Arabella meringis pelan. Kepalanya masih berdenyut nyeri dan sekujur tubuhnya masih terasa begitu ngilu.
Tapi ini sudah jauh lebih baik dari saat wanita bernetra hijau itu menyerap sihirnya secara paksa.
Dengan tertatih, Arabella memaksa langkahnya menuju ranjang. Merebahkan tubuhnya di sana dan memandang sayu langit-langit kamarnya.
Lalu pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa menit sebelumnya.
Apa dia tidak berakting manis padamu?
Memangnya untuk apa Zack berakting manis di depannya?
Ternyata walau begitu dia masih tetap pada sifat dinginnya.
Entah mengapa setiap ucapan wanita itu sangat janggal di telinga Arabella. Seolah memiliki makna yang tersembunyi di balik setiap katanya.
Seperti kata-kata 'walau begitu', apa maksudnya? Ada apa memangnya? Apa yang dimaksud dengan kata 'begitu'?
Arabella mendengus. Memang banyak hal yang Zack sembunyikan terhadap dirinya selama ini. Namun walau begitu, apa yang Zack lakukan di mata Arabella adalah hal yang baik.
Ia percaya sepenuhnya pada Zack. Sangat percaya, hingga nyawanyapun Arabella tak ambil pusing selama berada di dekat Zack.
Arabella mengangkat sebelah tangannya, memain-mainkan sihirnya saat gumpalan cahaya biru cerah muncul dari telapak tangannya.
Arabella sadar, sihirnya yang sekarang saja sudah mampu membahayakan dirinya sendiri. Lalu apa kabar dengan sihir yang masih terbelenggu di dalam dirinya seperti ucapan wanita itu.
Tsk!
"Aaw!" Arabella sontak menarik kembali tangannya saat sihir yang ia mainkan menciptakan aliran listrik hingga membuatnya tersengat.
"Arabella..."
Arabella sontak terduduk. Mencari-cari asal suara yang barusan memanggil namanya dengan mata terbelalak.
"Arabella..."
Arabella terkesiap. Menatap penuh keterkejutan pada sosok wanita cantik yang muncul di hadapannya. Seluruh tubuhnya yang dibalut kain berwarna putih terlihat tembus pandang.
Seolah wanita itu sudah mati. Dan rohnya tengah tersenyum begitu menawan pada Arabella.
Jika saja Arabella tidak pernah melihat lukisan ayahnya bersama permaisuri terdahulu, Ratu Tasia, ia mungkin tidak akan pernah tahu siapa wanita di depannya itu sekarang.
"I-ibu?" Mata Arabella seketika berkaca-kaca.
Wanita itu, Ratu Tasia tersenyum lembut.
"Anakku sudah besar."
Air mata meluncur dari mata Arabella. Ingin segera memeluk ibunya namun tubuhnya justru tidak bergerak sama sekali.
"Kemarilah."
Mengabaikan semua rasa sakit di tubuhnya, Arabella bangkit dan mendekap erat sosok wanita di hadapannya itu.
"Sayang, jangan menangis."
Arabella semakin terisak. Begitu keras dan memilukan. Belaian di kepalanya membuatnya begitu nyaman dan menumpahkan segala keluh kesahnya di pelukan sang ibu.
"Ibu... maafkan aku..." lirih Arabella.
"Kau meminta maaf untuk apa, hm?"
Ratu Tasia mengurai pelukannya dan menangkup wajah Arabella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pathetic Destiny [Completed]
Fantasy[Fantasy-Romance] Arabella, putri terkutuk yang disembunyikan rapat-rapat keberadaannya oleh penghuni istana. Hanya nama yang dikenal oleh seluruh rakyat Kekaisaran Orvins. Kutukan Arabella membuatnya harus menanggung kesakitan luar biasa dan menjer...
![Pathetic Destiny [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/222933626-64-k143552.jpg)