Midnight

15.9K 2.1K 126
                                        

Mohon maaf, akibat kekhilafan mengetikku, part ini berlabel
[16+]
huhu T_T
Nggak apa-apa di skip karena konklusi part ini ada di next part.

**********

BRAK!!

Zack menatap sekitar dengan nafas memburu. Menghancurkan seisi ruangannya sebagai pelampiasan amarahnya tidak membuat perasaannya membaik.

Bahkan hingga tak ada lagi yang bisa ia hancurkan di tengah malam ini, Zack masih tak mampu meredam emosinya yang meluap.

Zack terduduk di ranjangnya. Sebelah tangannya meremas kuat kepalanya yang berdenyut.

Sampai detik ini, Zack masih bimbang. Namun ia sadar, perlahan, obsesinya pada keabadian mulai memudar.

Kini Zack justru merasa lebih menginginkan Arabella tetap hidup dibanding keabadian. Tapi tetap saja, ia belum bisa memilih.

Zack bangkit berdiri. Dalam hati berusaha menguatkan dirinya atas pilihan yang kini sudah ia pilih.
Zack tidak bisa memperoleh keduanya. Jika ia ingin keabadian maka Arabella harus mati.

***

Arabella memejamkan matanya erat. Semakin ia berusaha untuk terlelap, semakin sulit rasa kantuk itu datang.

Berbagai pikiran-pikiran buruk berkecamuk di benaknya. Ketakutan senantiasa melanda, ketakutan bahwa hidupnya tak akan lama lagi.

Arabella terduduk. Ia menangkup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Menghembus nafasnya gusar sebelum kemudian hendak kembali merebahkan punggungnya.

Namun ia seketika menegang hebat saat bukan kasur yang menyentuh kepalanya, melainkan dada bidang seseorang yang terasa hangat.

Arabella hendak kembali bangkit untuk duduk dengan tegak namun pundaknya ditahan hingga membuatnya kembali menyandarkan punggungnya ke belakang.

Hembusan nafas hangat mulai terasa menerpa leher jenjangnya yang terbuka. Arabella bergidik geli.

"Kenapa belum tidur?"

Suara itu, suara milik seseorang yang sedari tadi mengusik pikirannya. Suara serak yang biasanya menenangkan kini membuatnya ketakutan.

"A-aku tidak bisa." Arabella menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdegup sangat cepat merasa gugup sekaligus takut.

Zack mulai memainkan rambut Arabella menggunakan sebelah tangannya. Kepalanya ditumpukan di atas pundak Arabella. Menghirup dalam-dalam wangi tubuh gadis itu.

"Kemana kau tadi pagi?"

Arabella menjawab dengan terbata. "Pinggir ko-ta." Ia menggeliat saat merasa Zack mengendusi lehernya.

"Sendiri?"

"Bersama Nathan," jawab Arabella cepat. Jantungnya berdegup semakin cepat saat Zack mulai memeluknya dari belakang.

Wajahnya memanas. Tubuhnya sudah merinding saat Zack tak henti mengendus lehernya.

"Sudah berani, hm?" Zack berbisik di telinga Arabella.

"Ti-tidak..."
Arabella kembali menggeliat.
"Itu tadi--" ia tak mampu meneruskan ucapannya. Tangannya Zack kini bergerak mengelus penuh kelembutan leher bagian depan Arabella hingga dagunya.

Pathetic Destiny  [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang