Arabella hanya menunggu. Menunggu hingga Zack membunuhnya. Menunggu rasa sakit mendera tubuhnya sebelum ia sendiri melihat tubuhnya tergeletak di bawahnya.
Namun tidak.
Zack hanya diam. Bergeming dalam posisinya membuat Arabella terheran.
"Zack?"
"Hm?"
"Apa yang kau lakukan?" Arabella bertanya masih dengan suara ketakutannya.
"Kau tidak mengerti juga, ya?" Zack membalas dengan kesal.
Arabella kembali menelan salivanya dengan susah payah. Dalam benaknya, pasti Zack ingin membunuhnya nanti, tidak jadi sekarang.
"Bukankah... lebih cepat lebih baik?" Gumam Arabella pelan.
Zack mendengus. Tangannya yang sempat terdiam kembali bergerak memainkan helaian rambut halus Arabella.
"Terdengar seperti kau benar-benar ingin mati," ketusnya dingin.
Arabella meringis pelan. Salah bicara lagi. Sepertinya setelah ini Arabella harus diam saja.
Selain tidak ingin Zack kembali marah, Arabella juga tak ingin membuat Zack melakukan hal yang tidak-tidak lagi pada dirinya, seperti kata penyihir itu tadi.
Zack malam ini sungguh bukanlah Zack yang Arabella kenal. Hal itu membuat Arabella was-was jika ini adalah tipuan.
Namun hati kecilnya berkata tidak. Ini bukan tipuan. Zack yang dibelakangnya saat ini benar-benar Zack si penyihir hebat yang angkuh.
"Kau takut?"
Arabella sontak mengangguk.
"Maka dari itu tak usah bertanya lagi."
Arabella mengernyit heran. Ingin sekali rasanya menyuarakan pertanyaannya. Namun saat mendengar decakan Zack, nyalinya menciut seketika.
"Masih tidak mengerti?" Zack menggeram.
"Memang dasar kau idiot terkutuk."
Lagi-lagi Arabella mengernyit heran. Ini maksudnya Zack sudah kembali menjadi Zack si menyebalkan dan bukan si berperilaku gelap atau bagaimana?
Arabella tidak mengerti.
"Aku tidak akan membunuhmu," ucap Zack akhirnya.
Arabella terkejut.
"Lalu bagaimana kau menyerap keabadian--"
"Putri Terkutuk!" umpat Zack. Ia mengusap wajahnya gusar.
"Kan sudah kubilang anggap saja aku tak pernah ingin membunuhmu. Aku tak ingin keabadian itu."
Arabella mengerjap. Matanya seketika berbinar bahagia.
"Sejak dulu, saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku bahkan tak tahu perihal keabadian dalam dirimu. Aku mengetahuinya beberapa tahun kemudian," jelas Zack yang mulai bercerita. "Aku menginginkannya. Tapi aku sadar sekarang aku sudah tidak ingin keabadian itu."
Zack menghembuskan nafasnya.
"Jadi bersikaplah seolah tidak pernah ada apa-apa. Aku tidak--"
"Terimakasih!" Arabella sontak berbalik dan memeluk Zack erat, membuat penyihir itu terkejut.
Zack menegang sedikit sebelum mendengus samar. Tangannya bergerak menepuk ringan punggung Arabella. Tak mampu dipungkiri, Zack yang awalnya berfikir ia akan menyesali keputusannya, justru merasa lega saat ini.
Setidaknya Arabella akan terus berada di sisinya. Tak peduli dengan kehidupan abadi, yang Zack inginkan hanya Arabella tetap hidup.
"Sudah! Menjauh sekarang. Dadaku sesak." Zack mendorong tubuh Arabella menjauh darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pathetic Destiny [Completed]
Fantasy[Fantasy-Romance] Arabella, putri terkutuk yang disembunyikan rapat-rapat keberadaannya oleh penghuni istana. Hanya nama yang dikenal oleh seluruh rakyat Kekaisaran Orvins. Kutukan Arabella membuatnya harus menanggung kesakitan luar biasa dan menjer...
![Pathetic Destiny [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/222933626-64-k143552.jpg)