Takdir membawa Maudy ke negara asing dan mempertemukannya dengan brondong yang terobsesi padanya. Selalu melakukan apapun untuk menahannya. Mulai dari hal sepele sampai ke hal anarkis.
Lantas, bagaimanakah nasib Maudy selanjutnya? Apakah dia mampu m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekarang, di sini lah Maudy dan King. Kantin kampus. Mengawasi setiap gerakan Lavina dan si pria asing dari jarak dekat supaya bisa mendengarkan apa saja yang dibicarakan mereka.
Sebenarnya, Maudy malas menjadi mata-mata tapi mengingat King akan membuat keributan tanpa ada dirinya, hal itu membuatnya cemas.
Bagaimanapun, mulutnya lah yang telah berkata sembarangan. Jika seandainya perkataannya tak sesuai kenyataan, tentu dia akan merasa bersalah seumur hidup pada kekasih Lavina.
"Melihat wajah panik kakak, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan pria itu." Geram King dengan tangan mengepal.
Maudy manggut-manggut. Membenarkan dalam hati, sebab sedari tadi wajah Lavina tampak sangat panik dan takut.
"Berani-beraninya pria itu menganggu kakakku. Apakah dia tidak punya otak?!"
Maudy bertopang dagu. "Jawabannya ada pada dirimu sendiri, King." Kekehnya.
King menoleh ke arah Maudy dan menatap gadis itu tajam sedangkan Maudy memasang wajah sok polosnya. "Kenapa kau menatapku tajam? Adakah yang salah dari ucapanku?"
King mencengkram tangan Maudy kuat. "Jaga ucapanmu, sayang."
Maudy meringis kesakitan. Cengkraman King menyakiti tangan kecilnya.
"Oh, lihatlah. Kakakmu mendapatkan perlakuan yang sama sepertiku." Sinis Maudy.
"Karma dibayar langsung." Sarkasnya.
King menoleh ke arah Lavina.
Ternyata tangan kakaknya memang sedang dicengkram oleh pria itu.
King sontak melepaskan cekalannya.
"Bukan kah sudah ku katakan padamu kalau apa yang kau lakukan bisa saja berbalik pada saudaramu?"
Nafas King tercekat. Kembali teringat pada ucapan Maudy di masa lalu.
"Kau tega melihat kakakku yang tidak bersalah itu menanggung semuanya?"
"Jawabannya ada padamu." Cetus Maudy.
King melongos ke arah lain. "Aku melakukannya karena terlalu mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu, bahkan sedetik pun."
Maudy mencibir pelan. "Cinta atau obsesi?"
"Apa bedanya antara dua itu? Bukankah keduanya sama saja?"
"Beda! Cinta dan obsesi itu adalah dua hal yang berbeda."
"Memang apa bedanya? Pada intinya adalah ingin memiliki orang yang kita cintai."
"Cinta itu tidak akan memaksa dan menyakiti sedangkan Obsesi kebalikannya. Sama halnya seperti yang kau lakukan padaku."
"Aku tidak akan menyakitimu kalau kau menurut padaku."
"Memangnya aku hewan peliharaanmu sampai harus menurut segala padamu?"
"Kau bukan peliharaanku tapi pacarku!"
"Lalu, bukannya pacar itu tidak harus menurut? Bukankah harusnya pacar itu diperlakukan dengan baik dan tidak memaksanya?"
"Aku akan memperlakukanmu dengan baik dan tidak akan pernah memaksamu kalau kau mau mendengarkan ku."
"Aku mau saja mendengarkanmu tapi kau yang tidak mau mendengarkan ku. Kau selalu saja mengambil keputusan tanpa mendengarkan penjelasan apapun dariku seolah aku tidak ada hak untuk menjelaskannya. Kau selalu menyimpulkan apa yang kau lihat itu adalah kebenarannya."
"Bu--"
"Jangan berusaha mengelak di saat kenyataan sudah di depan mata!" Potong Maudy cepat.
"Ak--"
Hmppp!!
Maudy melotot kaget kala King mencium bibirnya ganas.
Wajahnya terasa sangat memanas karena teringat mereka masih di kantin. Wajahnya semakin memanas kala mendengar sorakan dari orang-orang di kantin.
Ia berusaha mendorong dada King sekuat tenaga tapi King malah menahan tangannya dan mengunci pergerakannya. Akibat terlampau kesal, ia pun menggigit bibir King hingga ciuman terpaksa dilepaskan.
"Sekali lagi kau memotong ucapanku, maka aku tidak akan segan-segan menyumpal mulutmu." Ancam King.
Maudy melotot tak terima. "Kau yang menyebalkan! Mengurungku, memaksaku, dan mengancamku!!" Balasnya emosi.
"Itu karena kau keras kepala!" Balas King.
"Aku tidak akan keras kepala kalau kau memperlakukanku dengan manusiawi."
"Kapan aku begitu? Ah, atau kah kau mau ku perlakukan dengan tidak manusiawasi?" Tanya King datar.
Maudy sedikit takut tapi gengsi lebih mendominasi. "Coba saja kalau berani dan lihat hasil yang akan diterima kakakmu."
"Oke! Jangan menyesal telah berkata seperti itu!" Ancam King geram melihat kekerasan kepala Maudy.
"Kau yang jangan menyesal kalau kakakmu terluka parah karena ulahmu!"
Prankk!!
Perhatian sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu teralihkan ke asal suara. Mereka langsung terlonjak kaget kala melihat Lavina terjatuh di atas serpihan kaca.