

Chu~

"Kembalilah dengan sehat!" pinta Jennie kemudian. Jinu kembali tersenyum, ia mengangguk. Pria itu mulai memeluk tubuh Jennie dengan erat. Namun, mereka tak bisa lama-lama berpelukan. Jinu harus segera masuk ke tempat pelatihan.

"Sampai jumpa lagi," pamit Jinu yang kemudian melepaskan pelukannya. Pria itu berjalan menuju gerbang tempat pelatihan dan melambaikan tangannya pada Jennie. Gadis itu membalas lambain tangan itu dengan tenaga seadanya.

Lovely Stranger [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang