Part 9◾

54.6K 4.1K 244
                                        

Vote dulu sebelum baca⭐

Ternyata King benar-benar menghukumnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ternyata King benar-benar menghukumnya.

Mengurungnya dalam kamar, mengambil paksa ponselnya, dan menutup aksesnya dengan dunia luar.

Rasanya Maudy sangat tertekan berada di dalam kamar terus. Maudy tertekan memikirkan nasibnya, reaksi sahabatnya di indo, reaksi orangtuanya, dan kuliahnya. Semakin tertekan lagi ketika melihat wajah penuh senyuman King.

Pria psycho itu tidak terlihat bersalah sedikit pun mengurungnya selama seminggu penuh.

Ia layaknya burung dalam sangkar emas. Dikurung dan diberi makan tanpa diberi hiburan. Bahkan televisi pun tak ada di kamar.

Bayangkan! Bayangkan bagaimana Maudy melewati harinya selama masa kurungan! Tanpa hp, tanpa teman, dan tanpa tv.

Seorang gadis yang ketergantungan teknologi seperti Maudy pasti akan merasa itu cobaan terberat dalam hidupnya.

Berulang kali Maudy memohon supaya King mengembalikan kebebasannya tapi King malah menulikan telinga.

Lelah. Maudy sangat lelah. Terkadang pemikiran mengakhiri hidup melintasi otaknya. Namun, ia terlalu takut mengakhiri hidupnya sendiri. Maudy takut merasakan sakit.

"Sudah makan siang, sayang?"

Kemunculan King membuatnya pura-pura tidur akibat terlalu malas melihat wajah pria gila itu.

"Aku tahu kau belum tidur. Bersuara lah atau aku akan memaksamu!"  Mengancam lagi.

Maudy sontak membuka matanya.

King tersenyum puas dan mengusap pipi Maudy pelan tapi terasa sangat menakutkan bagi gadis satu itu.

"Jangan takut. Aku hanya mengelus pipimu, bukan menyakitimu." Kekeh King mengejek. Membuat Maudy marah seketika. Namun apalah arti kemarahannya karena ia hanyalah manusia lemah di bawah kuasa King.

King menunduk, ingin mencium Kening Maudy. Akan tetapi, getaran di sakunya menghentikan niatnya. Ia berdecak kesal dan mengangkat telpon penuh emosi. "Ada apa?!" Tanyanya ngegas.

"Maaf, tuan. Nona Lavina menghilang dari semalam. Kami tidak bisa menemukannya sampai sekarang."

King tersentak kaget mendengar perkataan bawahannya. "Kenapa kakakku bisa menghilang?! Bukankah sudah kukatakan ke kalian semua untuk menjaganya!" Bentaknya marah.

"Maaf, tuan. Kami lalai menjaga nona. Kami pikir nona akan baik-baik saja tanpa pengawasan kami karena nona hanya ingin jajan di sebrang rumah tapi nona malah menghilang dan kami kehilangan jejak."

"Cepat cari kakakku atau aku akan memecat kalian!" Mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Demi apapun, King sangat menyayangi kakaknya. King tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya.

Maudy terkekeh sinis melihat ekspresi panik dan khawatir King. "Lihatlah! Perbuatanmu padaku berbalik ke kakakmu!" Katanya puas.

King menoleh ke Maudy dan melotot tak terima.

"Entah seperti apa balasan yang akan didapatkan kakakmu atas perbuatanmu ini!" Tukasnya dingin.

King mencengkram dagu Maudy kesal. "Diam! Ja---"

"Sekarang kau menyakitiku, mari kita lihat apa yang akan terjadi pada kakakmu setelah ini. Apakah dia akan terluka lebih parah dariku?" Tanya Maudy seraya berlagak berpikir.

King sontak melepaskan cengkramannya. Ekspresinya tampak kalut memikirkan semua kemungkin terburuk yang terjadi pada kakaknya.

"Segala sesuatu di dunia ini ada balasannya, King! Dan balasan itu tidak selalu dirasakan oleh pelakunya, tapi bisa juga dirasakan oleh orang sekitarnya," katanya menusuk.

King mengerang kesal. Tanpa mengatakan apapun langsung berbalik. Meninggalkan kamar dan menguncinya lagi dari luar. 

Sementara itu, Maudy menghela nafas lega karena King pergi dan tidak menyakitinya sedikit pun.

Sebenarnya Maudy sangat takut, akan tetapi, sok memberanikan diri membalas perbuatan King demi kebebasannya.

"Semoga kau terluka Lavina supaya adik sialanmu itu tidak berani menyakitiku lagi." Bisiknya pelan.

Mungkin Maudy terlihat jahat mengharapkan temannya terluka tapi hanya inilah yang bisa menyelamatkannya dari kegilaan King karena King sangat menyayangi Lavina.

Maudy tidak naif. Keselamatannya lebih penting dibandingkan keselamatan orang lain.

Dan ... siapa tahu King akan berubah menjadi lebih baik setelah melihat kakak perempuan tercintanya terluka.

Bersambung...

20.5.22

firza532

ObsessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang