Trick

15.4K 2.2K 43
                                        

Istana Tamara seharusnya menjadi tempat tinggal Arabella juga Olivia sebagai Putri Kekaisaran. Bukannya Istana Orvee tempat tinggal Kaisar.

Tapi karena begitu menyayangi anak bungsunya, Putri Olivia, Kaisar Aldrick sendiri yang meminta Olivia untuk tinggal di istananya.

Olivia merasa senang, tentu saja. Merasa diperhatikan dan disayang oleh Sang Ayah. Namun berbeda dengan Arabella.

Karena ia tahu, tujuan Ayahnya menempatkan dirinya di istana Orvee ini hanyalah untuk menyembunyikannya dengan sangat ketat dari jangkauan banyak orang.

Bahkan para pelayan yang menempati Istana Tamara, sama sekali tidak mengenal Arabella. Hanya nama yang mereka tahu, tidak dengan wujud Putri Arabella itu sendiri.

Berbeda jauh dengan Putri Olivia yang dikenal semua orang. Para pelayan menyayanginya karena keramahan dan kebaikan hati Putri Olivia.

Lihat. Tak ada alasan untuk Arabella membenci Olivia, 'kan? Walau tentu rasa cemburu itu ada. Tapi jikalaupun Putri Olivia tidak pernah ada, Arabella tetaplah Arabella. Putri terkutuk yang tak diinginkan, dibenci.

Arabella mendengus, memalingkan wajahnya dan menyudahi kegiatan memperhatikan Istana Tamara yang terlihat dari jendela kamarnya.

"Halo."

Arabella tersentak, kakinya melangkah mundur hingga punggungnya terhuyung ke jendela membuat tangannya secara refleks bertumpu pada tepian jendela menopang tubuhnya agar tidak terjun bebas dari sana.

Baru saja Arabella berbalik, dirinya sudah dikejutkan dengan kehadiran sosok asing di kamarnya.

"Zack?" Arabella terheran.

Zack tersenyum, kepalanya dimiringkan seraya berkedip lucu. "Hai, aku sudah kembali."

***

"Kau bilang akan lama," tukas Arabella kemudian menggigit apel dalam genggamannya. Apel pemberian Nathan.

"Itu hanya perkiraan." Jawab Zack santai.

Padahal Arabella menyangka bahwa Zack akan menanyakan perihal apel itu terlebih dahulu. Penyihir itu biasanya bersikap serba ingin tahu.

Apapun yang asing di kamar Arabella seperti sekantung apel di pangkuannya ini, seharusnya sudah dicerca banyak pertanyaan.

"Sempat kukira kau tidak datang di debut pertama nanti. Untunglah kau cepat pulang." Tukas Arabella tersenyum.

"Apapun untukmu."

Arabella mengernyit, menatap aneh penyihir di hadapannya yang tengah tersenyum manis. Entah mengapa ia merindukan semua panggilan jelek Zack yang biasa penyihir itu ucapkan padanya.

Zack yang bersikap manis seperti ini sungguh asing bagi Arabella.

"Padahal kalau kau tidak datang aku akan dengan senang hati menari dengan Nathan,"

"Tapi aku sudah di sini, 'kan? Sesuai keinginan Tuan Putriku ini,"

Sontak Arabella bangkit berdiri. Apel dalam pangkuannya dibiarkan tumpah berserakan di lantai.

"Beraninya!" Arabella menyerang Zack menggunakan sihirnya.
"Kau menipuku!!"

Zack tampak terkejut, namun setelahnya berusaha kembali memasang raut santai walau sekujur tubuhnya terasa sakit, hingga raut kesakitan yang samar tak mampu ia sembunyikan.

Pathetic Destiny  [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang