"Allura?"
Zack menatap kakak perempuannya dengan mata terbelalak sempurna. Fokusnya tertuju pada rambut putih Allura yang seharusnya berwarna hitam legam, sama seperti miliknya.
"Aku sudah tidak akan lama," tukas Allura tanpa ekspresi. Ia menatap adiknya dengan tatapan datar.
Zack mengernyit. Sedetik kemudian, ia baru menyadari apa yang terjadi pada kakaknya itu.
"Kau terhuk-"
"Aku tahu. Tak usah diingatkan," sela Allura langsung.
Lagi, ketakutan itu merayap masuk dalam hati Zack. Ketakutan yang sama yang terjadi saat ibunya meninggal dulu.
Ibunya yang harus mati menanggung hukuman atas pengkhianatan antara dirinya dengan musuh dari ayahnya, Edmunt.
Apa yang terjadi pada Allura sama persis dengan apa yang menimpa mendiang ibu mereka, Sang Ratu Penyihir. Ia harus mati demi mempertahankan kerajaan karena memberi darahnya pada Edmunt dalam keadaan terikat pada musuh dari suaminya itu.
Zack menelan ludahnya. Sesuatu bergejolak dalam dadanya.
"Aku akan-"
"Tidak perlu," Allura kembali menyela.
"Aku ke sini bukan untuk meminta bantuanmu. Aku hanya ingin menitip pesan."
Zack mengernyit.
"Pesan?"
"Sampaikan permintamaafanku pada Arabella jika suatu saat keadaannya sudah normal." Allura menghela nafasnya.
"Walau aku kurang menyetujui adanya darah manusia yang mengalir dalam dirinya. Aku tak bisa melakukan apapun selama itu tidak melanggar hukum alam, bukan?"
Zack ingin sekali tersenyum mendengar itu. Allura memang pernah melakukan kesalahan yang teramat fatal.
Namun bagaimanapun, wanita itu adalah kakaknya. Zack menyayanginya sebagaimana seorang saudara kandung.
Namun ia tak bisa tersenyum saat mengingat kabar buruk yang menyertai kedatangan Allura pagi ini. Kabar buruk yang lebih besar dari hal yang patut Zack sukuri.
"Kakek punya cara untuk membebaskanmu," ucap Zack.
Allura mendengus.
"Apa menurutmu aku serendah itu hingga tidak sudi menerima segala resiko dari perbuatanku, heh?"
Zack terbungkam. Matanya menatap tidak percaya pada Allura yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Aku jahat, aku tahu itu. Aku yakin kau juga tahu itu. Tapi tidak semua orang benar-benar jahat, bukan? Penjahat ini justru menunggu hukumannya datang." Allura berkata dalam nada dinginnya.
Tanpa berniat kembali berucap sama sekali, ia kemudian menghilang dari sana. Meninggalkan Zack yang lagi-lagi membisu tanpa tahu harus melakukan apa.
***
Nathan menangkup wajahnya gusar. Saat ini ia benar-benar putus asa. Tak sanggup manatap wajah ayahnya yang kini duduk di hadapannya.
"Ayah setega itu?" lirihnya.
Tuan Angelo terdiam. Wajahnya jelas menunjukkan penyesalan pada putra sulungnya itu.
"Ayah tidak bisa menolaknya, Nathan. Mengertilah."
Nathan menggeleng. Ia mendongak menatap lekat-lekat wajah muram ayahnya.
"Kenapa? Haruskah seperti itu?"
"Ini bukan kemauan ayah, Nathan. Ini juga bukan sepenuhnya salah ayah."
Nathan mengepalkan kedua tangannya yang tertumpu di atas paha. Berusaha sebaik mungkin mengendalikan emosinya yang akan meledak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pathetic Destiny [Completed]
Fantasia[Fantasy-Romance] Arabella, putri terkutuk yang disembunyikan rapat-rapat keberadaannya oleh penghuni istana. Hanya nama yang dikenal oleh seluruh rakyat Kekaisaran Orvins. Kutukan Arabella membuatnya harus menanggung kesakitan luar biasa dan menjer...
![Pathetic Destiny [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/222933626-64-k143552.jpg)