Takdir membawa Maudy ke negara asing dan mempertemukannya dengan brondong yang terobsesi padanya. Selalu melakukan apapun untuk menahannya. Mulai dari hal sepele sampai ke hal anarkis.
Lantas, bagaimanakah nasib Maudy selanjutnya? Apakah dia mampu m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
King menarik Maudy secara paksa dari pelukan Fadil, membuat gadis cantik itu meringis kesakitan.
"Bisakah kau lembut sedikit? Kau menyakiti tangan berhargaku." Omel Maudy.
King menatap Maudy datar. "Makanya nurut kalau tidak mau disakiti."
Gadis cantik itu berdecak kesal mendengar perkataan menyebalkan pria di sampingnya.
King memeluk pinggang Maudy posesif seakan sedang melindungi miliknya. "Siapa pria ini, sayang? Selingkuhanmu?"
"Jangan salah paham dulu. Aku teman Maudy, bukan selingkuhannya." Jelas Fadil mendahului Maudy.
"Aku bukan bertanya padamu!" Tekan King dingin.
"Apa bedanya jawabanku dan jawaban Maudy?"
King menatap Fadil penuh permusuhan. "Ku peringatkan padamu. Jauhi Maudy atau aku akan menghancurkan mu!" Ancamnya serius.
Fadil malah tersenyum kalem. "Apa yang perlu kau takutkan? Aku hanya temannya sedangkan kau kekasihnya. Statusmu lebih tinggi di hatinya dibandingkan diriku. Kecuali kalau Maudy tidak mencintaimu." Perkataannya sangat menohok. Kian menyadarkan King akan realita. Membuat emosinya tersulut.
"Sudah. Sudah. Lebih baik kita pulang." Lerai Maudy akibat melihat ekspresi mengerikan King.
"Tunggu sebentar, sayang. Aku akan memberikan pelajaran dulu padanya."
Maudy memeluk tubuh King erat. "Sudahlah! Jangan memperpanjang masalah lagi. Lebih baik kita pulang. Aku sudah lelah." Bujuknya.
King mendengus kasar. Ia melayangkan tatapan penuh ancaman ke Fadil sebelum pergi.
King melepaskan pelukannya dari pinggang Maudy. Beralih mencengkram pergelangan tangan Maudy dan menyeretnya menuju mobil.
Maudy berusaha melepaskan cengkraman tangan King darinya, tapi apalah daya, dia tak bertenaga. Jadi, dia hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah besar King supaya tak terjatuh.
Maudy menatap punggung King pasrah.
"Jangan marah. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Bahkan aku merasa tidak nyaman dengannya." Rayu Maudy.
"Tadinya aku berusaha kabur dari sana tapi dia malah menahan tanganku. Alhasil, aku terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Saat aku ingin mendorongnya, kau sudah datang dan membuatmu salah paham." Jelas Maudy meskipun dicuekin.
"Jangan terlalu cepat jalannya. Kakiku sakit." Rengek Maudy pada akhirnya.
Langkah King berhenti sehingga membuat Maudy tersenyum. Setidaknya pria itu masih punya hati.
Senyuman Maudy pun luntur kala melihat wajah tak bersahabat King. Ia menelan saliva kasar dan menunduk pasrah. Berharap di dalam hati supaya King tidak berbuat kasar padanya. Misalnya memukulnya, mencambuknya, memperkosanya, atau pun menyayat tubuhnya.
Tubuh Maudy refleks bergidik ngeri membayangkan hal kejam itu. Salahkan saja otaknya yang sudah terkontaminasi oleh cerita novel.
Maudy membeku di tempat kala tubuhnya dipeluk secara tiba-tiba. "Aku cemburu, sayang." Ungkap King.
"Aku cemburu melihatmu berada di dalam pelukan pria lain." Tekannya.
"Jangan pernah mengulangi hal ini lagi atau aku akan benar-benar marah padamu."
King melepaskan pelukannya. Kemudian menggendong tubuh Maudy.
"Kau sendiri tahu kakimu mudah sakit kalau dibawa berlari tapi kenapa tadi kau malah lari?" Omelnya.
"Malu." Ketus Maudy.
King tersenyum geli mendengar alasan Maudy kabur.
"Lain kali jangan malu lagi karena aku akan selalu menyusulmu ke kelas kalau jadwalku kosong."
Maudy mendesah pasrah. "Terserah kau saja."
King menurunkan Maudy secara hati-hati di dalam mobil. Buru-buru mengitari mobil dan ikutan masuk ke dalam mobil.
Maudy sudah duduk manis di dalam mobil seraya menunggu mobil berjalan. Namun, yang ditunggunya tak kunjung terjadi.
Gadis cantik itu menoleh heran ke arah King. "Kenapa belum jalan?"
King menyeringai. "Karena aku belum menghukummu, sayang."
Maudy melotot kaget kala King membawa tubuh mungilnya ke atas pangkuan pria itu. Disusul dengan merobek pakaian Maudy sehingga membuat Maudy panik bukan main.
"Jangan!" Teriak Maudy histeris seraya memeluk tubuhnya sendiri. Meskipun tubuhnya masih terbalut tanktop, tetap saja dia malu karena seumur hidup belum pernah seterbuka ini di hadapan seorang pria.
King menyingkirkan tangan Maudy secara paksa. "Diamlah, sayang. Aku ingin membersihkan jejak pria tadi dari tubuhmu."
King mendadak kasihan melihat ekspresi takut Maudy namun ego nya lebih besar. "Tenanglah. Aku tidak akan melakukan hal itu padamu. Aku hanya ingin membersihkan jejaknya." Mempererat pelukannya dan memulai aksinya.
Tangisan Maudy pun pecah kala King mulai mengecup bahunya. "Jangan." Lirihnya seraya berusaha menghindar tapi King malah mengunci pergerakannya.
Kala Sentuhan King beralih di lehernya, tubuh Maudy bergetar hebat. Disusul oleh tangisan pilu.
King menghela nafas kasar dan menghentikan aksinya akibat tak tega melihat ketakutan Maudy.
Pada akhirnya, ia pun memakaikan jaketnya ke tubuh mungil Maudy. "Jangan menangis lagi." Mengelus punggung Maudy, berniat menenangkan. Namun bukannya tenang, Maudy malah menangis semakin keras.