His Life...?

1.1K 142 39
                                    

Tetsuya memiringkan kepalanya bingung melihat universitas bergengsi yang ada di depannya sekarang. Dia bisa mengingat apa yang dikatakan oleh orangtua asuhnya, ekhem orangtua asuh Keith Wilson, beberapa jam yang lalu saat Seijuro membawanya ke kediaman Chamber sebelum mengantarnya. Keith Wilson sangat mencintai fotografi dan pintar, jadi seharusnya tidak susah mengejar ketertinggalannya. Meskipun dia tidak bodoh, tapi dia tidak pernah memegang kamera selain kamera ponsel.

"Semakin dilihat maka aku semakin sadar perbedaan derajat kami," katanya dengan wajah lucu nan manis.

"Semakin dilihat maka aku semakin sadar perbedaan derajat kami," katanya dengan wajah lucu nan manis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Abaikan bekas telapak tangannya sendiri di pipinya. Itu kecelakaan karena dia terlalu keras menampar pipinya sendiri untuk membunuh nyamuk. Sungguh. Kulit Keith Wilson benar-benar mudah memar.

"Aku akan menjemputmu nanti. Setelah itu kau harus ikut denganku," suara Seijuro membuyarkan imajinasi Tetsuya.

Tetsuya tidak menjawab apa pun dan berbalik melangkah masuk ke universitas. Dia mengelus tengkuknya. Sekarang dia tahu alasan kenapa di mimpinya, tubuh Keith Wilson terlihat dipenuhi memar. Lebih tepatnya tanda kepemilikan.

"Woah, kau kembali lagi ke sini? Kau punya nyali Wilson!" Tetsuya melirik tangan yang merangkul pundaknya.

"Huh? Siapa kau?" tanya Tetsuya datar.

"Hah? Oh! Ternyata rumor itu benar. Kau benar-benar amnesia huh?" tawa lelaki berparas preman itu.

Tetsuya berdeham kecil.

"Singkirkan tanganmu," kata Tetsuya.

"Dan jika aku menolak?" tantang lelaki itu.

Tetsuya tersenyum manis. Tangannya menyentuh tangan lelaki itu kemudian tanpa aba-aba, dia memelintir tangan lelaki itu di belakang tubuh lelaki itu. Lelaki pirang bermata kecoklatan itu terkejut ketika tangannya dikunci di belakang tubuhnya. Dia menggeram marah ketika tubuhnya didorong kuat oleh Tetsuya.

"Sudahlah. Aku tidak punya waktu bermain-main dengan penindas sepertimu," Tetsuya lalu menendang bagian belakang lutut lelaki itu dengan lututnya.

Lelaki itu jatuh berlutut dan terdiam di tempatnya merasakan aura berbeda dari orang yang selama ini ia tindas. Tetsuya meniup-niup rambutnya gemas. Dia juga baru sadar jika wajah anak ini sangat manis ketika melihat dirinya di cermin tadi. Bagaimana bisa ada yang membenci anak semanis ini? gumam Tetsuya dalam hati. Sejujurnya, tubuh Keith Wilson benar-benar mengingatkannya pada Tio Hensler.

"Oi oi, kau tidak berpikir karena kau amnesia maka kau bisa mengalahkan kami kan?" rangkulan lain mendarat di bahu Tetsuya.

Tetsuya bisa merasakan perempatan merah imajiner muncul di pelipisnya. Benar-benar menyebalkan! Bagaimana bisa ada orang seperti ini di Amerika?!

"Aku tidak berpikir begitu. Siapa kau?" tanya Tetsuya sekali lagi.

"Sebenarnya agak menyebalkan kau melupakanku. Hubungan kita cukup dekat loh," kata lelaki itu dengan senyuman mengejeknya.

Living Second Chance |AkaKuro|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang