"Allura!"
Allura mencengkram erat pinggiran meja di depannya. Pandangannya berputar sejak ia tiba di istana tempat tinggal ayahnya.
Edmunt memandang Allura khawatir.
"Kemari." Ia membimbing Allura untuk duduk di tempat duduk sebelahnya.
"Ada apa?"
Allura masih diam. Ia meringis saat merasakan denyut nyeri mendera kepalanya. Matanya ia pejamkan berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. Allura memegang sisi kepalanya.
"Aku sudah terikat perjanjian dengan Rad. Benar-benar terikat."
Edmunt terbelalak.
"Kau--"
"Maaf, ayah. Dia menghutangiku. Aku terpaksa."
Edmunt menghela nafasnya dalam berusaha untuk tenang menghadapi putri sulungnya.
"Lalu kenapa kau seperti ini?"
"Aku memberikan darahku pada, Zack. Dengan suka rela."
"Allura!"
Edmunt berseru gusar.
"Kau bodoh, nak. Bodoh." Ia menangkup wajahnya frustasi.
Allura menghela nafasnya lesu. Ia membuka matanya seketika hatinya berdesir getir. Rambutnya yang tersampir di pundaknya perlahan memutih.
Air matanya meluruh seketika.
"Maaf."
Edmunt menggeleng.
"Kau tahu kau apa yang akan terjadi, 'kan? Konsekuensi karena kau membantu musuh dari orang yang kau abdi."
"Aku tahu." Allura menjawab cepat.
"Lalu kenapa kau melakukan itu?!" Edmunt mengerang frustasi.
"Rad melakukan ritual terlarang. Zack ingin melawannya dan aku tahu, dia tak akan menang. Jadi kuberikan darahku."
Edmunt menoleh heran.
"Ada apa dengan Zack dan Rad?"
"Rad ingin mengambil sisa keabadian dalam diri Arabella. Tentu saja Zack tidak ingin gadis itu mati," tukas Allura lesu.
"Biarkan saja! Dari pada kau yang jadi korban hanya karena gadis itu!"
Allura sontak menggeleng.
"Tidak ayah. Jika aku diam saja, Zack juga akan mati. Rad sangat kuat, dan ia pasti akan mengambil alih kerajaan setelah itu. Aku tak bisa membiarkan itu terjadi."
"Aku yakin kau tidak bodoh untuk tahu tentang hukum alam, Allura."
Allura mengangguk.
"Aku tahu. Tapi, Rad bahkan bisa mematahkan hukum alam. Membunuh Zack yang artinya melanggar hukum alam, tak akan membuatnya terhukum. Dia terlalu kuat."
"Dia sudah mati?"
"Untungnya dia sudah kalah."
Edmunt menyandarkan punggungnya. Ia merangkul Allura berusaha menguatkan. Tangannya bergerak menekan kepala Allura bersandar di bahunya sembari mengelus surai yang telah memutih itu dengan lembut.
"Sekarang, apa yang kau lakukan?"
Allura memajamkan matanya.
"Aku tidak tahu."
***
"Tidak perlu dikubur. Beri saja sebagai makanan serigala."
Beberapa penyihir yang ada di sana menunduk hormat mematuhi titah raja mereka. Tak jarang tatapan miris dan ngeri dilontarkan pada mayat sosok penyihir yang selama ini mereka hormati.
Zack melangkah meninggalkan ruang penyiksaan. Rasanya begitu muak berhadapan dengan penyihir seperti Menteri Owen.
Menyiksanya sampai mati saja Zack tidak puas. Keparat semacam itu tidak pantas dihormati sedikitpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pathetic Destiny [Completed]
Fantasia[Fantasy-Romance] Arabella, putri terkutuk yang disembunyikan rapat-rapat keberadaannya oleh penghuni istana. Hanya nama yang dikenal oleh seluruh rakyat Kekaisaran Orvins. Kutukan Arabella membuatnya harus menanggung kesakitan luar biasa dan menjer...
![Pathetic Destiny [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/222933626-64-k143552.jpg)