Malam telah tiba. Hayat dan Ipek pulang kerja bersama.
"Bagaimana bisa dua orang bersaudara begitu berbeda, Ipek? Aku tidak menyangka mereka memiliki orang tua yang sama. Yang satu sangat manusiawi dan yang satu nya lagi pantas dimasukkan ke kebun binatang! Karena "sampah" itu aku harus bolak balik naik turun tangga"
Hayat mengomel sepanjang perjalanan masuk ke halaman rumahnya.
"Cobalah untuk hanya memikirkan uang nya saja" nasehat Ipek
"Ck! Aku tidak akan mengambil uang ku. Ibu sudah kembali ke kampung, aku akan mencari pekerjaan lain saja"
"Kamu tidak akan menemukan pekerjaan lain" ujar Ipek
"Ya ampun. Tidak bisa kah kau berkata yang baik? Aku akan menemukan pekerjaan lain. Nama ku Hayat Uzun. Aku akan menemukan pekerjaan lain dan "mengguncang" Murat Sarsilmaz" (nama Sarsilmaz berarti tak tergoyahkan). Ucap Hayat berapi-api.
"Semangat, Hayat! " seru Ipek "Ayo kita masuk Hayat"
Mereka berdua masuk kedalam rumah dan mendengar seseorang berada didapur. Mereka mencium aroma masakan yang lezat.
"Apakah Asli pulang cepat? " tanya Hayat
"Entahlah"
Saat masuk ke dapur, Hayat dan Asli terdiam dan tercengang menemukan Nyonya Emine sedang menata meja makan.
"Selamat datang" sapa nya.
"Ibu? Bukankah Ibu sudah pulang tadi pagi?
"Ayahmu menyuruh Ibu untuk tetap disini. Dia bilang, dengan mulut tajam mu, tidak akan ada orang yang akan betah mempekerjakan nya. Tinggallah disana dan tunggu. Tidak tahu dia akan dipecat atau dia akan berhenti di hari berikutnya. Kalau itu terjadi, bawa dia pulang segera. Begitu kata ayah mu"
Hayat tidak percaya mendengarnya. Dia berpaling menatap Ipek dan hanya dibalas dengan senyuman olehnya.
&&&&
Si kediaman Sarsilmaz, Nyonya Azime keluar dari dalam rumah sambil membawa secangkir teh dan melihat anaknya, Tuan Nejat, sedang bermain bola basket dengan Doruk. Dia pun tersenyum dan berlalu.
Pertandingan ayah dan anak itu rupanya dimenangkan oleh Doruk. Karena walau bagaimana pun tubuh tua Tuan Nejat sudah tidak lincah lagi.
Dari jendela lantai dua, Nyonya Derya memperhatikan mereka berdua.
"Kasihani aku, anak ku. Aku hanyalah seorang pria tua" ujar Tuan Nejat yang kelelahan menghadapi kegesitan anaknya.
"Anda bisa melakukannya seperti kami, Nejat Sarsilmaz. Kami tidak akan mengalah dan mengasihani siapa pun"
"Wah! Wah! Wah! Kalimat yang bagus. Darimana kau belajar kalimat itu? "
"Di Hababam Sinifi" (film klasik Turki di tahun 70 an)
Doruk melemparkan bola pada ayahnya.
Tuan Nejat tertawa dan berkata,
"Film itu semua tentang kamu. Pembuat onar, keberuntungan iblis, bolos kerja, semua ada dalam film itu"
Tuan Nejat langsung melemparkan bola kedalam keranjang. Namun tidak masuk. Dan bola itu menggelinding ke kaki Murat yang baru saja tiba. Dan langsung bergabung.
"Siapa yang menang? Aku akan memutuskan berada dipihak yang mana berdasarkan hal itu" dia lantas melepaskan jaketnya.
"Mari, anakku. Saudara mu ini telah mengalahkan aku"
"Tapi Ayah.. Meski bersama Kakak, hasilnya tidak akan berubah. Meski kalian berdua, aku akan mengalahkan kalian"
"Jangan lupa Doruk. Siapa yang tertawa di akhir dia yang terbaik"
KAMU SEDANG MEMBACA
Katakan I Love You
RomanceHayat seorang gadis desa yang telah menyelesaikan kuliahnya di Istanbul, dipaksa pulang ke kampung halaman karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Dalam ke-putusasa-an, dia mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan tekstil terkenal. Namun pekerjaa...
